Untuk Bangsa dan Negara: Ulama Kharismatik KH Suyuti Toha Ulangi Pesan Khususnya

0
143
4. KH Suyuti Toha (tengah) asyik berbincang-bincang dengan AM Putut Prabantoro (kiri) dan Rm Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr (kanan) di ruang tamu kamar pribadi KH Suyuti di Ponpes Mansyaul Huda, Banyuwangi, Minggu malam (14/6/2026).

Yogyakarta, benang.id —

+ Ada di mana ?
# Di Yogya Mbah Yai
+ Sudah ke Probolinggo ?
# Sudah Mbah Yai. Sudah antar Romo Fadjar ke Kraksaan. Dari Kraksaan, lalu ke Surabaya dan langsung ke Yogya.
+ Jangan lupa pesan saya saat datang ke pondok..

2. Tangkapan layar video call KH Suyuti Toha di Banyuwangi dengan AM Putut Prabantoro di Yogyakarta, Selasa malam (16/6/2026).

Itu komunikasi pembuka antara KH Fathullah Suyuti Toha dan AM Putut Prabantoro melalui video call pada Selasa (16/06/2026) pukul 19.54. KH Suyuti yang panggilan akrabnya Mbah Yai (85) adalah ulama kharismatik pengasuh Ponpes Mansyaul Huda, Banyuwangi. Ia juga pendiri Majelis Dzikir Nurul Wathon. Sementara AM Putut Prabantoro adalah alumnus Lemhannas PPSA XXI, pegiat kebangsaan dan pengajar ideologi. Ia juga pendiri dan penasihat Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI). Komunikasi keduanya dijembatani oleh Suyanto, wartawan pribadi Mbah Yai.

“Mbah Yai seperti masih merindukan kehadiran Romo Fadjar dan mas Putut, meskipun baru dua hari lalu berkunjung ke Ponpes. Ini banyak tamu setelah kegiatan Istighosah Jamaah Dzikir Nurul Wathon, tadi siang. Menyambut tamunya, Mbah Yai nampak bahagia meskipun kurang istirahat sejak dua hari lalu. Ini menyempatkan untuk video call,” ujar Suyanto, wartawan Selendangsutera.id.

Yang dimaksud dengan Romo Fadjar atau lengkapnya, Rm. Damianus Fadjar Tedjo Soekarno adalah pastor paroki St Paulus, Kraksaan, Probolinggo. Ia sahabat Mbah Yai sejak 25 tahun lalu dan sekaligus menjadi simpul persahabatan antara KH Suyuti Toha dan Putut Prabantoro. Pada Minggu (14/06/2026), Rm Fadjar mengantarkan Putut Prabantoro ke Ponpes Mansyaul Huda.

(Duduk ki-ka) – AM Putut Prabantoro, KH Fathulloh Suyuti Toha, KGPH H Muhammad Kurnia Hasanudin, dan H Ramadhan Gatot Sietikno. Berdiri tepat di belakang KH Suyuti Toha adalah Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputra.

Kunjungan ke Banyuwangi ini lebih merupakan kunjungan balasan di samping silaturahmi. Pasalnya, pada akhir Mei lalu (30/05/2026), setelah berziarah ke makam Panglima Besar Jenderal Sudirman, secara mengejutkan KH Suyuti Toha berkunjung ke rumah Putut Prabantoro di Yogyakarta.

Diskusi (arah jarum jam) – KH Fathulloh Suyuti Toha, AM Putut Prabantoro, H Ramadhan Gatot Sietikno, Sandi Suwardi Hasan dan Mayjen TNI (Purn) Herianto Syahputra.

Kunjungan itu dipimpin Mayjend TNI (Purn) Herianto Syahputra, teman satu kelas Putut Prabantoro di Lemhannas dan sekaligus Dewan Pembina Majelis Dzikir Nurul Wathon. Pertemuan di Yogya itulah merupakan perjumpaan pertama kali antara Mbah Yai dan Putut Prabantoro.

Pesan Khusus

3. Perbincangan KH Suyuti Toha dengan AM Putut Prabantoro dan Rm Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr di ruang tamu kamar pribadi KH Suyuti di Ponpes Mansyaul Huda, Banyuwangi, Minggu malam (14/6/2026). Turut mendengarkan perbincangan Lambertus Widiantoro, Lucius Gora Kunjana, dan Samudra Hasni Shodiq.

Menurut Putut, dalam kunjungan ke ponpes Mbah Yai dua hari lalu itu, ulama kharismatik itu dalam pertemuan empat mata menitipkan pesan khusus untuk bangsa dan negara, selain untuk dirinya. Dan pesan khusus itu, diulangi lagi KH Suyuti saat melakukan komunikasi via video call pada saat dirinya di Yogya.

“Mbah Yai tidak ingin Indonesia pecah dan meminta seluruh komponen bangsa pegang erat persatuan. Bangsa Indonesia harus mencegah dan terus mempertahankan agar sebagai bangsa, Indonesia tetap satu dan utuh serta jangan mudah diadu domba. Agama tidak boleh digunakan sebagai sumber perpecahan,” ujar Putut.

Bangsa Indonesia di manapun berada, sebagaimana yang dipesankan kepada Putut, harus memegang ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah. Ukhuwah Wathaniyah yakni persaudaraan atau ikatan kasih sayang antar sesama warga negara yang hidup di dalam satu wilayah dan negara yang sama, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, maupun golongan. Sementara Ukhuwah Basyariyah yakni persaudaraan universal antar sesama umat manusia. Persaudaraan ini bersifat inklusif dan tidak mengenal diskriminasi.

AM Putut Prabantoro (pakaian biru) dipeluk erat oleh KH Fathullah Suyuti Toha disaksikan Rm Damianus Fadjar Soekarno (berjumpa putih)

“Itu pesan Mbah Yai. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Mbah Yai karena terus mengingatkan saya tentang pesannya. Bahkan Mbah Yai sejak pertemuan pertama di Yogya telah menitipkan pesan itu,” ujar Putut.

Melalui video call itu, kembali Mbah Yai mengingatkan pesan khususnya untuk para pejabat ataupun mereka yang ingin mengabdi kepada negara. Siapapun yang akan dan yang sudah mengabdi kepada bangsa dan negara, ungkap Putut, harus bersikap dan berperilaku jujur dan ikhlas. Itu yang paling utama.

1. KH Suyuti Toha menyambut hangat AM Putut Prabantoro saat tiba di Ponpes Mansyaul Huda, Banyuwangi, Minggu malam (14/6/2026), disaksikan Rm Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr.

“Jika semua sudah bisa bersikap dan berperilaku jujur serta ikhlas, Allah akan mengangkat derajad dan martabatnya. Sikap ini, insya Allah, akan menghindarkan bangsa dan negara dalam situasi yang sulit. Sikap ikhlas dan jujur ini akan menumbuhkan sikap legawa. Dan kita pada saat ini membutuhkan sikap legawa. Dalam situasi seperti sekarang ini, pemerintah membutuhkan bantuan dari kita semua. Kita harus berdoa bersama-sama, “ kutip Putut atas pesan Mbah Yai yang disampaikan dalam bahasa Jawa.

Suyanto menjelaskan bahwa giat Istighotsah Jama’ah Dzikir Nurul Wathon dalam rangka hari lahir ke-56 ponpes Mansya’ul Huda itu dihadiri ribuan jamaah. Mereka datang dari berbagai lapisan masyarakat termasuk pejabat pemerintah, TNI dan Polri. Kegiatan doa yang ditujukan untuk bangsa dan negara ini dilaksanakan di pondok serta berlangsung dengan lancar pada Selasa (16/06‘2026) dari pukul 13.00 hingga 15.20 WIB. (*/GK)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here