Jakarta, benang.id – Sejak dibuka April 2025 dengan komitmen mendukung seniman Asia Tenggara dan mengadvokasi praktik mereka baik secara lokal maupun internasional, ara contemporary, kembali mempersembahkan pameran seni yang sayang untuk Anda lewatkan. Galeri yang terlatak di Jalan Tulodong Bawah I no 163, Kebayoran Baru, Jakarta ini, memamerkan seri terbaru Wedhar Riyadi, yang bertajuk Tabletop Diaries, mulai 16 Agustus hingga 14 September mendatang.
Dengan semangat merayakan sisi-sisi kehidupan manusia yang terabaikan dan biasa saja, yang muncul dari pengamatannya yang tenang selama isolasi pandemi, Riyadi melukis susunan benda-benda mati, menggemakan tradisi lukisan still life, tetapi benda-benda yang ia gambarkan merupakan replika tanah liat.
“Ini merupakan pameran pertama saya di Jakarta setelah yang terakhir 14 tahun yang lalu. Karya seni ini merupakan hasil observasi saya selama masa pandemi yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Karena itu karya patung instalasi dan lukisan saya ini berhubungan dengan apa yang saya lihat sehari-hari, benda-benda rumahan,” tutur Wedhar, mengawali penjelasannya kepada media, Jumat (15/8/2025).

Reproduksi ini tidak dimaksudkan untuk direplikasi; melainkan direduksi menjadi monokrom tanpa label atau karakteristik apa pun, yang memungkinkan benda-benda tersebut mengungkapkan maknanya melalui penikmatnya dengan mencerminkan prinsip spiritual bahwa makna muncul dalam keheningan dan kekosongan
Tabletop Diaries melanjutkan eksplorasi Riyadi yang berkelanjutan terhadap konteks-konteks yang saling bertentangan dalam satu komposisi tunggal, yakni alam dan buatan, di mana, dalam karya-karya sebelumnya, ia melukis potret-potret yang dihiasi unsur-unsur karakter lucu.
Secara tradisional, lukisan still-life mengungkap kefanaan eksistensi manusia melalui kefanaan objek-objek seperti buah yang digigit, bunga yang layu, dan rangkaian bunga buatan manusia. Demikian pula, dalam karya-karya Riyadi, jejak kehadiran manusia terasa pada permukaan-permukaan tanah liat yang terjepit.

Jejak sentuhan, keausan, noda, goresan, dan patina menjadi lapisan sejarah, penanda bahwa benda-benda ini pernah hidup. Tanah liat, atau dalam hal ini tanah, telah lama melambangkan penciptaan sekaligus akhir kehidupan. Kecemerlangan latar belakang dan pencahayaan yang menyilaukan menghadirkan kesan artifisial. Ketegangan antara alam dan sintetis, yang hidup berdampingan dalam satu komposisi, mengajak kita untuk mempertimbangkan apakah kita secara naluriah lebih mengutamakan alam daripada buatan manusia, atau mungkin sebaliknya.
“Mengapa saya mereplikasikan benda-benda yang ada di rumah dengan tanah liat, karena merupakan medium yang mewakili manusia. Medium yang sifatnya sensitif, juga merekam lingkungan sekitar kita, ada bekasnya, ada keausannya, dia juga lunak seperti tubuh manusia, sekaligus rentan. Selain itu, cara melukis saya pakai metode still-life jadi antara seniman dengan objeknya saling berhadapan, sehiingga ada koneksi,” jelasnya.
Dalam pameran kali ini. Wedhar menampilkan 12 karya seni patung dan lukisan yang dibuatnya sepanjang tahun 2024-2025. Selusin karya seni tersebut di selesaikan dalam waktu sekitar 3 bulan. “Proses pengerjaan jika digabungkan sekitar 3 bulan, tidak terus menerus ya, tetapi kadang terhenti karena kesibukan sebagai keluarga,” tukasnya.

Salah satu lukisan yang paling berkesan bagi Wedhar adalah The Light That Remains (2025). Karena ia memiliki kisah menarik di balik pengerjaannya baik karya seni instalasinya juga saat ia menuangkannya di dalam kanvas berukuran 150×200 cm. Dari sisi pengerjaan karya instlasinya saja sangat membutuhkan kehati-hatian, ketelitian, dan kesabaran mengingat detail-detail yang ingin ditampilkan. Karya instalasi sekaligus lukisan still-life nya, jelas Wedhar, terinspirasi dari sebuah buku.
“Karya ini pernah dipamerkan di Art & Book Festival di Jogja tahun ini juga. Waktu itu temanya tentang meninggalnya Pak Kuntowijoyo (Sastrawan dan Sejarawan –red) judulya ‘Kereta Api yang Berangkat di Pagi Hari’. Jadi tentang sebuah lokasi di Klaten, ada pabrik tebu dan jembatan. Tidak jauh di situ ada satu warung yang pemiliknya menolak meninggalkan kampung itu saat diminta pindah oleh tentara karena ia menunggu anaknya yang akan pulang dari medan perang. Sampai meninggal ia tetap di warung itu menunggu dengan membawa lentera,” ungkap Wedhar.
Baginya perang bukan soal menang dan kalah, tetapui ada nilai-nilai di dalamnya, ada memori yang penting. “Ada kisah ayah dan anak. Kisah tentang kesetiaan seorang ayah yang menunggu anaknya pulang, bagi saya ini sangat menyentuh dibanding cerita-cerita besarnya, soal perang,” imbuhnya.
Dipengaruhi Era Perubahan

Wedhar Riyadi adalah bagian dari kelompok seniman Indonesia yang karyanya sangat dipengaruhi oleh era perubahan, yang menyaksikan jatuhnya rezim Suharto, transisi menuju demokrasi, dan semakin besarnya pengaruh budaya populer terhadap hiburan lokal.
Seri terbarunya, Tabletop Diaries, menggambarkan susunan benda-benda rumah tangga yang terbuat dari tanah liat, merujuk pada lukisan still-life abad ke-16, yang sering kali mengeksplorasi tema-tema kehidupan dan perjalanan waktu, serta kaitan tanah liat atau tanah dengan asal-usul dan akhir kehidupan manusia.

Ia telah berpameran secara luas di Asia, Australia, Eropa, dan Amerika Serikat. Ia berpartisipasi dalam ARTJOG edisi ke-9, ke-10, dan ke-11 (2016, 2017, 2018) dan Triennale Seni Kontemporer Asia Pasifik ke-7 (2012).
Selain berbagai koleksi pribadi di seluruh dunia, karya-karyanya juga termasuk dalam koleksi Queensland Art Galery | Galeri Seni Modern, Australia; Galeri Nasional Victoria, Australia; Museum Seni Anne & Gordon Samstag, Australia; dan Museum Tumurun, Indonesia. (*/GK)
Foto-foto: benang.id/Gora Kunjana



