Badung, benang.id – Dengan 98 kota dan 416 kabupaten yang tersebar di 38 provinsi, Indonesia memiliki banyak sekali bangunan dan monumen ikonik yang menjadi maskot atau landmark yang popular. Landmark ini, bukan cuma menjadi identitas kota atau kabupaten bersangkutan bahkan meluas ke provinsi, ia juga tumbuh sebagai destinasi yang menarik bagi wisatawan asing maupun domestik.
Tugu Monas di Jakarta, Gedung Sate di Bandung, Borobudur di Magelang, Jam Gadang di Bukit Tinggi, Jembatan Ampera di Palembang, Tugu Khatulistiwa di Pontianak, Istana Maimun di Medan, juga Patung Yesus Memberkati di Tana Toraja, hanyalah sebagian kecil landmark di tanah air yang tenar dan wajib kunjung para wisatawan.
Nah, di sela-sela Konferensi Sawit Internasional (IPOC 2024) 6-9 November di Nusa Dua, Bali lalu, panitia penyelenggara dalam hal ini Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), mengajak para jurnalis peliput untuk mengunjungi Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana atau GWK Cultural Park, di Kabupaten Badung, Bali.
Dibangun selama 28 tahun, sejak diresmikan pada 22 September 2018 oleh Presiden Jokowi—GWK langsung merebut perhatian dunia dan menjadi landmark baru sekaligus destinasi wisata menarik Pulau Dewata. GWK setidaknya dikunjungi 3000-5000 wisatawan setiap harinya.
GWK merupakan sebuah taman wisata budaya seluas 60 hektar yang menawarkan berbagai fasilitas rekreasi, kuliner, maupun belanja dan menampilkan beragam pertunjukan seni Bali. Tujuan mengunjungi GWK Cultural Park utamanya adalah menyaksikan kemegaham patung Garuda Wisnu Kencana, yang gagah menjulang setinggi 121 meter terbuat dari tembaga dan kuningan yang menggambarkan sosok Dewa penjaga alam semesta Wisnu tengah menunggangi burung mitologi Garuda.
Secara singkat Taman Budaya GWK bisa dikatakan sebagai destinasi wisata yang sangat baik bagi wisatawan yang mencari hiburan, fotografi, sekaligus mengenal budaya Bali. Hal tersebut terwakili oleh berbagai fasilitas yang ada di area GWK Cultural Park antara lain:
Tirta Amertha: Merupakan gerbang masuk utama untuk menuju ke dalam kawasan GWK Cultural Park. Di lokasi ini terdapat miniatur patung Garuda Wisnu Kencana yang dihiasi dengan air mancur. Lokasi Tirta Amertha merupakan salah satu spot foto favorit para pengunjung sebelum masuk ke dalam kawasan. Di sebelah timur, terdapat dinding besar yang dihiasi dengan lukisan mural bergambar kisah Ramayana.
Plaza Wisnu: Merupakan titik tertinggi di dalam kawasan GWK, di sini pengunjung dapat melihat panorama sejauh mata memandang dalam empat penjuru mata angin. Disebut Plaza Wisnu karena di sini terdapat patung Dewa Wisnu setengah badan setinggi 23 meter, yang menjadi titik pusat. Plaza Wisnu juga dikelilingi oleh air mancur dan sumber mata air suci yang tidak pernah kering bahkan di musim kemarau.
Di area Plaza Wisnu ini pula terdapat Parahyangan Somaka Giri, tempat yang disucikan oleh masyarakat sekitar yang secara historis telah dipercaya sebagai air suci yang dapat menjadi berkat dengan kekuatan magis yang kuat untuk menyembuhkan bermacam penyakit.
Street Theater: Adalah titik awal sekaligus akhir kunjungan ke Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, mengingat wisatawan yang berkunjung masuk dan keluar melalui area ini. Di sini kita dapat menemukan banyak toko dan restoran. Untuk berbelanja souvenir Bali dan merchandise GWK, kita bisa mampir ke Kencana Souvenirs. Di toko ini kita juga dapat membeli produk spa Bali dan aromaterapi. Selain belanja, kita juga bisa menikmati masakan tradisional Bali maupun menu internasional di resto dan kedai yang tersedia.
Lotus Pond: Sebuah area outdoor seluas 4000 meter persegi yang cukup unik di GWK. Karena dikelilingi sejumlah pilar tebing kapur kolosal dan monumental yang menciptakan seni lansekap ruang sangat eksotis, dengan patung Garuda setinggi 18 meter di Plaza Garuda menjadi latar belakang yang megah.
Memiliki daya tampung hingga 7000 orang, Lotus Pond telah mendapatkan reputasi yang baik sebagai tempat sempurna untuk mengadakan acara besar, baik yang berskala nasional maupun internasional, seperti konser musik.
Joged Bumbung yang Mengasyikkan
Di Lotus Pond pengunjung dapat menikmati musik dan tarian Bali seperti Barong, Joged Bumbung, dan Kecak. Beruntung, saat kami tiba di area ini, pukul 16.00 sore, bersamaan dengan jadwal pertunjukan Joged Bumbung.
Joged Bumbung merupakan salah satu tarian tradisional Bali. Biasanya tari ini dipentaskan dalam acara sosial kemasyarakatan di Bali, seperti acara pernikahan, pesta musim panen, dan hari-hari raya. Joged Bumbung kemudian berkembang sebagai tari pergaulan masyarakat yang menjadi tradisi.
Dibandingkan dengan Tari Barong dan Kecak yang murni sebagai tontonan, Joged Bumbung lebih unik dan mengasyikkan bagi wisatawan karena bersifat interaktif. Keunikan tari Joged Bumbung terletak pada kelincahan gerak penari yang sangat dinamis dan penuh improvisasi sehingga lebih atraktif.
Adapun keasyikannya datang saat sang penari mulai menarik penonton laki-laki untuk diajak “ngibing” atau menari bersama di panggung, dengan terlebih dahulu mengalungkan selendang di lehernya. Momen melibatkan penonton untuk “ngibing” inilah yang menjadi daya tarik Joged Bumbung.
“Ngibing” tentu bukan hal yang sulit bagi penonton karena tarian a la Joged Bumbung tidak mensyaratkan gerakan khusus. Yang dibutuhkan cukup berani malu dan bergerak bebas mengikuti irama gamelan. Suasana pun menjadi riang gembira penuh gelak tawa karena melihat beragamnya tingkah penonton saat menari. Ada yang bergerak seadanya dan cuma cengar-cengir mungkin karena pemalu, ada pula yang mendapat tepuk tangan meriah karena piawai berjoged dan mampu mengimbangi penari aslinya. Asyik! (*)
Gora Kunjana dari Bali