Jakarta, benang.id – Bagi Pater Lawrence Lelo SVD menjalani karya misi di Afrika bukan sekadar mewartakan Injil atau memberikan katekese kepada umat. Pastor asal Atambua, NTT ini menjelaskan, karya perutusan berarti masuk ke dalam kehidupan masyarakat, memahami budaya lokal, menghadapi keterbatasan pendidikan, hingga bergumul dengan pola pikir tradisional yang telah mengakar selama berabad-abad.
Pengalaman panjang itu dibagikan Pater Lawrence saat pertemuan bersama Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) yang berlangsung di Restoran Dapur Solo, Jalan Matraman Raya, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Selama sekitar 16 tahun berkarya sebagai misionaris Kongregasi SVD di Kenya dan Tanzania, Pater Lawrence menyaksikan langsung dinamika kehidupan masyarakat lokal, termasuk komunitas Suku Maasai, yang dikenal kuat menjaga adat istiadat dan tradisi leluhurnya.
Menurut Pater Lawrence, salah satu tantangan terbesar karya misi bukan hanya soal pewartaan iman, melainkan bagaimana mendampingi masyarakat yang masih hidup dengan tingkat pendidikan rendah dan pola budaya yang sangat kuat.
“Kadang untuk memperkenalkan cara pandang baru tentang pendidikan, kesehatan, atau pengelolaan kehidupan saja sudah menjadi tantangan besar. Tidak mudah berbicara tentang perubahan di tengah masyarakat yang sangat kuat memegang tradisi,” ungkapnya.
Poligami, Sapi, dan Status Sosial

Dalam kisahnya, Pater Lawrence menyinggung kehidupan masyarakat Maasai di Kenya dan Tanzania yang masih mempertahankan pola hidup tradisional.
Praktik poligami masih menjadi bagian dari struktur sosial di sebagian komunitas Maasai. Seorang laki-laki dapat memiliki lima hingga tujuh istri sebagai simbol status sosial dan kemampuan ekonomi.
Selain itu, ukuran kekayaan masyarakat sangat ditentukan oleh jumlah ternak, khususnya sapi, yang dimiliki. “Semakin banyak sapi yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula martabat atau posisi sosialnya di masyarakat,” jelasnya.
Namun, menurut Pater Lawrence, persoalan yang dihadapi bukan sekadar jumlah kepemilikan ternak, melainkan cara pandang terhadap kekayaan itu sendiri.
Di tengah logika ekonomi modern, sapi bisa menjadi aset produktif untuk membiayai pendidikan, kesehatan, investasi, atau membangun masa depan keluarga. Namun dalam budaya tertentu, sapi tetap dipandang terutama sebagai simbol kehormatan, kekayaan, dan identitas sosial.
“Banyak sapi tidak otomatis diikuti pola pikir ekonomi modern. Sapi lebih dipandang sebagai lambang kekayaan dan kasta sosial, bukan sesuatu yang dijual untuk biaya pendidikan atau pembangunan kehidupan,” katanya.
Misi yang Menyentuh Kehidupan Nyata
Bagi Pater Lawrence, karya misi di Afrika tidak dapat dipisahkan dari persoalan kemanusiaan sehari-hari.
Misionaris tidak hanya berbicara mengenai iman dan ajaran Gereja, tetapi juga harus hadir dalam persoalan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, hingga pembangunan kesadaran sosial.
Rendahnya tingkat pendidikan di sejumlah wilayah pedalaman membuat proses perubahan sosial berjalan lambat. Tidak sedikit masyarakat yang hidup dengan akses terbatas terhadap sekolah, fasilitas kesehatan, maupun informasi dasar mengenai perkembangan dunia.
Dalam kondisi demikian, misionaris dituntut memiliki kesabaran ekstra. “Karya misi membutuhkan proses panjang. Tidak bisa datang lalu langsung mengubah masyarakat. Harus ada pendekatan budaya, pendampingan, dan kesediaan untuk hidup bersama mereka,” ujarnya.
Menumbuhkan Perubahan

Meski menghadapi banyak tantangan, Pater Lawrence menegaskan masyarakat Afrika juga memiliki nilai-nilai kehidupan yang kuat, seperti solidaritas komunitas, kebersamaan, penghormatan terhadap keluarga, dan kedekatan dengan alam.
Karena itu, karya misi bukan soal menghapus budaya lokal, melainkan membangun dialog antara nilai budaya dengan kebutuhan perubahan sosial.
“Yang dibutuhkan adalah pendampingan agar masyarakat tetap menjaga nilai budayanya, tetapi juga memiliki kesempatan berkembang melalui pendidikan, kesehatan, dan pola hidup yang lebih baik,” katanya.

Pertemuan bersama PWKI itu menjadi ruang berbagi pengalaman tentang wajah lain karya misi Gereja Katolik di Afrika sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya berbicara tentang pewartaan iman, tetapi juga perjuangan membangun martabat manusia di tengah tantangan budaya, kemiskinan, dan keterbatasan akses pembangunan.
Menurut Pater Lawrence Lelo SVD, karya misi pada akhirnya bukan semata mengajarkan sesuatu kepada masyarakat, tetapi juga belajar memahami manusia, budaya, dan arti ketekunan dalam membangun perubahan.
Belajar Bahasa Swahili, Menyatu dengan Budaya Lokal

Ditahbiskan sebagai imam pada 1 Oktober 2009, Pater Lawrence Lewo SVD belum lama menikmati masa awal imamatnya ketika panggilan misi membawanya jauh dari tanah kelahirannya menuju Afrika Timur.
Awal 2010 menjadi titik awal perjalanan besar itu. Setelah menjalani kursus singkat bahasa Inggris di Ledalero, ia diminta segera berpamitan dengan keluarga. Awal Februari 2010, ia berangkat ke Jakarta sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju Nairobi, Kenya. Pada 25 Februari 2010, Pater Lawrence akhirnya menapakkan kaki di Afrika, membuka lembaran baru sebagai seorang misionaris.
Namun, menjadi misionaris di Afrika tidak cukup hanya bermodalkan semangat pelayanan. Selain harus menguasai bahasa Inggris, Pater Lawrence juga dituntut memahami bahasa lokal yang menjadi alat komunikasi utama masyarakat setempat.
“Swahili merupakan bahasa resmi di Kenya, Tanzania, dan Uganda, selain Inggris. Saya perlu kursus bahasa Swahili dua bulan dan melanjutkannya lagi di sana. Tapi karena bahasa Swahili banyak mengambil bahasa serapan dari bahasa Arab, ada cukup banyak kata yang terasa akrab bagi orang Indonesia,” ujar Pater Lawrence.
Bahasa Swahili atau Kiswahili memang menjadi salah satu kunci penting bagi karya pelayanan di Afrika Timur. Menariknya, sejumlah kosakata Swahili memiliki kemiripan dengan bahasa Indonesia. Pater Lawrence mencontohkan beberapa di antaranya: meza (meja), kitabu (kitab/buku), habari (kabar), jumla (jumlah), hakimu (hakim), salamu (salam), imani (iman), hingga tajiri yang berarti kaya.
Penguasaan bahasa menjadi bagian penting dari proses adaptasi budaya yang harus dijalani seorang misionaris. Sejak Maret 2010 hingga Maret 2011, Pater Lawrence mengikuti kursus intensif bahasa Inggris di Nairobi. Setelah itu, ia menjalani praktik pelayanan di sebuah paroki di Kenya sekaligus memperdalam kemampuan berbahasa.
Awal Oktober 2011, ia melanjutkan perjalanan ke Arusha, Tanzania, untuk mengikuti kursus bahasa Kiswahili di Morogoro. Dalam waktu dua bulan, kursus tersebut berhasil diselesaikannya sebagai bekal memasuki medan pelayanan yang sesungguhnya.
Januari 2012, Pater Lawrence menerima tugas sebagai pastor rekan di Paroki Gembala Baik Simanjiro, Tanzania, wilayah yang mayoritas dihuni masyarakat Maasai. Kehidupan di tengah komunitas penggembala dengan adat dan budaya yang kuat menjadi pengalaman baru yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran.

Pada Agustus 2014, ia dipercaya menjadi pastor kepala di Paroki Santo Agustinus Orkesumet, yang juga mayoritas umatnya berasal dari suku Maasai. Di tengah bentang savana Afrika, Pater Lawrence tidak hanya mewartakan Injil, tetapi juga belajar memahami cara hidup, tradisi, dan nilai-nilai masyarakat lokal.
Pandemi Covid-19 pada tahun 2020 membawa babak baru dalam perutusannya. Ia mendapat tugas sebagai econom di rumah formasi SVD di Nairobi, Kenya, sebuah pelayanan yang dijalaninya hingga kini.
Secara singkat, sejak 2012 hingga 2020, Pater Lawrence mengabdikan karya misinya di Tanzania bersama masyarakat Maasai. Sejak 2021 hingga sekarang, ia melanjutkan pelayanannya di rumah formasi SVD di Nairobi, Kenya, mendampingi proses pembinaan calon-calon misionaris.
Bagi Pater Lawrence, karya misi bukan sekadar perpindahan lintas negara. Misi adalah perjalanan belajar belajar bahasa, budaya, cara hidup, dan terutama belajar menghadirkan kasih Allah di tengah masyarakat yang berbeda bahasa, tradisi, dan latar belakang. (*/GK)


