Inovasi GeO-Fert PGE Bantu Petani Kamojang Hasilkan 70 Ton Kubis

0
44
HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert)

Kabupaten Bandung, benang.id — Seratus tahun lalu, potensi panas bumi di Kamojang ditemukan. Dari sanalah perjalanan panjang dimulai, hingga Kamojang kini dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan energi panas bumi nasional. Di lerengnya, di Kabupaten Bandung, manfaat panas bumi tidak berhenti pada listrik. Bagi para petani di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, energi dari perut bumi kini terasa lebih dekat dengan keseharian. Limbah organik diolah menjadi pupuk, ditaburkan ke tanah, dan perlahan berubah menjadi panen yang melimpah.

Manfaatnya tampak dalam kegiatan HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert) yang digelar PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE Area Kamojang sepanjang September 2026 dengan mengusung tema “Dari Panas Bumi, Tumbuh untuk Masa Depan Berkelanjutan” di Desa Laksana.

Kali ini, lahan Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana menghasilkan sekitar 70 ton kubis varietas Granova melalui penerapan GeO-Fert, inovasi pupuk organik yang memanfaatkan panas bumi dalam proses produksinya.

Kubis yang dipanen memiliki ukuran relatif besar. Beberapa di antaranya mencapai bobot sekitar 6 kilogram (kg) per buah, lebih besar dibandingkan rata-rata kubis lokal lainnya yang berkisar 3 kg. Panen tersebut menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp78 juta, sementara penggunaan GeO-Fert turut menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta.

Bagi petani, angka tersebut bukan sekadar hasil panen. Di baliknya, ada perjalanan panjang dalam mengolah limbah untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mencari solusi atas tantangan biaya produksi dan ketersediaan pupuk.

Dari Limbah jadi Berkah

HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert)

Pertanian menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kamojang. Namun, harga dan akses pupuk menjadi tantangan bagi petani, sementara kondisi dataran tinggi membuat pengeringan pupuk organik secara konvensional membutuhkan waktu relatif lama.

Di tengah kondisi tersebut, KTH Cikondang bersama PGE Area Kamojang mengembangkan Geothermal Organic Fertilizer atau GeO-Fert. Inovasi ini memanfaatkan ekses uap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang bersuhu sekitar 60–70°C untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik. Proses yang sebelumnya dapat membutuhkan waktu hingga sekitar 14 hari pun kini dapat dipangkas menjadi sekitar 12 jam.

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan, inovasi ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan panas bumi di luar pembangkitan listrik atau Beyond Electricity.

“Pencapaian teman-teman petani dalam memanen 70 ton kubis varietas Granova menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami, terlebih di tahun ketika kita memperingati satu abad pengembangan panas bumi nasional. Selama ini, panas bumi memang lebih dikenal sebagai sumber listrik. Namun lewat GeO-Fert, panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani. Itulah semangat Beyond Electricity yang terus kami dorong, supaya manfaat panas bumi bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” ujarnya.

Dalam budidaya kubis kali ini, sekitar 30 ton pupuk GeO-Fert diaplikasikan pada lahan sekitar 1,2 hektare. Pupuk organik padat diberikan pada tahap awal sebelum penanaman, sementara pupuk organik cair diaplikasikan secara berkala setiap 15 hari selama masa budidaya.

Bagi KTH Cikondang, proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk membangun kemandirian. Tidak hanya menerima pupuk, masyarakat juga terlibat dalam proses produksi dan pemanfaatannya.

Ketua KTH Cikondang Kamojang Asep Muhamad Deni mengatakan, “Manfaat dari GeO-Fert ini bukan cuma bisa memproduksi pupuk sendiri, tapi juga melihat limbah yang tadinya tidak terpakai bisa dimanfaatkan kembali untuk lahan. Dari sana, pupuk GeO-Fert bisa membantu menyuburkan tanah dan mendukung hasil panen para petani.”

Sebelumnya, pada April 2026, PGE Area Kamojang bersama masyarakat juga melaksanakan Panen Raya Kentang GeO-Fert HAREPAN. Dari lahan sekitar 4.200 meter persegi, produktivitas pada lahan dengan GeO-Fert mencapai 7.581 kilogram, dibandingkan sekitar 4.525 kilogram dengan metode konvensional. Biaya produksi kentang juga turun dari sekitar Rp 73,1 juta per tahun menjadi Rp49,5 juta per tahun, atau hemat sekitar Rp 23,5 juta per tahun. GeO-Fert kini juga dimanfaatkan untuk budidaya beberapa komoditas lain, termasuk cabai, tomat, dan labu siam.

Bagi petani kubis Hendro Gunawan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pertanian juga perlu tumbuh bersama inovasi.

“Tantangan pertanian sekarang adalah bagaimana kita bisa bersahabat dengan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Kita perlu terus membuka mata dan berinovasi. Kolaborasi panas bumi dengan pertanian menjadi salah satu contoh nyata. Jadi, pertanian bukan hanya soal pengetahuan turun-temurun, tetapi juga tentang inovasi, hasil, dan bukti nyata,” ujarnya.

Alirkan Manfaat, Tumbuhkan Kemandirian

HAREPAN (Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert)

General Manager PGE Area Kamojang Albertus Novi Purwono mengatakan, HAREPAN memperlihatkan bagaimana pemanfaatan panas bumi dapat terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

“Hari ini, kita melihat bagaimana energi panas bumi dapat terhubung dengan pengelolaan limbah organik dan pertanian hingga menghasilkan panen yang memberikan nilai tambah bagi petani. Panen kubis ini menjadi bukti bahwa inovasi yang dikembangkan bersama masyarakat dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi produktivitas maupun efisiensi usaha tani,” ujarnya.

GeO-Fert merupakan bagian dari pengembangan Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah yang turut diperkuat dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mandiri berkapasitas 6,6 kWp dan baterai 20 kWh. Melalui ekosistem ini, energi bersih, pengelolaan limbah, dan kegiatan produktif masyarakat dikembangkan secara terintegrasi.

Pada HAREPAN, masyarakat Kamojang juga memperkenalkan sejumlah produk hasil pengembangan program pemberdayaan PGE Area Kamojang, antara lain keripik hasil bumi dari KWT Srikandi Gayatri Lestari Kamojang dan teh daun kopi dari Kelompok GCP yang dikembangkan menggunakan dehydrator, serta ikan asin dan pakan ikan dari Kelompok Budidaya Ikan Mekarjaya Kamojang yang dikeringkan menggunakan Geothermal Dry House.

Bagi masyarakat Kamojang, perjalanan GeO-Fert pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi pengeringan pupuk atau besarnya hasil panen. Program ini juga menunjukkan bagaimana sumber daya yang berada di sekitar masyarakat dapat dimanfaatkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi.

Kepala Desa Laksana Hj. UU Budiman mengatakan, manfaat tersebut telah dirasakan masyarakat desa. “Alhamdulillah, kami merasakan manfaat yang sangat baik dari pupuk GeO-Fert. Terima kasih kepada PT Pertamina Geothermal Energy yang telah membantu masyarakat Desa Laksana. Semoga program ini terus berlanjut dan PGE semakin maju dan sukses,” ujarnya.

Melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PGE terus mendorong pemanfaatan potensi panas bumi agar manfaatnya dapat tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasi. Semangat ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). (*/GK)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here