Pagi itu, di tengah ratusan peziarah yang datang silih berganti dalam suasana tenang di dalam Basilika St Paulus di Luar Tembok, seorang wanita paruh baya duduk di sebuah kursi. Ia tampak berdoa dengan khusyuknya. Mata terpejam, kepala tertunduk, ia bergeming, diam tak bergerak terus memanjatkan doa. Tak sedikit pun, ia terpengaruh dengan pergerakan peziarah lainnya, yang lalu lalang di depannya, termasuk kondisi kursi di kiri-kanannya yang sudah berulang kali berganti orang.
Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh wanita bernama Endang Sulistiyanti ini, saat berziarah ke tiga basilika utama lainnya di Kota Roma; Basilika Santo Yohanes Lateran, Basilika Santa Maria Maggiore, dan Basilika Santo Petrus. Ibu Endang, demikian ia akrab disapa, merupakan mitra Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). yang tengah melakukan kunjungan ke Vatikan, 22-28 November 2025.

Kunjungan Delegasi PWKI ke Vatikan memiliki sejumlah agenda antara lain, menemui Dubes RI untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono terkait proses pembuatan buku 75 Tahun Hubungan Diplomatik RI dan Takhta Suci, update perkembangan kerja sama dengan Vatican News, bertemu dengan Dikasteri (Kementerian) Dialog Antarumat Beragama Takhta Suci, dan mengikuti audiensi umum dengan Paus Leo XIV, serta bertemu dengan para romo dan suster yang berkarya di Italia, yang tergabung dalam IRRIKA (Ikatan Rohaniwan/Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi Roma-Italia).
Nah, di sela-sela agenda padat tersebut, rombongan Delegasi PWKI berjumlah 9 orang yang dipimpin Ketua Delegasi yang juga Penasihat PWKI CF Mayong Suryo Laksono, dan Penasihat sekaligus Pendiri PWKI AM Putut Prabantoro ini, juga menyempatkan berziarah Porta Sancta karena bertepatan dengan Tahun Yubileum Pengharapan 2025.


Dalam ziarah ke Basilika St Paulus di Luar Tembok, Basilika St Yohanes Lateran, dan Basilika Santa Maria Maggiore, PWKI didampingi Sr Yunita OCarm, sebagai tour leader. Sedangkan ziarah ke Basilika St Petrus, PWKI didampingi Rm Agustinus Keluli Manuk OCD, pastor asal Lembata, NTT, yang 10 tahun terakhir berkarya di Italia.
Dibanding anggota rombongan lainnya, Ibu Endang memang paling khusyuk berdoa dengan durasi relatif lama. ”Banyak titipan doa yang harus saya ungkapkan, selain permohonan saya sendiri,” ujarnya, saat ditanya anggota delegasi PWKI, Bernadet K Setiarini.


“Bagaimana perasaannya Bu Endang setelah semua doa disampaikan,” tanya Catharina Ratna E Astuti, anggota delegasi PWKI lainnya. Bu Endang pun menjawab singkat, ”Lega, plong rasanya.”
Empat Hati Berdenyut dalam Kisah Rohani Besar

Dikutip dari Catholic Pilgrim, di seluruh dunia, ada 1.800-an basilika. Namun hanya empat basilika yang utama dan semuanya ada di Roma, Italia. Empat basilika ini bukan sekadar bangunan tetapi empat hati yang berdenyut dalam satu kisah rohani besar. Mengapa di Roma? Karena empat basilika ini terikat oleh satu kisah besar. Kisah yang membentuk gereja sejak awal.
Pertama, Basilika Santo Petrus di Vatikan yang berdiri di atas makam sang rasul yang menyerahkan hidupnya demi iman. Kedua, Basilika Santo Paulus di Luar Tembok, yang berdiri sunyi di atas makam sahabatnya yang juga wafat demi kabar baik. Rasul Petrus dan Rasul Paulus merupakan tonggak gereja Katolik. Keduanya menyerahkan nyawa di Kota Roma. Gereja Katolik berdiri di atas batu karang Santo Petrus. Dan, gereja Katolik mewartakan kabar sukacita kepada para bangsa di atas dasar Santo Paulus.

Ketiga, Basilika Santo Yohanes Lateran yang merupakan takhta resmi paus, tempat gereja dipimpin dan diarahkan selama dua millenium, dan semua itu di bawah naungan seorang ibu, Bunda Maria, yang kehadirannya diabadikan di dalam Basilika Santa Maria Maggiore, seperti halnya dalam kisah turunnya Roh Kudus atas para rasul. Bunda Maria selalu mendampingi kita anak-anaknya.
Empat basilika, empat kisah tetapi hanya satu cerita yang mengikat semuanya, gereja yang lahir dari para rasul, dipimpin oleh paus sebagai penerus garis apostolik, dan garis patrin, dan dijaga dan dilindungi oleh seorang ibu. Itulah sebabnya hanya di Kota Roma, pusat iman katolik benar-benar berdetak.
Kasih Tuhan, Pengampunan, dan Rahmat Istimewa

Pada dasarnya, umat Katolik merasa lega setelah berziarah Porta Sancta di Roma karena mendapat pengalaman mendalam berupa rasa syukur, rasa damai, dan diperbaharui imannya. Peziarah merasakan kasih Tuhan yang nyata, pengampunan dosa, dan rahmat istimewa melalui Pintu Suci yang melambangkan jalan menuju kekudusan, ibarat “perjalanan pulang ke hati-Nya” dengan hati yang diperbarui.
Melewati Porta Sancta (Pintu Suci) memberikan kesempatan istimewa kepada peziarah untuk menerima rahmat Allah dan pengampunan dosa, yang membawa kelegaan spiritual yang besar. Ziarah Porta Sancta membangkitkan semangat baru, membuat peserta merasa lebih dekat dengan Tuhan, dan memperbarui komitmen hidup iman, seperti berjalan bersama Kristus.

Selanjutnya, ziarah Porta Sancta memberikan perasaaan spiritual seperti “pulang ke hati-Nya,” melepaskan beban dan menemukan kedamaian batin yang mendalam.
Peziarah percaya bahwa Pintu Suci melambangkan Kristus sebagai Pintu, sehingga melewatinya merupakan simbol peziarah telah masuk ke dalam kasih karunia dan kehidupan kekal, yang memberikan rasa aman dan lega.

Dengan dilakukan secara bersama-sama, ziarah Porta Sancta menciptakan rasa persaudaraan dan dukungan iman yang memperkuat perasaan positif, merasakan kasih Tuhan secara nyata. “Lega, dan plong. Saya merasa dicintai, diampuni, dan dibaharui dalam iman saat melintasi Pintu Suci di empat basilika itu,” ujar Ibu Endang.

Tahun Suci Luar Biasa 2033

Bagi umat Katolik, tahun Yubileum memiliki makna spiritual. Tahun Yubileum pada tahun 2025 dimulai dari 24 Desember 2024 hingga 6 Januari 2026. Di tahun Yubileum, umat Katolik melakukan ziarah melewati Pintu Suci atau sering disebut sebagai Porta Sancta ataupun Holy Door.
Perjalanan melewati Porta Sancta ini merupakan sebuah tindakan simbolik yang memiliki makna pertobatan dan rekonsiliasi manusia terkait hubungannya dengan Sang Pencipta serta pembaharuan iman. Kota Roma, tempat negara Vatikan yang menjadi pusat agama Katolik Roma berada, jadi tujuan utama para peziarah Porta Sancta di tahun Yubileum.

Ditandai dengan pembukaan Pintu Suci di Vatikan oleh Paus Fransiskus, pada malam Natal, Selasa, 24 Desember 2024, Tahun Yubileum yang berlangsung sepanjang tahun 2025, telah berakhir pada Selasa, 6 Januari 2026, saat Paus Leo XIV menutup Pintu Suci Basilika Santo Petrus di Vatikan.

Dalam upacara yang khidmat dan singkat, Paus Leo XIV mengakhiri Tahun Yubileum Pengharapan 2025 dengan menutup Porta Sancta Basilika St Petrus, Vatikan, Selasa (6/1/2026), pukul 10.00 waktu Roma. Lalu dilanjutkan dengan Misa Epifani (Penampakan Tuhan), yang diikuti 5.800 umat, termasuk Korps Diplomatik yang terakreditasi di Takhta Suci, Vatikan.
Sementara perayaan Yubileum di tingkat keuskupan telah lebih dulu ditutup pada 28 Desember 2025, prosesi penutupan di empat basilika utama Roma dilakukan secara bertahap mulai Hari Natal. Pada 25 Desember 2025, Kardinal Rolandas Makrickas, Kepala Basilika Santa Maria Maggiore, memimpin upacara penutupan Pintu Suci di basilika tersebut sebelum perayaan Misa khusus.

Dua hari kemudian, 27 Desember, langkah serupa dilakukan Kardinal Baldassare Reina di Basilika Santo Yohanes Lateran. Sedangkan pada 28 Desember 2025, Kardinal James M. Harvey memimpin penutupan Pintu Suci di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok.
Tahun Yubileum merupakan tahun suci rahmat dan ziarah khusus dalam Gereja Katolik. Perayaan ini diadakan setiap 25 tahun sekali. Namun Paus dapat mengadakan tahun Yubileum luar biasa, seperti pada Tahun Iman 2013 dan Tahun Kerahiman 2016. Begitu pun Paus Leo XIV telah menetapkan bahwa Tahun Suci luar biasa akan digelar pada 2033 untuk memperingati 2.000 tahun wafat dan kebangkitan Yesus. (*)



