YOGYAKARTA, BENANG.ID – Peningkatan kualitas layanan rumah sakit dan nilai jual produk pertanian menjadi dua peluang yang dijajaki Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui pembelajaran teknologi dan riset di Jepang.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menggali pengalaman Rumah Sakit Universitas Kyoto dalam pengembangan layanan medis modern, sekaligus mempelajari inovasi pertanian yang dapat menjadi referensi untuk meningkatkan kualitas produk lokal.
Upaya ini diharapkan membuka ruang pengembangan layanan publik yang lebih baik serta memperkuat manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dilansir dari jogjaprov.go.id, Sri Sultan menekankan bahwa pengembangan rumah sakit perlu mencakup lebih dari sekadar penambahan layanan medis.
Digitalisasi, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta penguatan penelitian dan fasilitas laboratorium juga menjadi bagian penting untuk membangun pelayanan yang semakin berkualitas.
Hal tersebut disampaikan saat Sri Sultan bertemu dengan pihak Rumah Sakit Universitas Kyoto pada Senin (5/10) beberapa waktu lalu.
Pertemuan tersebut membahas pengembangan layanan kesehatan di DIY dengan menggali pengalaman Jepang dalam memadukan pelayanan pasien, penelitian, dan teknologi medis.
“Harapan saya tidak sekadar di bidang kesehatan, tapi juga proses pada aspek-aspek layanan, digitalisasi, kemungkinan juga peningkatan sumber daya manusianya. Hal-hal itu, atau seperti riset di laboratorium, dan sebagainya itu bagi kami juga sangat penting,” ujar Sri Sultan.
Bagi masyarakat, penguatan aspek-aspek tersebut berpotensi mendukung pelayanan yang lebih efektif, sistem administrasi yang semakin baik, serta peningkatan kemampuan rumah sakit dalam menangani kebutuhan pasien.
Namun, manfaat tersebut memerlukan tindak lanjut berupa pengembangan program, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, dan penyesuaian teknologi dengan kebutuhan masing-masing rumah sakit.
Pembelajaran ini relevan bagi pengembangan RS Paru Respira dan RS Jiwa Grhasia. RS Paru Respira berfokus pada pelayanan kesehatan pernapasan, sedangkan RS Jiwa Grhasia tengah dikembangkan menjadi rumah sakit umum dengan tetap memberikan layanan kesehatan jiwa dan rehabilitasi bagi penyalahguna narkotika serta zat adiktif lainnya.
Pengembangan kedua rumah sakit tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas layanan sesuai kebutuhan masyarakat, termasuk bagi pasien yang membutuhkan penanganan khusus. Sri Sultan menyampaikan bahwa peluang kerja sama dengan Rumah Sakit Universitas Kyoto perlu dikaji lebih lanjut agar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan institusi kesehatan di DIY. Tim teknis daerah diharapkan dapat menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut.
Teknologi Medis Jadi Referensi Pengembangan Layanan
Dalam pertemuan tersebut, Rumah Sakit Universitas Kyoto memaparkan pengembangan sejumlah teknologi medis, antara lain induced pluripotent stem cells (iPS), transplantasi organ, dan terapi sel CAR-T untuk menangani jenis kanker tertentu.
Teknologi sel iPS memungkinkan sel tubuh yang telah matang diprogram ulang menjadi sel punca yang dapat berkembang menjadi berbagai jenis sel.
Dalam penelitian, teknologi ini dimanfaatkan untuk mempelajari mekanisme penyakit, menguji respons terhadap obat, dan mengembangkan pendekatan pengobatan regeneratif.
Penelitian sel iPS juga digunakan untuk mempelajari penyakit seperti Parkinson dan diabetes.
Meski menawarkan peluang bagi perkembangan ilmu kedokteran, pemanfaatannya sebagai terapi pasien tetap memerlukan penelitian serta pengujian klinis sesuai standar yang berlaku.
Rumah Sakit Universitas Kyoto turut membagikan pengalaman dalam transplantasi organ, termasuk hati dan paru-paru, serta terapi CAR-T yang memanfaatkan sel kekebalan tubuh untuk melawan jenis kanker tertentu.
Bagi DIY, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan kajian untuk menentukan prioritas pengembangan layanan medis di masa mendatang.
Penerapannya perlu mempertimbangkan kebutuhan pasien, kesiapan tenaga profesional, fasilitas pendukung, pembiayaan, serta keamanan dan efektivitas tindakan medis.
Dengan perencanaan yang tepat, penguatan layanan rumah sakit dapat diarahkan pada kebutuhan nyata warga, tanpa mengabaikan pentingnya pemerataan akses dan mutu pelayanan.
Riset Pertanian untuk Meningkatkan Nilai Jual Produk Lokal
Manfaat kunjungan ke Jepang tidak hanya diarahkan pada sektor kesehatan. Delegasi DIY juga mempelajari penerapan riset dan teknologi pertanian di Kyoto Prefectural Agriculture, Forestry and Fisheries Technology Center serta Tea Research Institute di Uji.
Di lokasi tersebut, delegasi menggali pengalaman mengenai peningkatan kualitas hasil pertanian, penanganan pascapanen, dan penguatan merek produk.
Aspek-aspek ini penting karena daya saing komoditas tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi, tetapi juga mutu, konsistensi, pengemasan, dan kemampuan menjangkau pasar.
Bagi petani dan pelaku usaha di DIY, pendekatan berbasis riset berpotensi menjadi jalan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen.
Pengelolaan pascapanen yang lebih baik, misalnya, dapat membantu menjaga mutu produk, sedangkan penguatan merek dapat mendukung pengenalan produk lokal kepada konsumen yang lebih luas.
Meski demikian, manfaat ekonomi tersebut bergantung pada penerapan yang sesuai dengan karakter komoditas, kesiapan petani, dukungan pendampingan, serta akses terhadap pasar.
Karena itu, pengalaman Kyoto dapat menjadi referensi untuk merancang pengembangan pertanian yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada peningkatan nilai ekonomi yang diterima masyarakat.
Penguatan pertanian berbasis riset juga berpeluang mendukung perekonomian perdesaan melalui pengembangan usaha pengolahan, pemasaran, dan kegiatan ekonomi lain yang berkaitan dengan komoditas unggulan daerah.
Perluas Pembelajaran untuk Kesiapsiagaan Bencana dan Ekonomi Daerah
Rangkaian kunjungan delegasi DIY turut mencakup Kyoto City Disaster Prevention Center untuk mempelajari edukasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Pengetahuan tersebut dapat menjadi referensi dalam memperkuat pemahaman masyarakat mengenai langkah-langkah menghadapi risiko bencana.
Delegasi juga mengunjungi Osaka Knowledge Capital dan Rinku Town guna memperoleh gambaran mengenai pengembangan inovasi serta kawasan yang mendukung aktivitas ekonomi.
Seluruh agenda tersebut merupakan bagian dari penguatan hubungan antara DIY dan Prefektur Kyoto yang telah terjalin sejak 1985.
Melalui pertukaran pengalaman lintas sektor, Pemerintah Daerah DIY menjajaki peluang kerja sama yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan daerah.
Tahap selanjutnya adalah menerjemahkan pembelajaran tersebut menjadi program yang terukur, dengan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Di sektor kesehatan, sasaran pengembangan diarahkan pada peningkatan mutu dan kapasitas pelayanan.
Sedangkan sektor pertanian, perhatian tertuju pada kualitas produk dan nilai tambah bagi petani. Sementara itu, pembelajaran mitigasi bencana diharapkan dapat mendukung kesiapsiagaan masyarakat.
Dengan tindak lanjut yang tepat, hubungan DIY dan Kyoto berpeluang berkembang dari pertukaran pengetahuan menjadi upaya kolaboratif untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat ekonomi lokal, dan mendukung kesejahteraan warga.


