Malang, benang.id – Bullying (perundungan) adalah tindakan yang salah harus ditanamkan sejak usia sedini mungkin. Memahami hal itu, SDK Santa Maria 2 di Jalan Panderman, Kota Malang, menggelar giat edukasi dan pembahasan bullying yang diikuti oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.
Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi strategis. Sesi pertama menyasar pemahaman dasar bagi siswa kelas 1 sampai 3 SD, sementara sesi kedua dilanjutkan dengan pembahasan yang lebih mendalam untuk siswa kelas 4 sampai 6 SD.
Total sebanyak 400 anak terlibat aktif dalam ruang diskusi yang interaktif ini. Hadir sebagai narasumber pelaku perlindungan anak Kota Malang Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) Agustinus Tedja GK Bawana, yang lebih dikenal dengan nama Ayah Tedja.
Gawai, Media Sosial, dan Akar Masalah Perundungan

Dari jalannya diskusi, ditemukan fakta menarik lapangan yang krusial bagi potensi perlindungan anak. Batasan-batasan pemaparan untuk memberikan pemahaman soal bullying dan pencegahannya ternyata sangat erat hubungannya dengan kedekatan perilaku anak dengan gawai (gadget) serta media sosial.
Dunia digital kini telah menjadi kebiasaan (habit) dalam keseharian anak-anak, yang jika tidak diawasi, dapat menjadi pintu masuk paparan perilaku perundungan.
Di sisi lain, tantangan terbesar juga datang dari lingkungan domestik. Ketidakpahaman orang tua dalam mengelola emosional atas tanggung jawab menjaga anak sering kali dirasa menjadi beban. Terutama, ketika tuntutan pemenuhan kebutuhan ekonomi dianggap lebih mendesak, sehingga mengorbankan pemenuhan “rasa” dan keseimbangan psikologis anak agar dapat berproses dalam tumbuh kembang yang layak.
Membedah Stigma: Pelaku Juga Korban Proses Belajar

Secara umum, anak-anak, guru, dan masyarakat sering kali terjebak hanya pada dampak (impact) yang muncul dari sebuah perundungan. Penanganan yang salah sering kali melahirkan stigma negatif yang mendominasi, sehingga justru semakin menjauhkan korban maupun pelaku dari penyembuhan trauma yang sesungguhnya.
Dalam edukasi ini ditekankan bahwa melemahkan eksistensi pelaku bullying sebenarnya mengaburkan konteks pembelajaran yang seimbang. Edukasi ini mengajak para pendidik dan orang tua untuk tidak naif. Guru pun tidak boleh takut untuk berdiri di atas segenap kekurangan sebagai manusia biasa di hadapan muridnya.
“Alangkah tidak solutifnya sebagai manusia jika kita memandang rendah diri kita dengan tidak mau melihat apa adanya bahwa kita manusia biasa yang tidak sempurna. Mengakui ketidaksempurnaan adalah bagian dari pendidikan karakter yang harus dipertahankan. Di sinilah kemandirian anak-anak untuk berani mengambil sikap yang bertanggung jawab pada sebuah penyelesaian masalah dipertaruhkan,” ujar Ayah Tedja.
Bergerak Bersama Menjadi Upstander

Edukasi ini membawa pesan kunci yang kuat: “Bullying berhenti bukan hanya karena pelaku berubah, tetapi karena teman-teman berani peduli.”
Anak-anak SDK Santa Maria 2 Malang diajak untuk menjadi seorang “Upstander”—yakni anak yang tidak ikut mengejek, tidak hanya menonton saat perundungan terjadi, tetapi berani menolong dengan cara yang aman.
Sebagai bentuk komitmen nyata, seluruh peserta anak dengan lantang mengucapkan janji bersama:

“Kami sebagai anak SDK Santa Maria 2 Kota Malang, berjanji”
▪️ Tidak harus mengejek teman.
▪️ Tidak seharusnya melakukan dan membiarkan diri untuk memukul teman.
▪️ Berteman dengan semua orang.
▪️ Berani membantu teman.
▪️ Berani melapor kepada guru jika melihat bullying.
Melalui kegiatan ini, SDK Santa Maria 2 Malang berharap dapat membangun ekosistem sekolah yang aman, humanis, dan responsif, di mana anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan saling melindungi. (*/GK)


