
Oleh: Agustinus Tedja Bawana *)
Dalam beberapa waktu terakhir, saya mencoba melihat dari berbagai literasi untuk memahami dampak perubahan perilaku manusia secara universal. Kita hidup dalam era percepatan teknologi, penetrasi media digital, serta dominasi sistem ekonomi kapitalisme-neoliberalisme yang membentuk cara berpikir, bekerja, bahkan cara kita memaknai hidup.
Menurut kami, literasi terhadap pemikiran para filsuf dan teolog kritis menjadi sangat penting di masyarakat kontemporer—terutama bagi generasi milenial, Gen Z, dan generasi setelahnya. Kita tidak cukup hanya menguasai teknologi; kita harus mampu mengkritisinya. Pemikiran dari mazhab Frankfurt School seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan Erich Fromm sangat relevan untuk membaca bagaimana industri budaya populer membentuk kesadaran semu, mendorong konsumerisme agresif, dan menormalisasi ketimpangan sosial.
Kapitalisme global tidak hanya berbicara tentang pasar, tetapi juga tentang bagaimana manusia direduksi menjadi konsumen, angka statistik, dan objek produksi. Dari Amerika Latin, kita belajar dari Ivan Illich dan Paulo Freire, dua pemikir yang mengkritik sistem pendidikan dan institusi modern yang sering kali justru memperkuat ketergantungan. Freire melalui pedagogi kritisnya menekankan pendidikan sebagai alat pembebasan, bukan sekadar transmisi pengetahuan.
Lebih jauh lagi, gerakan Teologi Pembebasan yang dirumuskan oleh Gustavo Gutiérrez dalam bukunya A Theology of Liberation (1971) menegaskan bahwa keberpihakan kepada kaum miskin bukan sekadar wacana moral, melainkan panggilan praksis. Inti gagasannya adalah: Opsi Preferensial bagi Kaum Miskin – Allah berpihak kepada mereka yang tertindas; kemiskinan struktural adalah hasil sistem yang tidak adil. Orthopraxis lebih utama daripada Orthodoxy – tindakan nyata lebih penting daripada sekadar doktrin. Pembebasan Integral – mencakup pembebasan sosial-politik, historis, dan spiritual. Gereja sebagai tanda di dunia – institusi agama tidak boleh pasif terhadap ketidakadilan.
Bagi lini teknik industri, pemikiran-pemikiran ini perlu diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih sederhana agar mudah dipahami masyarakat luas. Teori sosial yang rumit harus bisa dijelaskan melalui contoh konkret: dari fenomena, ciri-ciri, baru masuk pada rumusan ilmunya.
Dengan pendekatan dari “hilir ke hulu”, mahasiswa dan masyarakat lebih mudah tertarik pada ilmu-ilmu praktis yang aplikatif. Sebagai orang dengan latar teknik industri, saya melihat persoalan kemiskinan juga dari sudut produktivitas dan kelayakan usaha. Misalnya, secara sederhana saya menghitung bahwa untuk hidup layak di Jawa, seseorang idealnya memiliki sekitar 2 hektar lahan produktif. Jika dikelola dengan baik, hasilnya bisa setara dengan pendapatan sekitar Rp5 juta per bulan.
Namun di lapangan, masalahnya bukan hanya produksi, melainkan akses permodalan. Sistem perbankan bekerja dengan logika bunga dan agunan. Ketika suku bunga pinjaman tinggi dan akses terbatas, pekerja kecil atau calon “juragan” tanpa jaringan akan terjepit. Broker, rentenir, bahkan lembaga keuangan mikro tertentu bisa menjadi alat tekanan baru.
Model koperasi dengan bunga rendah—misalnya 3%—lebih memberi ruang napas dibanding sistem komersial murni. Di sinilah saya melihat pentingnya gerakan koperasi sebagai instrumen perlawanan terhadap dominasi kapital besar. Upaya membentuk koperasi secara masif memang baik, tetapi tantangan terbesarnya adalah kualitas SDM, manajemen, dan solidaritas sosial.
Masalah mendasarnya adalah watak kebangsaan yang semakin individualistik. Solidaritas melemah. Juragan kampung sulit duduk bersama, stigma sosial tetap ada, dan energi habis untuk konflik horizontal. Sementara itu, kapital besar tetap tenang memutar keuntungan di atas struktur yang mapan.
Di sisi lain, tantangan generasi muda hari ini jauh lebih kompleks. Data dari UNICEF, Interpol, dan ECPAT menunjukkan tingginya penggunaan internet di kalangan remaja Indonesia, namun tidak diimbangi literasi digital yang memadai. Kasus cyberbullying, eksploitasi daring, kecanduan gawai, hingga masalah kesehatan mental meningkat.
Laporan menunjukkan hampir separuh remaja pernah mengalami perundungan daring, dan satu dari tiga remaja memiliki masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir. Namun sangat sedikit yang mencari bantuan profesional karena stigma dan kurangnya akses.Ini bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan persoalan struktur sosial, budaya, dan ekonomi yang membentuk generasi digital tanpa fondasi mental yang kuat.
Karena itu, menurut saya, agenda besar kita adalah membangun harmonisasi narasi kesadaran kolektif. Diskusi-diskusi lintas disiplin—teknik, sosial, teologi, ekonomi—harus diarahkan pada rekonstruksi mental dan pola pikir bangsa. Gerakan anti-kemiskinan harus berbasis kerja nyata. Literasi kritis harus berjalan beriringan dengan praktik ekonomi alternatif seperti koperasi. Pendidikan harus membebaskan, bukan meninabobokan. Teknologi harus dikuasai, bukan menguasai. Jika tidak, kita hanya akan menjadi pasar bagi kapital global dan penonton di negeri sendiri.
Bagi saya, peran pribadi saya sederhana: menarik persoalan dari tataran teori ke ranah aksi. Membedah permainan neo-kolonialisme ekonomi secara praktis, sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa perubahan tidak cukup dengan retorika—ia butuh kerja, solidaritas, dan keberanian berpikir kritis. Inilah kiranya setting perjuangan saya: semua berkumpul untuk membangun harmonisasi kesadaran rakyat dan bangsa, menuju rekonstruksi mental dan regulasi yang berpihak pada keadilan sosial. ***
*) Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT)



👍inspiratif …