
Oleh: Agustinus Tedja GK Bawana *)
Dunia tidak sedang kekurangan kecerdasan. Dunia sedang kekurangan kesadaran. Peradaban manusia memasuki zaman ketika hampir semua hal dapat dihitung, diukur, diprediksi, bahkan dikendalikan oleh teknologi. Namun, semakin tinggi kemampuan manusia menguasai mesin, semakin sering manusia kehilangan kemampuan menguasai dirinya sendiri.
Kita hidup di era ketika angka menjadi ukuran utama keberhasilan. Pertumbuhan ekonomi, kecerdasan buatan, kekuatan militer, dominasi pasar, hingga popularitas di ruang digital dijadikan simbol kemajuan. Padahal, tidak semua yang bertambah menunjukkan bahwa kehidupan sedang menjadi lebih baik.
Ironisnya, kemajuan sering berjalan lebih cepat daripada kebijaksanaan. Dunia berhasil menciptakan teknologi yang mampu menjangkau ruang angkasa, tetapi belum mampu menghapus kelaparan, perang, korupsi, dan ketidakadilan. Manusia mampu membangun jaringan komunikasi yang menghubungkan miliaran orang dalam hitungan detik, tetapi semakin sulit membangun kepercayaan antarsesama.
Di tengah perlombaan global, alam menjadi pihak yang paling lama bersabar. Hutan ditebang atas nama pembangunan. Laut dieksploitasi atas nama pertumbuhan ekonomi. Energi diperebutkan atas nama kepentingan nasional. Ketika banjir, kekeringan, gelombang panas, dan cuaca ekstrem datang silih berganti, manusia sering menyebutnya sebagai bencana alam. Padahal, sebagian besar adalah konsekuensi dari pilihan manusia sendiri.

Begitu pula dalam hubungan antarnegara. Perdamaian sering dikumandangkan di berbagai forum internasional, tetapi persaingan pengaruh, perebutan sumber daya, dan rivalitas geopolitik terus dipelihara. Akibatnya, masyarakat sipil menjadi pihak yang paling sering menanggung dampak, sementara keputusan-keputusan besar lahir jauh dari kehidupan mereka.
Indonesia bukanlah pulau yang terpisah dari dinamika dunia. Ketika integritas melemah, korupsi menemukan ruang. Ketika hukum kehilangan keberanian, keadilan menjadi mahal. Ketika pendidikan hanya mengejar nilai tanpa membangun karakter, lahirlah generasi yang cerdas secara teknis tetapi rapuh secara moral.
Karena itu, tantangan terbesar bangsa ini bukan sekadar mempercepat pembangunan, melainkan membangun kesadaran. Kesadaran bahwa jabatan adalah amanah, kekayaan adalah tanggung jawab, ilmu adalah pengabdian, dan kekuasaan adalah sarana melayani rakyat.

Peradaban tidak akan runtuh karena kekurangan teknologi. Peradaban runtuh ketika manusia tidak lagi memiliki batas moral dalam menggunakan teknologi, kekuasaan, dan kekayaan.
Sudah saatnya dunia berhenti mengagungkan ambisi yang tidak mengenal batas. Yang dibutuhkan bukan lebih banyak orang hebat, melainkan lebih banyak manusia yang berani mengutamakan hati nurani daripada kepentingan pribadi.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya seberapa besar kekuasaan yang pernah kita miliki. Sejarah akan bertanya, apakah kekuasaan itu digunakan untuk memuliakan manusia atau justru mengorbankannya. **
*) Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT)


