Tahbiskan Diakon OCD, Mgr Rubiyatmoko: Melayani Harus Didasarkan pada Kekuatan Doa

0
51
Foto bersama usai acara Syukuran pentahbisan Diakon OCD

Sleman, Yogyakarta, benang.id – Sore itu hujan deras mengguyur biara OCD Indonesia di Gadingan, Sleman, Yogyakarta. Meski demikian, cuaca yang tak bersahabat itu tidak menghalangi ratusan undangan datang ke biara ini. Mereka terdiri dari umat Katolik setempat, para mitra OCD, masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) di Yogyakarta dan puluhan suster dari berbagai kongregasi.

OCD Indonesia memang sedang ada hajatan. Yakni, syukuran atas tertahbiskan empat diakon ordo ini oleh Uskup Agung Semarang, Mgr Robertus Rubiyatmoko. Tahbisan Diakon – satu tahap menjelang pentahbisan sebagai imam dilaksanakan di Kapel Seminari Tinggi St Paulus Kentungan, Senin (26/1/2026). Mereka yang tertahbiskan menjadi Diakon adalah
Fr Yanuarius Mere OCD, Fr Silvester Deu OCD, Fr Ferdianus Son OCD, dan Fr Fortunatus Nikolaus Laku OCD.

Biara OCD Indonesia di Yogyakarta mengadakan acara syukuran sekaligus memohon doa restu agar perjalanan menuju imamat bagi keempat Diakon lancar, tanpa hambatan. OCD merupakan Ordo Karmel kuno untuk kembali ke semangat awal yang lebih ketat.

Mereka yang tertahbiskan menjadi Diakon adalah Fr Yanuarius Mere OCD, Fr Silvester Deu OCD, Fr Ferdianus Son OCD, dan Fr Fortunatus Nikolaus Laku OCD.

Dalam homilinya, Mgr Robertus Rubiyatmoko menegaskan bahwa hari itu adalah hari penuh syukur dan Gereja Katolik bersukacita karena Tuhan kembali memanggil, memilih, dan mengutus para pelayan-Nya. Dalam tahbisan diakon tersebut, tidak sedang dirayakan keberhasilan pribadi, bukan pula sebuah pencapaian akademik atau tahapan karier. Yang dirayakan adalah kesetiaan Allah yang terus bekerja di dalam Gereja-Nya.

“Para frater yang hari ini akan ditahbiskan menjadi diakon. Panggilan ini bukan lahir dari kehebatan pribadi, melainkan dari kasih Allah yang terlebih dahulu memanggil. Maka yang terutama bukanlah apa yang akan kalian lakukan, tetapi siapa yang kalian wakili: Kristus Sang Hamba. Menjadi diakon berarti bersedia berkata setiap hari – Aku diutus, bukan untuk diriku sendiri, tetapi untuk Gereja dan umat,” tegas Mgr Rubiyatmoko.

Mgr Rubiyatmoko menguraikan lebih lanjut, Diakon bukanlah Jabatan, Diakon adalah Sikap Hidup. Kata diakonia berarti pelayanan. Maka diakon bukan pertama-tama soal fungsi liturgis, tetapi sikap batin untuk siap sedia melayani sabda, altar, kaum kecil, lemah, dan tersingkir. Oleh karena itu, Uskup Agung Semarang itu mengingatkan para tertahbis bahwa pelayanan sejati tidak lahir dari kewenangan, tetapi dari kerendahan hati.

Backdrop acara Syukuran Tahbisan Diakon OCD

Sebagai akibatnya, bila suatu hari para tertahbis merasa lebih penting, lebih tahu, atau lebih berkuasa dari umat yang dilayani, di situlah panggilan diakonal mulai kehilangan rohnya. Pelayanan menuntut banyak hal: waktu, tenaga, pikiran dan, bahkan perasaan.

“Pelayanan mendasarkan diri pada kekuatan doa. Oleh karena itu, khusus kepada para diakon yang baru saja ditahbiskan, saya ingatkan tanpa kehidupan doa yang mendalam, pelayanan akan menjadi kering dan melelahkan. Doa bukan pelengkap, melainkan napas hidup pelayanan. Hubungan pribadi dengan Kristus harus menjadi sumber daya rohani yang terus-menerus diperbarui,“ tegas Mgr Rubiyatmoko.

Di akhir homilinya, Mgr Rubiyatmoko memberikan resep ampuh dalam pelayanan yakni kesetiaan dalam perkara kecil. Tahbisan hari itu merupakan langkah penting menuju imamat. Namun para tertahbis diminta untuk tidak terburu-buru memikirkan yang besar dan megah.

Foto bersama usai acara Syukuran Tahbisan Diakon di Biara OCD Indonesia di Gadingan, Sleman, Yogyakarta.

Kesetiaan dalam hal-hal kecil justru menjadi sekolah terbaik bagi seorang pelayan Tuhan. Kesetiaan dimulai dari doa harian, tugas sederhana, mendengarkan umat, hidup dalam kesunyian dan ketekunan. Dan kekuatan itu tidak lepas dari peran dan teladan Maria, sebagai Bunda Gereja.

Sementara itu, dalam perayaan syukur pada sore hari itu, Rm Irminus Liko OCD, anggota Dewan Komisariat OCD Indonesia menegaskan ditahbiskan menjadi diakon tidak mengubah karakter apapun. Seorang frater diakon tetap saja seseorang dengan kelemahan dan kelebihannya. Tidak berubah, dan tidak perlu diubah.

“Jika menjadi diakon, kemudian cara berjalannya berbeda, atau cara bicaranya berbeda, itu perlu dipertanyakan. Menjadi diakon itu tidak mengubah perilakunya sebagai manusia dengan segala kekuatan dan kelemahan, kekurangan ataupun kelebihannya. Ia sama saja,“ tegas Rm Irminus Liko OCD. (*/GK)

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here