Cahaya Paskah dan Persaudaraan Sejati di Gereja Santo Paulus Kraksaan, Rm Fadjar: Urip Iku Urup

0
170
Umat merayakan Malam Vigili Paskah di Gereja Paroki Santo Paulus Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 4 April 2026.

Kraksaan, Probolinggo, benang.id – Suasana khidmat menyelimuti Gereja Paroki Santo Paulus Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 4 April 2026, saat umat paroki berkumpul merayakan Malam Vigili Paskah. Mengangkat tema “Berjalan Bersama Menjadi Pembawa Berkat di Era Kecerdasan Buatan,” ibadat ini mengajak umat tetap menjadi saluran berkat yang humanis di tengah kemajuan teknologi. Misa yang dipimpin oleh RD Damianus Fadjar Tedja Soekarno (Romo Fadjar) ini dihadiri sekitar 400 umat yang memenuhi gedung utama hingga area aula.

Misa Vigili Paskah dimulai dengan Upacara Cahaya, saat nyala lilin Paskah memecah kegelapan, melambangkan Kristus yang bangkit sebagai Terang Dunia.

Momen puncak yang penuh sukacita terjadi ketika sembilan katekumen dewasa melangkah maju untuk menerima Sakramen Baptis. Prosesi ini menjadi tanda pertumbuhan iman yang nyata di tengah umat, yang kemudian dilanjutkan dengan pembaruan janji baptis oleh seluruh umat sebagai bentuk komitmen spiritual.

Setelah rangkaian sakramen inisiasi selesai, perayaan dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi yang berlangsung dengan agung. Kegembiraan Paskah kali ini terasa semakin lengkap dengan perpaduan antara tradisi gerejawi yang sakral dan semangat pembaruan diri untuk menghadapi tantangan zaman modern.

Urip iku Urup (Matius 28:1–10)

Upacara Cahaya mengawali Malam Vigili Paskah di Gereja Paroki Santo Paulus Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 4 April 2026.

Dalam khotbahnya, Romo Fadjar menyampaikan makna terang Paskah dalam Injil Matius 28:1-10. Ia mengungkapkan bahwa dalam terang Paskah hari ini, kita mendengar kabar yang mengguncang dunia: kubur kosong. Para perempuan datang dengan hati penuh duka, tetapi pulang dengan hati penuh sukacita. Malaikat berkata: “Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit!”

“Peristiwa ini bukan sekadar mukjizat, tetapi perubahan total: dari gelap menuju terang, dari takut menjadi berani, dan dari mati menuju hidup,” jelas Rm Fadjar. “Dan di sinilah kita bisa merenungkan falsafah Jawa yang begitu dalam: ‘urip iku urup’,” katanya.

Dari Kubur yang Gelap Menuju Terang yang Menghidupkan
Rm Fadjar kemudian menguraikan bahwa para perempuan itu berangkat pagi-pagi benar, saat hari masih gelap. Itu melambangkan hidup manusia: sering berjalan dalam kegelapan-ketakutan, kehilangan, kekecewaan. Namun justru di tempat gelap itulah terang Paskah menyala.

“Yesus tidak bangkit di tempat ramai, tetapi di kubur yang sunyi. Artinya: Tuhan bekerja juga dalam ‘kubur-kubur hidup’ kita: kubur kegagalan, kubur dosa, dan kubur keputusasaan. Dari sana, Tuhan menyalakan terang baru. Urip iku urup—hidup itu menyala,” tandas Rm Fadjar. “Artinya: hidup yang sejati adalah hidup yang membawa terang, bahkan dari kegelapan.”

Dari Takut Menjadi Pembawa Kabar Sukacita

Prosesi sembilan katekumen dewasa melangkah maju untuk menerima Sakramen Baptis.

Lebih dalam lagi Rm Fadjar menjelaskan bahwa Injil mengatakan: para perempuan itu pergi dengan takut tetapi juga sukacita besar. Menurutnya, hal itu menarik. Mereka belum sepenuhnya mengerti, tetapi mereka sudah mulai percaya.

“Seringkali kita menunggu sempurna dulu baru mau bersaksi. Tetapi para perempuan itu justru masih takut, masih bingung, namun mereka tetap berjalan dan mewartakan. Dan, di tengah perjalanan itu, mereka berjumpa dengan Yesus. Artinya Tuhan sering kita jumpai bukan saat kita sudah sempurna, tetapi saat kita berani melangkah,” ujarnya.

Rm Fadjar menekankan bahwa urip iku urup berarti hidup yang tidak diam, tetapi bergerak membawa kabar baik: memberi harapan, menguatkan yang lemah, dan menjadi terang bagi sesama.

Berjumpa dengan Yesus yang Bangkit: Sumber Nyala Hidup

Salah satu umat membacakan bacaan KS pada Misa Malam Vigili Paskah

Rm Fadjar melanjutkan khotbahnya. Ia mengatakan bahwa ketika Yesus menjumpai mereka, Ia berkata: “Salam bagimu.” Ucapan yang sederhana, namun menghidupkan. “Mereka tersungkur dan memeluk kaki-Nya. Itu tanda: iman yang hidup, relasi yang nyata, dan cinta yang menyala,” tuturnya.

“Saudara-saudari, Paskah bukan hanya cerita Yesus bangkit, tetapi undangan apakah hidup kita sudah ‘urup’? Apakah hidup kita: menghangatkan atau justru mendinginkan? Menerangi atau malah menggelapkan? Memberi harapan atau menyebarkan ketahuktan?,” tanya Rm Fadjar.

“Urip iku Urup” dalam Hidup Sehari-hari
Terakhir Rm Fadjar menjelaskan bagaimana falsafah urip iku urup dalam kehidupa sehari-hari. Dalam budaya Jawa, “urup” itu seperti api kecil: mungkin sederhana, tetapi bisa menghangatkan, bisa menerangi sekitar.

“Maka hidup Paskah adalah hidup yang setia dalam hal kecil, tulus dalam pelayanan, sabar dalam kasih, dan berani dalam iman,” ucapnya. “Tidak harus besar, tetapi nyata. Seperti lilin Paskah: satu nyala kecil bisa mengalahkan gelap yang besar,” imbuhnya.

Menutup khotbahnya, Rm Fadjar mengatakan, “Saudara-saudari terkasih, Kubur sudah kosong. Kristus sudah bangkit. Kini giliran kita: menjadi ‘urup’ di tengah dunia. Mari kita bawa terang Paskah itu: di dalam keluarga, di tempat kerja, di tengah masyarakat. Supaya melalui hidup kita, orang lain bisa merasakan: Tuhan sungguh hidup. Amin.”

Pesan Perdamaian yang Menyejukkan

Gus Aak memberikan sambutan (kiri), Rm Fadjar dan umat mendengarkan (kanan)

Ada sebuah kejutan istimewa yang hadir setelah misa berakhir, yaitu ketika umat menyambut kehadiran Gus Abdullah Al-Kudus (Gus Aak), seorang kiai muda pengurus Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus tokoh Komunitas Gusdurian. Meskipun berdomisili di Yogyakarta, Gus Aak memiliki kedekatan emosional dengan Paroki Kraksaan karena keluarganya menetap di Paiton.

Dalam sambutannya, ia membawa pesan perdamaian yang menyejukkan. Ia mengingatkan kembali amanah almarhum Gus Dur bahwa meski tidak bersaudara dalam iman, kita semua adalah saudara dalam kemanusiaan. Kehadirannya menjadi simbol nyata dari tema berjalan bersama yang diusung oleh paroki tahun ini.

Rm Fadjar dan sejumlah tokoh lintas agama

Di tengah situasi dunia yang dibayangi ancaman perang, Gus Aak menekankan bahwa agama seharusnya menjadi pelabuhan terakhir bagi kedamaian saat politik gagal menjembatani perbedaan. Ia menyayangkan masih adanya kelompok agama yang terjebak dalam ego dan pertikaian, alih-alih menebar kasih.

Menutup kunjungannya dengan penuh haru, Gus Aak membacakan puisi karya WS Rendra yang berjudul “Balada Penyaliban,” sebuah refleksi mendalam yang menyatukan rasa kemanusiaan dan spiritualitas di malam kebangkitan yang suci tersebut. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here