Deklarasi Istiqlal untuk Mewujudkan Peradaban Kasih, Ekologis, dan Interreligius

0
Talkshow serangkaian peluncuran buku Deklarasi Istiqlal, di KWI, Jakarta, Rabu (10/9/2025). Foto: benang.id/Gora Kunjana

Jakarta, benang.id – Guna mewujudkan perdamaian sejati di negeri Indonesia tercinta, seluruh rakyat lintas agama di dalam penyembahan kepada Tuhan Allahnya perlu melakukan pula tindakan kasih kepada sesama, dan kasih kepada alam semesta, sehingga semua mahkluk berbahagia. Itu semua harus dilakukan dengan kebijaksanaan yang mendalam, rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta), dan cinta kasih yang menjadi buah-buah yang dirasakan dalam peradaban kasih, ekologis, dan interreligius.

Demikian benang merah gagasan-gagasan dasar yang disampaikan para pembicara dalam Talk Show serangkaian Peluncuran Buku “Berjalan Bersama Hidup Rukun Bersaudara” dan “Deklarasi Istiqlal” karya Rm Aloys Budi Purnomo Pr–Sekretaris Komis HAK KWI, di Henry Soetyo Hall, KWI, Jakarta, Rabu (10/9/2025).

Ketua Komisi HAK KWI Mgr Christophorus Troi Harsono memberikan sambutan. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Talkshow yang dipandu Rm Aloys Budi Purnomo Pr ini menghadirkan Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC–Ketua KWI, KH Muhammad Abdul Qodir Lc MA– Pengasuh Ponpes Rhoudotul Sholihin Loireng Demak, Bante Dhammasubho Sri Mahathera– Tokoh Agama Buddha, Prof Philip K Widjaja– Ketua Umum Permabudhi, XS Budi Tanuwibowo– Ketua Umum Matakin, Niluh Puspasari– Sekretaris Bidang Pemberdayaan Perempuan, Pemuda, dan Perlindungan Anak, Pengurus Harian PHDI Pusat, dan Pdt Johan Kristantara– Sekretaris Eksekutif Bidang KKC PGI.

Menteri Agama Prof Nazaruddin Umar menyamaikan keynpte speech. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Hadir pula Prof Dr Nasaruddin Umar MA—Menteri Agama RI yang memberikan Keynote Speech, dan Mgr Christophorus Tri Harsono — Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) KWI yang memberikan sambutan pengantar.

Bante Dhammasubho Sri Mahathera dalam kesempatan tersebut menyampaikan sejumlah poin. Pertama, baik Paus Benedictus XVI yang pernah dijumpainya pada 20 Juni 2012 di Vatikan, dan Paus Fransiskus yang juga pernah ia jumpai awal September 2024, serta Imam Besar Al-Azhar Ahmad Ath-Thayyib ketiganya mempunyai maksud dan niat yang sama yaitu bagaimana caranya menjaga dunia.

“Kedua, kalau orang sudah berhenti berbuat jahat dan takut akan akibatnya maka dunia akan selamat oleh orang-orang yang takut berbuat jahat, malu berbuat jahat, dan takut akan akibatnya,” ujarnya.

Suasana Talkshoow. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Kata Bante Dhammasubho, orang-orang menjadi selamat bukan dengan pagar kawat berduri, tetapi dengan pagar hati. “Maka kalau orang-orang sudah tidak punya hati atau tidak hati-hati artinya sudah mati rasa jangan pernah mimpi dunia ini akan selamat,” tegasnya.

Yang ketiga, lanjut Bante, “Dunia akan selamat oleh orang-orang yang sudah tidak sibuk menyoal atau sibuk dengan dirinya yang tidak sibuk dengan urusan mulut, urusan perut, ngisore (bawah) perut, dhuwure (atas) lutut.”

Menutup pernyataannya, Bante Dhammasubho mengatakan bahwa 2600 tahun yang lampau Siddhartha Gautama sudah menyampaikan kata Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta (semoga semua mahkluk berbahagia) atau memayu hayuning bawana dalam bahasa Jawa yang artinya memperindah indahnya dunia.

XS Budi Tanuwibowo menyampaikan dua hal menyangkut masalah dehumanisasi dan kelestarian lingkungan atau yang lebih tepat kelestarian kehidupan. “Karena kalau alam serusak apapun alam itu tetap ada karena yang mati itu manusia,” jelasnya.

Para pembicara foto bersama Menag dan Komisi HAK KWI. Foto: benang.id/Gora Kunjana

Ia kemudian mengutip sepenggal ajaran,”Tekuni hidup sesuai firman, memberkati diri, banyak bahagia. Bahaya yang datang oleh ujian Tuhan dapat dihindari, tetapi bahaya yang dibuat oleh diri sendiri tidak dapat dihindari….”. Budi mengatakan, agama adalah untuk manusia bukan manusia untuk agama. Tetapi sayangnya agama ditafsirkan secara tidak seimbang .

“Kita berat memuja-muja Tuban kenapa sulit untuk mengasihi sesama manusia. Jadi agar Deklarasi Istiqlal ini bisa berjalan efektif, saya sarankan seluruh tokoh agama mengajari dan mengajak umatnya untuk seimbang dalam melakukan ajaran agama,” jelasnya.

“Ke atas patuh dan takut akan Tuhan bukan sekadar takut tapi menjalankan seluruh ajaran dan yang mendekati kemanusiaan. Mulailah berbakti kepada orang tua, keluarga, masyarakat, bangsa, keberagaman dan kemanusiaan. Ke belakang harus menghayati, menghargai nilai-nilai luhur budaya yang sudah lama terbukti ampuh. Ke kiri, agama tidak boleh menjadi penantang atau menjual teknologi tapi menjadi arah yang jelas dan landasan yang baik. Ke kanan, agama harus bicara soal kemanusiaan bukan umat dari agama itu sendiri. Bicara tentang kesejahteraan akan mustahil jika tidak ada keadilan. Ke depan, agama harus seperti burung, ‘membuat sangkar ketika mau hujan’. Dan, yang paling pokok di tengah, agama harus memberikan cinta. Cinta kepada Yang di Atas, kepada yang di bawah, kanan, kiri, depan dan belakang,” paparnya.

(Ki-ka) Mgr Christophorus Tri Harsono, Menag Prof Nazaruddin Umar, Ketua KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, dan Rm Aloys Budi Purnomo. Foto: benang.id/Gora Kunjana

KH Muhammad Abdul Qodir Lc MA menilai concern utama dari Deklarasi Istiqlal menyangkut satu semnagat yaitu tentang dehumanisasi dan krisis lingkungan. Ia mengatakan, melalui Deklarasi Istiqlal, Paus Fransiskus yang mempunyai ensiklik Laudatosi, dengan gerakan peduli lingkungan, jika ditarik ke konteks orang daeerah ada tiga isu yang berkumpul menjadi satu.

“Satu, isu dehumanisasi. Di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, ada ratusan ribu penduduk yang terancam nasibnya. Mereka tidak mendapatkan kehidupan dan tempat tinggal yang layak, generasi mudanya terancam pendidikannya, dan ternyata pemerintah lambat merespons. Kebetulan di daerah kami juga ada satu lingkungan industri besar namanya Jaga Melek. Atas dasar pertumbuhan ekonomi dan investasi daerah yang sangat luas ini membuat wilayah sekitarnya rumah-rumah penduduk tenggelam, padahal pemerintah daerah sama sekali belum menyiapkan infrastruktur yang memadai. Ini masalah dehumanisasi yang besar,” jelasnya.

Kyai Qodir menambahkan bahwa semangat kolaborasi lintas iman, saling menghormati satu sama lain menguat. “Merespons aksi demo akhir Agustus lalu para tokoh lintas agama menggelar konferensi pers mengriktik pemerintah. Itu merupakan bentuk advokasi akan dehumanisasi karena pemerintah merespons demo dengan anarkis dengan jatuhnya sejumlah korban. Ini bentuk kolaborasi, artinya di kota Semarang bahwa simpul-simpul untuk persaudaraan, simpul-simpul lintas agama ini sudah menjangkau dalam mengadvokasi banyak hal,” ujarnya.

Ia kemudian mengharapkan Kementerian Agama dengan program moderasi beragama tidak berhenti pada tataran akademi di kampus atau di instansi pemerintah. “Saya berharap Kementerian Agama mempromosikan langkah-langkah ini di pondok-pondok pesantren dan majelis taklim supaya ada perjumpaan dengan saudara-saudara kita yang berbeda. Karena sampai saat ini isu perjumpaan lintas agama di tingkat internal di kami sendiri masih suatu yang asing,” tutupnya.

Mgr Christophorus Tri Harsono, Menag Prof Nazaruddin Umar, Ketua KWI Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, dan Rm Aloys Budi Purnomo foto bersama para pembicara dan tokoh yang hadir di Peluncuran Buku Deklarasi Istiqlal, di KWI, Jakarta, Rabu (10/9/2025). Foto: benang.id/Gora Kunjana

Dalam pernyataannya, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC juga menyampaikan sejumlah poin terkait Deklarasi Istiqlal. Pertama, Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Istiqlal saat itu Prof Dr Nasauddin Umar MA serta dihadiri dan disaksikan oleh berbagai tokoh agama bukan deklarasi agama namun Deklarasi bangsa Indonesia.

“Yang kedua, Deklarasi Istiqlal ini disebut deklarasi humanis karena memperjuangkan kemanusiaan dan berorientasi kemanusiaan. Yang ketiga, deklarasi ini disebut deklarasi ekologis karena menyadarkan kita bahwa ekologi rumah kita bersama, bagaimana memelihara dan memperjuangkan serta bagaimana mengatasi bersama-sama dan gotong royong untuk kehidupan kita. Berikutnya Deklarasi Istiqlal juga merupakan deklarasi dialogis yang mengutamakan perjumpaan, maka perjumpaan-perjumpaan itulah yang menjadi aplikasi deklarasi tersebut,” papar Mgr Antonius.

Maka, tandas Mgr Antonius, “Kita ditantang untuk mewujudkan isi deklarasi itu melalui aplikasinya. Enam bulan setelah pertemuan ini saya mendengar bahwa Kementerian Agama sedang merencanakan kurikulum Cinta. Kurikulum Cinta itu sangat konkret untuk dijalankan.”

“Maka seperti disampaikan Menteri Agama tadi, makin tinggi keagamaan kita makin kita dekat dengan alam semesta. Makin tinggi kita membaca Kitab Suci kita masing-masing makin kita bersahabat dengan orang lain,” pungkasnya. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here