
Jakarta, benang.id — Indonesian Business Council (IBC), sebagai asosiasi independen dan non-profit yang beranggotakan para pemimpin bisnis dan industri swasta di Indonesia, akan kembali menggelar Indonesia Economic Summit (IES) pada 2027.
IES 2027 yang akan digelar pada 20-21 April 2027 di Hotel Shangri-La Jakarta, dan mengusung tema “From Growth to Prosperity: Social Impact Beyond Numbers”, fokus utama pembahasannya untuk mewujudkan dampak sosial nyata melalui upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi demi kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.
Perbaikan kesejahteraan masyarakat perlu mempertimbangkan dampak sosial nyata yang melampaui angka pertumbuhan ekonomi, termasuk, dalam hal ini, perluasan lapangan kerja, perkembangan usaha, dan peningkatan produktivitas.
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) telah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 5,2 persen per bulan September dibandingkan dengan sebelumnya sebesar 4,7 persen pada bulan Juni. OECD sebagai organisasi internasional yang bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi, perdagangan dan kesejahteraan sosial, melihat Indonesia telah menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi global.
Memasuki semester dua tahun ini, Pemerintah Indonesia memiliki aspirasi mendorong pertumbuhan ekonomi menuju 6 persen dengan mempertimbangkan sejumlah indikator termasuk inflasi pada level 3,28 persen dan pertumbuhan kredit di sekitar 13,65 persen. Namun, kualitas pertumbuhan sudah sepatutnya dinilai berdasarkan dampaknya terhadap pekerjaan, pendapatan, produktivitas, dan peluang ekonomi.
IES 2027 akan mempertemukan pemerintah, pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, masyarakat sipil, serta pemangku kepentingan lainnya untuk membahas bagaimana investasi dan pertumbuhan dapat menghasilkan dampak ekonomi dan sosial yang lebih kuat. Peluncuran ini menjadi awal rangkaian menuju IES 2027 pada bulan April mendatang.

Ketua Dewan Pengawas IBC Arsjad Rasjid menekankan pentingnya dampak sosial sebagai ukuran keberhasilan pertumbuhan ekonomi. “Pertumbuhan dan investasi harus memperkuat dunia usaha, meningkatkan produktivitas, serta menciptakan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik. Melalui IES 2027, kami ingin mendorong langkah bersama agar manfaat pertumbuhan dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Arsjad, dalam sambutannya pada Peluncuran IES 2027, di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Karena itu, lanjut Arsjad, dunia usaha memiliki peran penting dalam memperluas dampak pertumbuhan. Ketika sebuah perusahaan berkembang, manfaat ekonominya tidak hanya muncul dari pekerjaan langsung, tetapi juga melalui pemasok, distributor, kontraktor, penyedia jasa, hingga usaha kecil yang menjadi bagian dari rantai nilai perusahaan tersebut.

Dalam sambutan pembuka, CEO IBC Sofyan A Djalil mengatakan IES 2027 akan membawa pembahasan ekonomi lebih jauh dari sekadar mengejar angka pertumbuhan. “GDP tetap penting untuk membaca arah perekonomian, tetapi kesejahteraan tidak dapat dilihat dari satu angka saja. Kita juga perlu melihat pekerjaan yang tercipta, produktivitas, pendapatan masyarakat, kesempatan berusaha, dan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Itu yang ingin kita bawa lebih kuat dalam IES 2027,” ujar Sofyan.
Serangkaian peluncuran IES digelar Panel Diskusi yang berfokus pada pertanyaan mengenai indikator yang perlu diperhatikan selain PDB untuk melihat apakah kemajuan ekonomi benar-benar meningkatkan kehidupan masyarakat. IES 2027 juga akan membahas bagaimana pertumbuhan dapat menciptakan pekerjaan, mengurangi ketimpangan, memperluas kesempatan, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Hadir dalam diskusi tersebut M Rachmat Kaimuddin– Managing Director Development Investment PT Danantara Development Management Fund (DDMF), M Arsjad Rasjid PM– Ketua Dewan Pengawas IBC, Yenny Wahid– Founder and Director The Wahid Foundation, Rahayu Saraswati– Founder Saraswati Fellowship, dengan William Sabandar—COO IBC, bertindak sebagai moderator.

Arsjad mengatakan agenda tersebut tidak berarti mengurangi pentingnya pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang lebih kuat agar perusahaan dapat berinvestasi, memperbesar kapasitas, dan menciptakan lebih banyak peluang ekonomi.
“Pertumbuhan dan kesejahteraan bukan dua agenda yang berbeda. Yang harus kita bangun adalah hubungan yang lebih kuat di antara keduanya. Ketika bisnis tumbuh, pekerja berkembang, usaha lokal mendapat kesempatan, dan keluarga memiliki pendapatan yang lebih baik, di situlah pertumbuhan mulai menjadi prosperity,” ujar Arsjad.
Peluncuran IES 2027 juga membuka rangkaian keterlibatan dengan komunitas bisnis, mitra strategis, organisasi internasional, masyarakat sipil, serta pemangku kepentingan lainnya menjelang penyelenggaraan summit. IBC menargetkan IES 2027 menjadi ruang bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk mempertemukan perspektif serta mendorong kolaborasi guna memperkuat dampak pembangunan ekonomi.
Izin usaha saja sudah tak cukup lagi

Yenny Wahid– Founder and Director, The Wahid Foundation kepada wartawan menyampaikan apresiasinya atas inisiatif IBC sebagai penyelenggara yang akan mempertemukan banyak pelaku ekonomi dari berbagai sektor mulai dari sektor bisnis, pemerintah, maupun masyarakat sipil. “Dengan demikian kita bersama-sama bisa menciptakan dampak yang lebih besar, mengingat masalah-masalah sosial tidak bisa dipisahkan dari masalah ekonomi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, jika kondisi sosial yang baik tidak tercapai, tidak ada kedamaian, tidak tercapai saling pengertian dan yang terjadi hanyalah konflik, maka bisnis tidak akan bisa jalan, dan ekonomi pun tidak mampu bertumbuh.
Semangat yang ditunjukkan oleh IBC dengan menggelar IES 2027, lanjut Yenny, sangat luar biasa karena bukan saja bagaimana menciptakan pertumbuhan ekonomi, tetapi sekaligus keadilan ekonomi. “Saya mewakili masyarakat sipil berterima kasih karena telah dilibatkan dalam platform besar ini, yang penting sekali untuk menciptakan sebuah dampak yang nyata,” tuturnya.

Menurut Yenny, Pemerintah bisa memfasilitasi pertumbuhan dengan menelurkan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada bisnis, juga pada masyarakat, menciptakan infrastruktur, memastikan regulasi baik agar bisnis bisa berkembang. Di lain pihak, swasta memiliki modal, kemampuan manajemen, finance dan sebagainya untuk membantu usaha kecil dan menengah.
“Organisasi masyarakat sipil juga punya kemampuan karena mereka punya trust. Mengingat saat ini bisnis tidak lagi hanya punya business license atau izin usaha saja tetapi juga harus ada social license atau izin sosial. Karena jika bisnis beroperasi di sebuah komunitas yang tidak mendukung maka tidak bisa fokus pada upaya-upaya untuk menciptakan keuntungan tetapi waktunya tersita hanya untuk mengatasi masalah-masalah di luar masalah bisnisnya,” tandas Yenny seraya menambahkan perlunya kolaborasi berbagai pihak.

William Sabandar– COO IBC, menambahkan bahwa IES 2027 akan membahas From Growth to Prosperity: Social Impact Beyond Numbers atau dari pertumbuhan ke kesejahteraan dengan mengangkat social impact.
Ia memastikan bahwa IES 2027 akan menghadirkan pembicara internasional, kalangan bisnis global maupun anggota IBC, juga dari sektor swasta, dan masyarakat sipil. IES 2027, lanjut William, juga akan meluncurkan sebuah laporan menyangkut dampak sosial yang direncanakan terbit setiap tahun.
“Jadi selain IBC Business Outlook yang diterbitkan Januari, kita juga akan menerbitkan social impact report yang merupakan kumpulan hal-hal yang telah dilakukan korporasi, bukan hanya CSR, tapi bagian dari proses bisnis ketika korporasi menciptakan lapangan pekerjaan, seluruh supply chain itu juga bagian dari social impact,” pungkasnya. (*/GK)

