Bukan Hanya Energi Alternatif, Biodiesel Pilar Stabilisasi Harga Sawit dan Ketahanan Energi

0
24
Booth BPDP di gelaran IPOC 2025 di Nusa Dua, Bali. Foto: benang.id/ Gora Kunjana

Nusa Dua, benang.id — Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Eddy Abdurrahman menegaskan biodiesel memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas harga sawit, dan telah membawa Indonesia menjadi negara dengan pemanfaatan biofuel paling progresif.

“Biodiesel bukan hanya energi alternatif, tetapi pilar stabilisasi harga sawit dan ketahanan energi Indonesia,” ujar Eddy saat menjadi panelis pada diskusi panel hari pertama 21st Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2025, Kamis (13/11).

Selain Eddy, diskusi juga menghadirkan panelis Kepala Pusat Studi Sawit IPB University Prof. Budi Mulyanto. Baik Eddy maupun Prof Budi menekankan pentingnya penguatan energi dan kepastian hukum sebagai fondasi sawit nasional.

Eddy menjelaskan bahwa konsumsi biodiesel meningkat pesat dari 119 ribu kiloliter pada 2009 menjadi lebih dari 15,6 juta kiloliter pada 2025. Lonjakan ini terjadi seiring implementasi B10 hingga B35 dan persiapan B40 nasional. Program tersebut menyerap sebagian besar CPO untuk kebutuhan domestik.

Astra Agro
Tandan buah segar (TBS) sawit. Foto ilustrasi: benang.id/Gora Kunjana

Eddy memaparkan bahwa kebijakan biodiesel menjaga harga TBS pada kisaran Rp1.344–Rp2.932 per kg selama 2014–2024. Kebijakan ini menopang pendapatan lebih dari 2,5 juta petani sawit. Ia menegaskan bahwa stabilitas harga merupakan penopang utama kesejahteraan pekebun.

Ia juga menjelaskan dampak besar biodiesel terhadap ketahanan energi. Pada 2014, impor solar mencapai 86 persen kebutuhan nasional, namun turun menjadi sekitar 37 persen pada 2024. Penghematan devisa meningkat dari Rp12 triliun pada 2017 menjadi proyeksi Rp147 triliun pada 2025.

Menurut Eddy, program biodiesel juga memperluas penciptaan lapangan kerja. Dari 323 ribu pekerja pada 2017, angkanya naik menjadi hampir dua juta pekerja pada 2025. Ia menyebut sektor ini sebagai penggerak ekonomi nasional.

Eddy juga menyoroti beberapa tantangan utama. Tantangan itu mencakup kesiapan teknis, logistik wilayah timur, serta tekanan fiskal ketika harga CPO lebih tinggi dari solar fosil. Ia menekankan perlunya fleksibilitas pungutan, diversifikasi bahan baku, dan penguatan sertifikasi ISPO dan RSPO.

Ia menutup paparannya dengan pesan mengenai peran biodiesel dalam diplomasi global. “Program biodiesel adalah bukti bahwa energi hijau dan kesejahteraan petani dapat berjalan beriringan. BPDP berkomitmen menjaga keberlanjutan program ini untuk masa depan energi Indonesia,” ujar Eddy. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here