YOGYAKARTA, BENANG.ID – Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mencatat prestasi di kancah global.
Sebanyak 17 peneliti UGM masuk daftar World’s Top 2% Scientists 2026, yaitu peringkat ilmuwan paling berpengaruh di dunia yang disusun peneliti Stanford University dengan data penerbit ilmiah Elsevier.
Ke-17 peneliti itu berasal dari tujuh fakultas. Lima orang datang dari Fakultas MIPA, tiga dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, serta masing-masing dua dari Fakultas Kehutanan, Farmasi, Teknik, dan Geografi.
Satu lainnya berasal dari Fakultas Kedokteran Gigi. Di antara mereka ada Prof. Adi Utarini, Prof. Indah Kartika Murni, Prof. Ragil Widyorini, dan Prof. Pramaditya Wicaksono.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyebut capaian ini sebagai cermin mutu pendidikan, riset, dan publikasi kampus dalam beberapa tahun terakhir.
“Capaian ini akan menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di masa depan,” ujarnya, Jumat (16/10) dilansir dari ugm.ac.id.
Dari Fakultas Kehutanan, Ragil Widyorini menekuni material komposit ramah lingkungan berbahan serat alam, kayu bermutu rendah, serta limbah pertanian dan kehutanan.
Ia memakai perekat alami bebas formaldehida, bahkan mengembangkan papan tanpa perekat.
Risetnya mencakup pemanfaatan limbah kotoran gajah menjadi komposit serta kayu hasil penjarangan menjadi laminasi struktural.
Keterbatasan dana dan waktu ia siasati dengan memperluas kolaborasi bersama akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat.
Dari Fakultas Geografi, Pramaditya Wicaksono memanfaatkan penginderaan jauh untuk memetakan padang lamun, terumbu karang, dan habitat bentik di pesisir.
Ia terlibat dalam Indonesian Seagrass Mapping Partnership bersama BRIN, KKP, BIG, dan Universitas Hasanuddin, yang menghasilkan peta nasional terumbu karang dan padang lamun pertama di Indonesia.
Peta yang diluncurkan pada 2025 itu menjadi dasar penghitungan luas lamun, ocean accounting, dan karbon biru.
Di tingkat global, ia juga menjadi pemimpin harmonisasi data dalam inisiatif seagrass mapping blueprint.
Karena biaya riset pesisir tinggi, ia mengandalkan kerja sama antarlembaga di dalam dan luar negeri.
Di bidang kesehatan, Indah Kartika Murni berfokus pada layanan kesehatan anak serta upaya menekan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak.
Penelitiannya terhadap sekitar 850 anak menemukan bahwa 60 persen terlambat didiagnosis penyakit jantung bawaan, dan angkanya melampaui 85 persen pada kasus berat atau kritis.
Temuan itu mendorong uji skrining pulse oximeter pada sekitar 1.450 bayi baru lahir di empat rumah sakit di Yogyakarta, yang mengidentifikasi delapan bayi dengan penyakit jantung bawaan kritis.
Hasilnya memperkuat dasar ilmiah bagi kebijakan skrining nasional.
Indah bersama tim multidisiplin juga mengembangkan surveilans berbasis air limbah untuk memantau sebaran patogen di masyarakat.
Metode ini dipakai mendeteksi SARS-CoV-2 pada masa pandemi, lalu diperluas ke bakteri penyebab tifus dan patogen lain berpotensi pandemi.
Pendekatan tersebut melengkapi data epidemiologi konvensional karena tidak semua orang yang terinfeksi datang ke fasilitas kesehatan.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah menjembatani kesenjangan antara bukti ilmiah dan penerapannya sehari-hari di layanan kesehatan. (*)


