
Jakarta, benang.id– PT Pertamina (Persero) dan PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menjajaki pengembangan ekosistem hidrogen sebagai energi bersih untuk transportasi publik dan pemanfaatan energi rendah karbon di Jakarta. Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) oleh Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dan Direktur Utama Transjakarta Welfizon Yuza di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Penandatanganan MoU ini menjadi langkah awal bagi Pertamina dan Transjakarta untuk mendorong pemanfaatan energi rendah karbon di sektor transportasi, sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi dan peningkatan kualitas udara di Ibu Kota.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan bahwa pengembangan hidrogen untuk transportasi publik membutuhkan kolaborasi erat antara penyedia energi dan operator transportasi agar dapat diterapkan secara terintegrasi dan berkelanjutan.

“Melalui penandatanganan nota kesepahaman ini, kami ingin menjajaki pengembangan ekosistem hidrogen yang tidak hanya mendukung kebutuhan energi bersih di sektor transportasi, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan energi dan pengurangan emisi,” ujarnya.
Menurut Oki, penjajakan bersama ini mencakup kajian dan pengembangan solusi energi bersih, termasuk peluang penerapan kendaraan berbasis hidrogen melalui program percontohan (pilot project/proof of concept). Upaya tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi pemanfaatan hidrogen yang lebih luas di Indonesia.
Inisiatif ini juga sejalan dengan pengembangan proyek Waste to Hydrogen (W2H) Pertamina, yang menjajaki pemanfaatan gas metana dari sampah untuk menghasilkan biometana dan hidrogen rendah karbon. Inisiatif tersebut menghubungkan pengembangan energi bersih dengan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan, sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.

Dalam rencana pengembangan tersebut, dua bus berbasis hidrogen atau fuel cell electric vehicle (FCEV) ditargetkan mulai ditempatkan pada 2028. Bus yang berasal dari hibah Pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Indonesia itu direncanakan untuk dimanfaatkan dalam layanan Transjakarta, dengan dukungan pengembangan infrastruktur produksi dan pengisian hidrogen.
Oki menambahkan, sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memperkuat pemanfaatan energi bersih di Indonesia. Melalui kolaborasi dengan Transjakarta, Pertamina berharap pengembangan hidrogen dapat menjadi salah satu alternatif energi bagi transportasi publik sekaligus membuka peluang penerapan teknologi rendah karbon di masa mendatang.
“Kami berharap penjajakan ini menjadi pijakan awal bagi tumbuhnya ekosistem hidrogen di Indonesia,” pungkas Oki. (*/GK)

