Kemanunggalan TNI-Rakyat Jangan Sekadar Jargon

0
271
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjant

Babinsa sebagai ujung tombak harus mendapat pembekalan sesuai dengan kondisi demografi masyarakat.

Benang.ID – Kemanunggalan TNI dengan rakyat tidak boleh sekedar menjadi jargon tanpa makna atau bahkan tanpa implementasi. Penguatan fungsi teritorial TNI harus mampu menerjemahkan kemanunggalan tersebut menjadi program dan kegiatan yang membumi, mendekatkan diri ke masyarakat, sehingga tercipta simbiosis mutualisme yang sempurna antara TNI dan rakyat.

Hal tersebut disampaikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto pada pembukaan Rapim TNI Tahun 2019 dengan tema “Dilandasi Profesionalisme, Loyalitas, dan Kemanunggalan dengan Rakyat, TNI Siap Melaksanakan Tugas Pokok”. Rapim TNI diikuti 277 peserta dan dilaksanakan di GOR Ahmad Yani Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (30/1/2019).

Panglima mengatakan, Babinsa sebagai ujung tombak harus mendapat pembekalan sesuai dengan kondisi demografi masyarakat. Daerah industri, perdagangan, pertanian, atau daerah nelayan berbeda karakteristik. Oleh karena itu, Babinsa harus memiliki kemampuan yang sesuai dengan daerah tersebut.

“Tugas kita untuk menyiapkan, termasuk dalam hal kontraradikalisme, deradikalisasi, dan penanaman nilai kebangsaan. Saya bangga dengan Babinsa yang kreatif dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Tetapi, sekali lagi, tugas kita untuk menyiapkan mereka,” kata Hadi.

Dikatakan, dengan rekonstruksi profesionalisme dan reafirmasi loyalitas serta reaktualisasi kemanunggalan TNI dengan rakyat, maka prajurit tidak hanya akan siap melaksanakan tugas pokok, tetapi juga tugas-tugas lain hingga tuntas dan sukses.

Menurut Marsekal Hadi Tjahjanto, tema Rapim TNI tahun 2019 sejalan dengan mengemukanya fenomena global dan disrupsi di berbagai bidang yang harus dihadapi dan diantisipasi. Meskipun saat ini TNI berada di masa damai, tetapi tidak boleh terlena karena berbagai jenis ancaman berada di sekitar.

“Ancaman itu dapat muncul tiba-tiba dan bertubi-tubi, mencuat secara eskalatif sampai pada tingkat nasional bahkan menarik perhatian global dan bercampur dengan fenomena ancaman lain. Fenomena VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) adalah gambaran yang paling tepat tentang kondisi saat ini,” ujarnya.

“TNI adalah alat negara yang memiliki tugas pokok menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI serta menghadapi segala ancaman baik dari dalam maupun dari luar.  Tugas pokok TNI sebagai garda terdepan pertahanan negara hanya dapat dicapai melalui profesionalisme dalam bidang tugas, loyalitas tegak lurus tanpa reserve dan sinkronisasi energi TNI bersama segenap rakyat dalam arti luas,” tuturnya.

Mengakhiri sambutannya, Panglima TNI berharap para peserta Rapim TNI dapat menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, untuk menyampaikan berbagai ide dan gagasan cerdas demi kemajuan TNI.

“Manfaatkan forum Rapim ini untuk menguatkan jalinan komunikasi yang harmonis, guna menyamakan persepsi dan memantapkan soliditas serta profesionalitas TNI sehingga kedepan kita akan lebih optimal lagi dalam mendukung efektivitas pencapaian tugas pokok TNI,” tutupnya.

Rapim TNI Tahun 2019 ini direncanakan berlangsung selama dua hari, yakni pada 30-31 Januari 2019 dan merupakan kelanjutan dari Rapim TNI-Polri yang sudah berlangsung pada 29 Januari lalu di Auditorium STIK-PTIK Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here