Berawal-Berakhir, Manusia Menuju Gerbang Senyawa Eksistensi dan Konklusi Imajiner

0
Diskusi Ngobrol Santai IV Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) bertajuk “Manusia Berawal dan Berakhir” dengan tema besar “Menuju Gerbang Senyawa Eksistensi dan Konklusi Imajiner”, di Malang, Sabtu (28/2/2026). Foto: Tangkapan layar Youtube

Malang, benang.id — Proses menuju titik peralihan di mana berbagai unsur keberadaan menyatu, namun kesimpulan yang dihasilkan masih bersifat imajinatif atau konseptual. Berawal untuk berakhir, entah apakah itu hanya sebagian dari manifestasi semesta. Sulit membesakan ambisi di belantara yang jujur karena semua seperti ambigu.

“Diskusi kali ini masih di ruang konsumtif bagi yang mengerti dan peduli, namun di sisi lain sampah bagi yang tidak mengerti. Pertaruhan antara data dan imajinatif bergeser menjadi perseteruan logika di ruang eksistensi,” ujar Agustinus Tedja Bawana, Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur, sebagai moderator “Diskusi Ngobrol Santai IV JKJT, Sabtu (28/2/2026) di Malang pekan lalu.

Diskusi bertajuk “Manusia Berawal dan Berakhir” dengan tema besar “Menuju Gerbang Senyawa Eksistensi dan Konklusi Imajiner” menghadirkan nara sumber Amithya Ratnanggani Siraduhita Ssos—Ketua DPRD Kota Malang, Dr Ir George da Silva MBA Msos—Akademisi/Pengamat Sosial Politik, Dr Didik Mukti Yanto– Pemerhati Ketahanan Nasional, Kemanusiaan, dan Kebencanaan, Johanes Rasul Heksa Galuh Wicaksono ST MT—Dosen/Ahli Bidang Teknik, Hendricus Arfianto Maatita ST—AI Observer, Djoko Pramono—Researcher & Observer.

Ngobrol Santai JKJT: Reebort and Don’t Be Quiete, Sabtu 28 Februari 2026

Tedja dalam pengantar diskusi, mengambil gambaran pemikiran Aristoteles tentang eksistensi ontologis berkaitan dengan substansi (hakikat terdalam sesuatu), dan pemikiran filsafat eksistensial Jean-Paul Sartre, manusia memiliki eksistensi ontologis yang mendahului esensinya (manusia ada dulu, baru membentuk dirinya).

“Dalam pemikiran metafisika, pertanyaan seperti: Apakah Tuhan memiliki eksistensi ontologis atau hanya konseptual? Bagaimana kita memandang eksistensi teknoloi dan berbasis AI dari pandang kehidupan yang sebenarnya,” katanya menggugah.

Tedja menguraikan bahwa kemiskinan ada secara empiris karena ada data BPS. Masalah terjadi sebagai dampak dari percepatan perubahan pola kinerja manusia yang tak bisa bersaing dengan pesatnya perkembangan hightech.

“Bencana sosial dalam pengendapan pola pikir terstruktur akan ada karena terjadi dan sudah bisa diukur dampaknya. Konsep ‘radikalisme’ dalam banyak pecahan pemikiran ada dalam wacana sosial dan atas pemahaman masyarakat yang dangkal. Ancaman digital terhadap anak juga akan mewarnai dalam diskursus kebijakan,” tandasnya.

Menurutnya, dalam kebijakan publik sesuatu bisa belum besar secara empiris, tetapi sudah ada secara epistemologis karena menjadi perhatian sebagian masyarakat. Rotasi imajiner, justru akan menjadi sebuah refleksi bentuk emosional atas kekecewaan terpendam bak terkubur oleh sebuah kemudahan tak berbatas. “Haruskah kita hambat pemikiran dan usulan positif atas anak-anak kita ke depan dari dampak situasi dan perilaku eror dalam setingan global?,” ucapnya.

Agustinus Tedja Bawana– Ketua JKJT.

Ia menekankan bahwa keberpihakan seperti apa yang mahfum tanpa harus melemahkan fungsi cara berpikir otak yang wajar. Semua sangat ditentukan oleh satukata; PEMAHAMAN.

Tedja kemudian menyitir pernyataan “Teknologi seharusnya meningkatkan hidup Anda… bukan menjadi hidup Anda.” – Billy Cox. Kata Tedja, idealnya memang begitu, namun karena ketidaksiapan SDM dan regulasi. Yang terjadi adalah justru memunculkan pelemahan daya berkembang fungsi berpikir dan kreativitas otak yang terkesan ragu dengan pensikapan atas perubahan.

Berikutnya juga melihat banyak fenomena kegagalan manusia sekarang dalam menemukan batasan impact positif pada perubahan pola hidup dan menjadi empiris di kalangan anak muda yang sudah seharusnya bisa punya kesempatan adaptif dan revolusioner dalam mengemban tugas memunculkan visi yang musti kolaboratif .

Terakhir, sebagai inisiator giat diskusi tersebut, ia mengingatkan dengan Peradaban AI dan keterbukaan internet yang bakal ke depan terjadi adalah, “Semua pihak meningkatkan kualitasnya dan menurunkan harga, Karena kalau tidak begitu pasti terlibas. Ini riil ancaman robot cerdas yang di belakangnya adalah segelintir kapital gombal yang mau memiliki bumi dan dunia sendirian saja”.

Pendapat sejumlah pembicara

Dr Didik Mukti Yanto– Pemerhati Ketahanan Nasional, Kemanusiaan, dan Kebencanaan

Dr Didik Muktiyanto SKom MM (Akademi TNI), yang melihat dari sudut pandang ketahanan nasional menyarankan beberapa poin berikut:
1. Portabilitas Internet terhadap situs-situs pornografi dan Judi Online.
2. Pembatasan Penggunaan Gadget untuk anak di bawah umur, dalam hal ini usia Balita hingga 16 tahun secara berkala.

“Penggunaan Gadget perlu ditinjau dari Jenis dan peruntukannya. Untuk kepentingan edukasi di sekolah dan komunikasi antara orang tua dan anak, sebaiknya menggunakan ponsel yang tidak beraplikasi, hanya sebatas menelpon dan berkirim pesanm,” jelasnya.

3. Pembentukan tim untuk melalukan pengawasan dan evaluasi terhadap kebijakan yang di laksanakan.

“Teknologi yang cukup canggih tidak dapat dibedakan dari sihir.” – Arthur C. Clarke

Kata Didik, sebenarnya tidak juga seperti sihir, tepatnya kecerdasan teknologi mampu menerobos gate persoalan yang bersifat teknis dengan menggunakan ketepatan algoritma hingga memunculkan visualisasi yang baku sepeti hidup. Dan membersihkan kelemahan visual atas sebuh karya visual dan pemikiran.

Ia mengatakan siap tidak siap AI adalah sebuah peradaban baru dimana peran manusia di sektor profesi apapun akan digeser oleh mesin cerdas AI sampai dengan ke hal robotik pengganti manusia.

Diskusi Ngobrol Santai IV Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) bertajuk “Manusia Berawal dan Berakhir” dengan tema besar “Menuju Gerbang Senyawa Eksistensi dan Konklusi Imajiner”, di Malang, Sabtu (28/2/2026). Foto: Tangkapan layar Youtube

Ada beberapa hal menurut Didik dengan sudut pandang Orang Teknik Industri mennyikapi hal ini yang perlu dilakukan :

Pertama, Perlunya regulasi tegas dari segenap penyelenggara negara untuk mengatur hal ini. Sisi negatif AI adalah kepentingan kapital global untuk menguasai dengan efisiensi dan efektivitas bagi hidup mereka sendiri, dengan kekuatannya di pemodalan agar lebih masif menjadi penguasa tunggal.

“Ini membahayakan, potensi penduduk Indonesia yang besar akan tergeser dan menimbulkan konflik sosial. Bila ini terjadi maka jaminan sosial negara sepenuhnya harus mampu meng-cover, kalau tidak maka dipastikan negara akan bubar jalan. Karena negara gagal memakmurkan rakyatnya,” tegasnya.

Batasan penggunaan Otomasi dan robotik harus jelas pada perusahaan, bisa dengan pajak tinggi untuk cover sosial, dan pajak rendah bagi perusahaan dominan manusia.

Kedua, Negara perlu menyiapkan rangsangan sampai dengan perpajakan yang baik untuk para startup akibat adanya AI. Karena pasti akan muncul perusahaan baru yang terlihat kecil dan simpel akan tetapi memiliki potensi yang besar, semisal driver online.

Nara sumber (Atas): Amithya Ratnanggani Siraduhita Ssos—Ketua DPRD Kota Malang. (Bawah ki-ka): Hendricus Arfianto Maatita ST—AI Observer dan Djoko Pramono—Researcher & Observer.

Ketiga, Segala inovasi untuk pekerjaan manual perlu mendapat perhatian yang serius untuk menunjang ketrampilan manusia agar lebih meningkat lagi. Model Balai Latihan Kerja, sertifikasi pekerja harus mudah diakses. “Negara dan Pemda harus menyediakan fasilitas ini dengan baik, kuncinya mudah diakses, mudah didapatkan dengan biaya murah ataupun subsidi dari negara,” ujarnya.

Keempat, Bila muncul start up dari kreativitas masyarakat, pelatihan hingga legalitas standar produk perlu dilakukan dengan baik. Ini bisa dilihat produk pertanian Indonesia yang mestinya unggul banyak yang gagal menembus pasar eksport akibat standar proses produksi yang tidak tertata dengan baik, penggunaan pestisida, pakan ternak dsb.

Kelima, Dalam proses produksi maka pelatihan standar bangunan sampai produk jadi perlu disosialisasikan dengan baik di skala home industry, Karena pasti akan muncul fenomena masif akibat AI mengambil peran di perusahaan besar padat modal.

Johanes Rasul Heksa Galuh Wicaksono ST MT—Dosen/Ahli Bidang Teknik

Galuh Wicaksono ST MT mengatakan, terkait pelibatan ketrampilan dan standarisasi maka negara perlu membangun sistem dengan lembaga-lembaga pendidikan agar efisien. Di sini ia melihat sistem Abdimas dan penelitian perguruan tinggi diatur dengan baik, hanya pelaksanaan dan kontrol yang masih kesulitan berkoordinasi dengan institusi pemerintahan, sehingga kurang mencapai efektivitas tujuan secara massif.

“Dinas Perindustrian dan Perdagangan perlu melibatkan kampus denagn baik, mulai intens berkomunikasi sampai mengarah dengan turun pelatihan dan sosialisasi ke masyarakat nntuk kemudian bila berjalan, maka terakhir adalah stempel atas standar produk yang baik dari buatan masyarakat. Tidak bisa bertele-tele dan biayanya murah karena tenaga ahli dari kampus sudah memiliki pos anggaran dan kewajiban,” ujar Galuh.

“Teknologi adalah alat yang mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berinteraksi, namun manusialah yang menentukan tujuan akhirnya.” –Teknologi & Budaya. “Budaya suatu bangsa bersemayam di hati dan jiwa rakyatnya.” – Mahatma Gandhi.

Menurut Dr Ir George da Silva, pernyataan tersebut akan terkaburkan oleh persepsi ambigu atas angka. Dan bisa jadi parameter terjadinya upaya mendorong percepatan perubahan perilaku tanpa garis merah sebagai batasan yang musti diindahkan.

Dr Ir George da Silva MBA Msos—Akademisi/Pengamat Sosial Politik

“Teknologi modern telah menjadi fenomena total bagi peradaban, kekuatan penentu tatanan sosial. Ini tak bisa dihindari, bahkan memungkinkan berdampak munculnya kemungkinan persoalan sekunder yang bisa mengubah tatanan atas perdamaian,” ujarnya.

“Setiap teknologi baru menciptakan budaya baru, mengubah cara manusia memandang realitas dan waktu,” imbuh Dr George.

Ia mengajak semua pihak peka dan terus kritis mengawal semua perubahan yang pasti memunculkan bayangan perubahan fungsi perilaku yang tak menjamin keberadan lapangan pekerjaan aman bagi masyarakat akademik yang semakin tidak mengerti arah karena kemudahan dan gaya hidup konsumtif.

“Budaya adalah cara menghadapi dunia dengan mendefinisikannya secara detail.” – Malcolm Bradbury. Dr George menyatakan, budaya dan pola perilaku tidak lepas dari muatan inteljensi masyarakat dengan sebuah kepemimpinan yang variable akan makna dan pemahaman. “Transformasi digital bukanlah proyek teknologi, melainkan pergeseran pola pikir (mindset),” katanya. “Harus diimbangi dengan konsekwensi perlunya garis tegas dan bisa diterima sebagai bentuk koreksi dengan tujuan penghargaan atas proses hidup layak dan berimbang,” imbuhnya. (*/GK)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here