Diskusi JKJT untuk Rekonstruksi Mental dan Pola Pikir di Era Teknologi Tinggi Berbasis AI

0
109
“Ngobrol Santai bertema Merekonstruksi Mental dan Pola Pikir” bersama Dr Didik Mukti Yanto - Pemerhati Keamanan Nasional, Kebencanaan dan Kemanusiaan; Johanes Rasul Heksa Galuh Wicaksono - Ahli Bidang Keteknik Industrian; Djoko Pramono, dan Hendricus Arfianto Maatita ST, dengan moderator Ketua Umum JKJT Agustinus Tedja Bawana, di Cafe Khopens Djirow - Jl Blitar No 12, Malang, Kamis (5/2/2026).

Malang, benang.id – Sejak awal perjalanan hidup, manusia dibentuk oleh pola yang relatif seragam: memperhatikan, mendengar, mengerjakan soal, menghafal, lalu diuji berulang kali selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, hasil dari proses belajar manual itu mengarahkan seseorang pada dunia kerja, memperoleh penghasilan, memenuhi kebutuhan hidup, berpasangan, membangun keluarga, membesarkan anak, hingga hadirnya generasi cucu. Siklus ini terus bergulir, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sepanjang perjalanan tersebut, perilaku baik dan buruk kerap muncul bukan semata karena nilai moral, melainkan sering kali demi kenyamanan dan ambisi pribadi.

Dalam realitas sosial, ambisi juga menjelma dalam bentuk yang lebih kompleks—termasuk pada birokrasi dan struktur kekuasaan—yang terkadang berubah menjadi keserakahan terselubung. Ia dapat tampil rapi seolah pencapaian, namun menyimpan potensi kejahatan struktural yang sulit dikenali. Di era globalisasi, arah rotasi kehidupan menjadi semakin rumit. Kemudahan teknologi menghadirkan percepatan pencapaian, namun tidak selalu diiringi makna yang sepadan. Target dan nilai (value) dikejar tanpa keseimbangan, menghasilkan capaian yang dingin, mekanis, dan kerap hampa secara esensial.

Kemunculan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dalam lima tahun ke depan akan mempercepat perubahan ini di hampir seluruh lini kehidupan. Kemudahan berpikir instan berpotensi melumpuhkan daya kritis, mereduksi penghargaan terhadap proses, serta menurunkan sensitivitas terhadap kualitas pemahaman. Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: apakah kemudahan adalah kemajuan, atau justru jebakan yang membuat manusia kehilangan ketajaman nalar dan kedalaman makna?

Narasi pengantyar diskusi

Demikian pengantar diskusi acara “Ngobrol Santai: Merekonstruksi Mental dan Pola Pikir” yang digelar oleh Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT), di Cafe Khopens Djirow, Jl Blitar No 12, Malang Kamis (5/2/2026).

Diskusi pada sesi I ini, menghadirkan pembicara Dr Didik Mukti Yanto — Pemerhati Keamanan Nasional, Kebencanaan dan Kemanusiaan; Johanes Rasul Heksa Galuh Wicaksono — Ahli Bidang Keteknik Industrian; Djoko Pramono, dan Hendricus Arfianto Maatita ST.

“Diskusi tentang rekonstruksi mental dan pola pikir menjadi penting bukan untuk melemahkan manusia di tengah arus teknologi, melainkan untuk memperkuat kesadaran kreatif dan kepekaan intelektual,” ujar Ketua Umum JKJT Agustinus Tedja GK Bawana, selaku tuan rumah yang bertindak sebagai moderator.

Ketua Umum JKJT Agustinus Tedja GK Bawana, selaku tuan rumah yang bertindak sebagai moderator.

Dalam diskusi yang berjalan santai namun serius ini, terungkap bahwa rekonstruksi menuntut keberanian untuk menilai ulang kebiasaan lama, menyaring pengaruh baru, serta menempatkan teknologi sebagai alat—bukan sebagai penentu nilai kemanusiaan. Kecerdasan tidak lagi cukup diukur dari kecepatan memperoleh jawaban, tetapi dari kemampuan mempertanyakan, menafsirkan, dan menciptakan makna.

Terungkap pula bahwa kepekaan melihat celah peluang harus berjalan beriringan dengan ketajaman berpikir di atas rata-rata, yang tetap menghargai kreativitas di tengah berbagai kemungkinan manipulasi informasi dan ilusi pencapaian. Rekonsiliasi terhadap kekakuan pola pikir perlu dimaknai sebagai proses membangun ulang cara pandang yang lebih lentur, reflektif, dan berorientasi pada esensi, bukan sekadar hasil instan.

“Ngobrol Santai bertema Merekonstruksi Mental dan Pola Pikir” di Cafe Khopens Djirow – Jl Blitar No 12, Malang, Kamis (5/2/2026).

Pada saat yang sama, penyederhanaan birokrasi dan pengelolaan waktu menjadi kebutuhan strategis agar manusia tidak terjebak dalam kerumitan sistem yang menguras energi mental. Pola pikir perlu dibentengi dari himpitan ketidaktahuan di satu sisi dan pemahaman setengah hati di sisi lain—terutama ketika angka, data, dan statistik kerap dijadikan satu-satunya dasar kesimpulan perubahan.

“Dengan demikian, rekonstruksi mental di era AI bukanlah upaya melawan teknologi, melainkan usaha menempatkan kembali manusia sebagai pusat kesadaran, nilai, dan makna. Teknologi boleh mempercepat langkah, tetapi manusialah yang menentukan arah. Diskusi ini menjadi ruang untuk menajamkan kembali pertanyaan: apakah kita sedang berkembang sebagai manusia, atau sekadar bergerak lebih cepat tanpa memahami tujuan,” ujar Agustinus Tedja.

Untuk mendengarkan jalannya diskusi secara utuh simak di sini: https://www.youtube.com/watch?v=1WQ7HTjPWA0

Pandangan para pembicara

Dr Didik Mukti Yanto — Pemerhati Keamanan Nasional, Kebencanaan dan Kemanusiaan

Dr Didik Mukti Yanto — Pemerhati Keamanan Nasional, Kebencanaan dan Kemanusiaan
berpendapat, benteng ketahanan bangsa bukan dengan menyingkirkan atau menghindari algoritma dan high-tech, melainkan menempatkannya sebagai opsi yang tidak menghilangkan rasa dan konsekuensi atas kemudahan. “Dibutuhkan regulasi yang berani, tegas, dan adaptif terhadap perkembangan cerdas, agar teknologi tidak menjadi tuan atas manusia, melainkan alat yang terkendali,” katanya.

Ia pun menekankan permasalahan ketahanan individu terhadap adanya perubahan teknologi khusunya AI dimana negara memang butuh regulasi yang mencakup dari semua lini yaitu anak-anak sampai orang dewasa.

Dari kacamata hati seorang periset Djoko Pramono, muncul penegasan akan pentingnya mengembalikan ajaran budi pekerti sebagai penyeimbang pola pikir. Menurutnya, dunia pendidikan perlu melek terhadap kurikulum yang menekankan kreativitas aktif dan sinergi otak kanan-kiri, tidak terjebak pada kebenaran pragmatis semata, tetapi memberi ruang pembelajaran aktif yang hidup dan terdukung.

Djoko Pramono

“Pendidikan dan pembentukan karakter yang berimbang adalah kunci pertahanan keamanan sesungguhnya karena dapat mendorong kapasitas bijak dalam mengelola informasi serta ketajaman analisis agar setiap pribadi mampu memilah prioritas,” jelasnya.

Lebih jauh dikemukakannya, perbedaan generasi—dari generasi awal hingga Gen Z—bukanlah masalah, melainkan konstruksi yang saling melengkapi dalam menerjemahkan AI dan kemajuan teknologi yang tak mungkin dibendung.

Ia menegaskan permasalahan penurunan keahlian manusia, dimana manusia mengalami penurunan potensi akibat adanya teknologi yang instan dan mudah, sehingga memiliki mental dan pola pikir cepat dan tidak menghargai proses. “Sehingga Indonesia membutuhkan suatu program pola pikir yang dapat mengembalikan kembali kreatifitas dan bekerja dalam suatu kerangka yang runtut,” ucapnya.

Johanes Rasul Heksa Galuh Wicaksono — Ahli Bidang Keteknik Industrian

Johanes Rasul Heksa Galuh Wicaksono — Ahli Bidang Keteknik Industrian, menajamkan satu kebijakan yang tegas. “Perlunya pembatasan penggunaan gawai pada anak usia dini hingga usia emosi relatif stabil, sekitar 13–14 tahun,” tandasnya.

Menurutnya, penting pula pemahaman model pembelajaran yang terklaster rapi, dari sekolah dasar hingga akademisi, dengan framing pencapaian yang jelas. Proses dan metode harus saling berkorelasi, memberi ruang kebebasan kreatif—bahkan keberanian “ngawur” yang terarah—agar lahir para penemu yang dikuatkan oleh logika dan daya imajinasi.

“Menurunnya nilai moral dan pemikiran anak bangsa, dimana pola pikir yang ada sekarang tidak mencerminkan produk yang dihasilkan dari suatu sistem pendidikan yang baik, sehingga dibutuhkan tujuan atau kriteria pendidikan untuk di setiap jenjang pendidikan dari TK sampai SMA,” katanya.

Hendricus Arfianto Maatita ST

Di belantara luas fungsi AI, Hendricus Arfianto Maatita ST mengingatkan bahwa mengikuti perkembangan adalah penting, namun bukan satu-satunya yang utama. AI adalah pelengkap, bukan pengganti kebijaksanaan manusia. Kebenaran angka dalam menyaring jutaan data bisa tampak sempurna, namun tetap relatif—tak lepas dari kemungkinan kepentingan segelintir pihak, sang arsitek metode yang tak selalu tampak.

“Kegagapan kolektif yang muncul harus segera ditata dengan pembatasan bijak, diselaraskan dengan rasa sebagai fondasi aktualitas nyata sebuah proses,” ujarnya.

Dari semua ini, lanjut Hendri, kelakar dalam proses justru menjadi penting—ia mampu mendorong rekonstruksi mental dan pola pikir. Proyek besar yang perlu diteruskan adalah membangun pribadi yang sanggup bersaing namun tetap menghargai proses, bukan sekadar kemudahan. “Regulasi yang cakap dan tegas perlu dilahirkan untuk menjaga masa depan anak-anak sebagai penerus rotasi bangsa, dengan human being sebagai keluaran utama, bukan sekadar human doing,” ujarnya. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here