
Oleh: Agustinus Tedja GK Bawana *)
Gelombang panas yang melanda berbagai belahan dunia kembali menjadi pengingat bahwa secanggih apa pun teknologi, ia belum mampu mengendalikan hukum-hukum alam. Ketika sebagian wilayah Eropa mengalami suhu mendekati atau melampaui 40°C, sementara beberapa wilayah India mencapai sekitar 47°C, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kemajuan teknologi bukanlah jaminan manusia mampu menguasai bumi.
Teknologi dapat membantu memprediksi, beradaptasi, dan mengurangi risiko, tetapi tidak dapat begitu saja menghentikan cuaca ekstrem yang dipengaruhi oleh sistem iklim yang sangat kompleks.
Persoalan mendasarnya bukan sekadar perubahan iklim, melainkan perubahan cara berpikir manusia. Peradaban modern terlalu sering mengukur keberhasilan melalui pertumbuhan ekonomi, eksploitasi sumber daya, dan pencapaian teknologi, sementara keseimbangan antara manusia dan alam justru semakin terabaikan.
Filsuf Yunani Aristotle mengajarkan konsep golden mean, yaitu bahwa kebajikan lahir dari keseimbangan, bukan dari sikap yang berlebihan. Sayangnya, dunia modern justru bergerak ke arah sebaliknya. Ambisi tanpa batas menjadi ukuran kemajuan, sedangkan keseimbangan dianggap sebagai hambatan pembangunan.
Laozi melalui ajaran Tao menegaskan bahwa manusia yang bijaksana tidak memaksa alam mengikuti kehendaknya, melainkan belajar hidup selaras dengannya. Ketika manusia melawan ritme alam demi memenuhi hasrat ekonomi dan politik, sesungguhnya ia sedang membangun krisis yang akan kembali menghantam dirinya sendiri.
Begitu pula Mahatma Gandhi pernah mengatakan bahwa bumi menyediakan cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap orang, tetapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan manusia. Kalimat sederhana itu kini terasa semakin relevan.
Perebutan minyak bumi, batu bara, nikel, emas, hingga berbagai mineral strategis sering kali dibungkus dengan alasan pembangunan, ketahanan energi, maupun kepentingan nasional. Di balik semua itu, tidak jarang muncul konflik sosial, ketimpangan ekonomi, bahkan perpecahan antarbangsa maupun antarsaudara sebangsa. Alam yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi sumber pertikaian. Mereka tumbuh dalam ekosistem baru yang menjajah paradigma berpikir mereka, mengubahnya menjadi instan dan individualistis.
Untuk memahami bagaimana teknologi mengikis kedalaman kemanusiaan kita, pemikiran filsuf kontemporer Byung-Chul Han memberikan pisau analisis yang sangat tajam. Melalui karya-karyanya seperti In the Swarm dan Psychopolitics, Han mengkritik dunia digital sebagai sebuah “ilusi kebebasan”. Kita merasa bebas memilih dan berekspresi, padahal kita sedang menyerahkan diri secara sukarela untuk dijajah oleh algoritma.
Secara runtut, berikut adalah tiga kritik utama Byung-Chul Han yang merefleksikan bagaimana teknologi telah mengubah perilaku, mental, dan tatanan sosial kita hari ini.
Ponsel Cerdas sebagai Objek Keagamaan Baru
Han membuat analogi yang sangat radikal namun relevan: ia mengibaratkan smartphone sebagai alat tasbih atau gawai pengakuan dosa modern. Jika dahulu manusia menghadap altar atau memegang benda suci untuk mencari ketenangan spiritual, hari ini manusia menundukkan kepala pada layar demi mencari validasi.
Media sosial telah bertindak sebagai “gereja digital”. Di ruang ini, umat digital tidak lagi mencari pengampunan atas dosa-dosa mereka, melainkan mencari perhatian (attention). Suka (likes), komentar, dan jumlah pengikut menjadi metrik baru untuk mengukur harga diri. Bagi anak-anak dan remaja, hal ini melahirkan paradigma berpikir yang dangkal. Mereka terjebak dalam pemikiran bahwa eksistensi mereka hanya diakui jika mereka “terlihat” di media sosial, yang pada akhirnya memicu perilaku narsistik dan individualistis.
Masyarakat Kelelahan (The Burnout Society). Pergeseran tatanan sosial yang masif terlihat dari bagaimana sistem kapitalisme digital mengeksploitasi manusia tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik. Han menyebut era ini sebagai Burnout Society. Ruang digital menuntut kita untuk terus-menerus memproduksi konten, memonitor tren, dan mengoptimalkan diri agar tidak tertinggal.
Tragisnya, penindasan ini tidak datang dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri (self-exploitation). Anak-anak dan remaja zaman sekarang didorong untuk menjadi “wirausahawan bagi dirinya sendiri” di dunia maya. Mereka harus selalu tampil sempurna, selalu terhubung, dan selalu produktif. Akibatnya, ketidakseimbangan ini melahirkan generasi yang rapuh secara mental. Penyakit-penyakit psikologis seperti depresi, kecemasan akut (anxiety), dan kelelahan mental (burnout) kini menyerang usia yang semakin muda.
Matinya Kedalaman Emosional dan Lahirnya “Non-Things”
Teknologi digital telah menggantikan objek-objek fisik yang memiliki memori dan kedalaman emosional dengan apa yang disebut Han sebagai non-things (informasi artifisial). Dulu, seorang anak menghargai sebuah buku fisik, mainan kayu, atau surat kertas yang memiliki wujud dan menuntut kesabaran untuk menikmatinya.
Hari ini, segalanya berubah menjadi data digital yang melayang di layar. Informasi datang bertubi-tubi tanpa jeda, menciptakan komunikasi yang sangat dangkal dan berisik (noise). Dampaknya pada psikologi remaja sangat destruktif: mereka kehilangan kemampuan untuk fokus dalam jangka panjang dan enggan melalui proses yang rumit. Paradigma berpikir mereka dijajah oleh hal-hal yang serbainstan. Hubungan sosial di dunia nyata dianggap terlalu melelahkan, sehingga mereka lebih memilih menarik diri menjadi individu yang terisolasi, yang hanya peduli pada kepuasan layarnya sendiri.
Ketidakseimbangan ekosistem bumi bukan hanya tentang mencairnya es di kutub atau polusi udara, melainkan tentang hilangnya “habitat alamiah” manusia sebagai makhluk sosial yang mendalam.
Refleksi atas Gagasan Byung-Chul Han
Perkembangan teknologi tidak lagi sekadar mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, atau memperoleh informasi. Ia sedang mengubah ekosistem kehidupan di bumi secara menyeluruh. Perubahan ini bukan hanya menyentuh aspek fisik dan lingkungan, tetapi juga menggeser tatanan sosial, budaya, politik, ekonomi, bahkan cara manusia memaknai dirinya sendiri.
Jika pada masa lalu revolusi industri mengubah hubungan manusia dengan mesin, maka revolusi digital telah mengubah hubungan manusia dengan kesadarannya sendiri. Dunia kini memasuki fase ketika data menjadi komoditas utama, perhatian menjadi mata uang baru, dan algoritma perlahan membentuk pola pikir manusia.
Dalam konteks inilah filsuf kontemporer Byung-Chul Han memberikan kritik yang tajam. Menurutnya, masyarakat modern hidup dalam ilusi kebebasan. Kita merasa bebas berbicara, bebas memilih, dan bebas mengekspresikan diri, padahal sesungguhnya perilaku kita semakin diarahkan oleh sistem digital yang bekerja secara halus melalui algoritma, notifikasi, dan kebutuhan akan pengakuan sosial.
Ketika anak-anak kita lebih suka menyendiri dengan gawainya daripada berinteraksi dengan alam dan sesamanya, saat itulah tatanan sosial kita sebenarnya telah runtuh. Paradigma berpikir instan dan individualistis yang dikritik oleh Han adalah alarm keras bagi kita semua. Jika teknologi terus dibiarkan mendikte makna hidup tanpa ada batas yang jelas, kita sedang berjalan menuju masa depan di mana bumi dihuni oleh miliaran manusia yang terhubung secara digital, namun mati dan kesepian di dalam jiwa.
Di sisi lain, hukum sering dipandang sebagai simbol kekuasaan, bukan sebagai penjaga keadilan. Kepemimpinan pun tidak jarang lebih sibuk menjaga stabilitas kekuasaan daripada menjaga keseimbangan kehidupan. Program-program pembangunan terus dilahirkan, tetapi terkadang hanya menyempurnakan ambisi manusia tanpa terlebih dahulu mengevaluasi apakah arah pembangunan tersebut masih menghormati batas-batas ekologis bumi.
Budaya lokal yang selama berabad-abad mengajarkan cara hidup selaras dengan kondisi geografis perlahan tersisih oleh standar pembangunan yang seragam. Padahal setiap wilayah memiliki kearifan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang masyarakatnya dalam menjaga hubungan dengan alam.
Perlu juga disadari bahwa tidak semua bencana alam dapat dikaitkan langsung dengan perubahan iklim. Misalnya, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa perubahan iklim menyebabkan gempa bumi atau tsunami besar secara langsung. Namun perubahan iklim memang dapat memperparah berbagai cuaca ekstrem, meningkatkan risiko banjir, kekeringan, kebakaran hutan, serta memperbesar dampak sosial dan ekonomi ketika bencana terjadi.
Sesungguhnya krisis terbesar bukanlah krisis iklim, melainkan krisis kesadaran. Teknologi tanpa etika hanya akan mempercepat kerusakan. Kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya akan memperbesar ketimpangan. Ilmu pengetahuan tanpa hati nurani hanya akan menghasilkan kecerdasan yang kehilangan arah.
Sebagaimana diingatkan Hans Jonas dalam The Imperative of Responsibility, setiap kemajuan harus diiringi tanggung jawab terhadap generasi yang belum lahir. Kemajuan tidak boleh hanya dinilai dari apa yang berhasil kita bangun hari ini, tetapi juga dari apakah bumi masih layak diwariskan kepada anak cucu kita esok hari.
Pada akhirnya, kepemimpinan sejati bukanlah kemampuan menguasai manusia ataupun alam, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan di antara keduanya. Sebab ketika kesadaran, budaya, hukum, ilmu pengetahuan, dan teknologi berjalan seiring dengan penghormatan kepada alam, saat itulah peradaban benar-benar disebut maju. Jika tidak, maka seluruh kemajuan yang kita banggakan hanyalah kemewahan yang berdiri di atas fondasi yang rapuh.
Tantangan terbesar abad ini bukanlah menciptakan teknologi yang lebih canggih, melainkan memastikan bahwa manusia tetap menjadi pengendali teknologi, bukan dikendalikan olehnya. Kemajuan seharusnya tidak hanya diukur dari kecepatan internet atau kecanggihan kecerdasan buatan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan nilai kemanusiaan: empati, gotong royong, tanggung jawab, kesabaran dalam berproses, serta kesadaran bahwa kebebasan sejati lahir dari kemampuan berpikir secara mandiri, bukan dari sekadar mengikuti arus algoritma. Teknologi akan terus berkembang, tetapi masa depan peradaban tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang menggunakannya. **
*) Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT)



