
HASAN.VC sebagai mitra kolaborator pendiri memperkuat investasi lintas negara di Indonesia, sementara Moria Ventures dan PUM membuka jalur kolaborasi dengan Arab Saudi dan Belanda
Jakarta, benang.id — Indonesia Halal Innovation and Venture Ecosystem (I-HIVE) resmi diluncurkan pada 14 Oktober dalam gelaran Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 di Jakarta. Inisiatif ini membuka akses yang lebih terintegrasi bagi startup Indonesia yang mengembangkan produk halal untuk menjangkau investor lokal maupun global.
I-HIVE mempertemukan 26 mitra, mulai dari Bank Indonesia, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian PPN/Bappenas, dan lima kementerian, hingga asosiasi industri, investor, perbankan, serta perguruan tinggi. Seluruh mitra bersatu dalam satu tujuan: memperkuat inovator halal Indonesia melalui pengembangan kapasitas dan penciptaan dampak yang nyata di dalam negeri, sehingga mereka mampu berekspansi ke tingkat regional dan global.
Peluncuran I-HIVE berlangsung di tengah tantangan pendanaan yang semakin berat bagi para pendiri startup di Indonesia. Menurut Indonesia Startup Report 2026 yang diterbitkan DiscoveryShift, pendanaan startup di Indonesia pada 2025 tercatat sebesar US$ 355,7 juta melalui 91 transaksi, turun tajam dari sekitar US$ 6,9 miliar pada puncaknya di 2021. Sementara itu, lembaga kajian ekonomi Celios memperkirakan bahwa hanya sekitar 10% modal ventura dalam ekonomi digital Indonesia berasal dari sumber domestik, sehingga para pendiri startup masih sangat bergantung pada investor asing.
Di sisi lain, permintaan pasar justru terus meningkat. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, belanja konsumen Muslim di enam sektor ekonomi riil mencapai US$ 2,6 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$ 3,56 triliun pada 2029. Laporan tersebut menempatkan Indonesia di peringkat keempat dunia.
Bank Indonesia juga melaporkan bahwa rantai nilai halal Indonesia tumbuh sebesar 5,5% secara tahunan pada kuartal II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Dengan berakhirnya masa transisi penerapan kewajiban sertifikasi halal bagi usaha kecil pada 17 Oktober 2026, kebutuhan terhadap solusi teknologi untuk kepatuhan halal, ketertelusuran produk (traceability), dan rantai pasok diperkirakan akan meningkat.
I-HIVE dirancang sebagai katalis untuk membangkitkan kembali ekonomi startup Indonesia dari fondasinya, dengan menjadikan persatuan dan kolaborasi sebagai kekuatan utama. Melalui inisiatif ini, regulator, investor domestik dan asing, serta para pendiri startup didorong untuk bekerja bersama dalam membangun ekosistem yang lebih kuat.
I-HIVE mengintegrasikan ekosistem melalui satu alur pengembangan yang menghubungkan startup sejak tahap inovasi dan pembentukan usaha, inkubasi, kesiapan halal dan investasi, pembiayaan, serta akses pasar hingga tahap ekspansi. Platform ini menghubungkan delapan kelompok pemangku kepentingan, yaitu pembuat kebijakan dan regulator; lembaga penjaminan halal dan kepatuhan syariah; perguruan tinggi dan lembaga penelitian; inkubator dan akselerator; investor; lembaga keuangan sosial Islam; pelaku industri; serta jaringan komunitas dan internasional.
I-HIVE juga akan mengembangkan sandbox untuk inovasi halal dan startup halal, sejalan dengan peta jalan KNEKS bagi ekosistem startup halal yang menargetkan percepatan pada 2026-2027 dan pengembangan skala pada 2030.
“Startup halal Indonesia sebenarnya sudah memiliki produk yang dibutuhkan pasar dan akses ke lebih dari 200 juta konsumen Muslim. Namun, banyak dari mereka masih menghadapi kendala dalam mengakses investor yang memahami bisnis berbasis prinsip syariah dan bersedia mendampingi mereka dalam jangka panjang,” ujar Helma Agustiawan, Deputi Direktur Inkubasi Bisnis Syariah KNEKS.
“I-HIVE menyatukan regulator, investor, dan pendiri startup dalam satu platform, sehingga modal dari dalam negeri, kawasan regional, dan negara-negara Teluk dapat menjangkau para inovator Indonesia dengan lebih cepat.”
Perkuat Investasi Lintas Negara untuk Startup Indonesia

HASAN.VC, sebuah dana modal ventura tahap awal, merupakan mitra kolaborator pendiri sekaligus mitra investasi I-HIVE. Dana HASAN.VC yang berdomisili di Labuan didukung oleh kelompok investor malaikat (angel investors), kantor keluarga (family offices), dan dana wakaf dari berbagai wilayah, termasuk Asia Tenggara, kawasan Teluk, dan Amerika Utara.
Model investasi yang menghimpun banyak investor untuk bersama-sama mendukung para pendiri startup ini mencerminkan semangat kolaborasi dan persatuan yang menjadi landasan I-HIVE. Dalam dua tahun terakhir, HASAN.VC telah mendukung 15 startup Indonesia, menjadikannya salah satu investor modal ventura yang aktif berinvestasi di Indonesia, di tengah pasar yang hanya mencatatkan 91 transaksi investasi startup yang diumumkan secara terbuka sepanjang 2025.
Pada 2024, HASAN.VC menyelenggarakan Jakarta Demo Day bersama Halal Startup Demo Day yang diinisiasi KNEKS. Acara tersebut mempertemukan lebih dari 200 calon investor dengan 18 startup halal dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura. HASAN.VC menjadi satu-satunya investor yang mendukung transaksi senilai Rp3,4 miliar yang terealisasi pada tahun tersebut.
Seiring bertambahnya jumlah investor yang terlibat, nilai transaksi dalam acara tersebut meningkat menjadi Rp 21,1 miliar pada 2025 dan sekitar Rp 35 miliar atau setara dengan US$ 2 juta pada 2026. Dalam dua tahun, nilai transaksi meningkat sepuluh kali lipat, mencakup investasi dan perdagangan.
HASAN.VC menargetkan investasi pada dua startup Indonesia tambahan sebelum akhir 2026 dan berencana meningkatkan skala investasinya di Indonesia pada 2027. “Indonesia memiliki para pendiri startup, pasar yang potensial, dan kini ekosistem yang semakin terkoordinasi. Yang paling dibutuhkan startup Indonesia adalah modal jangka panjang yang bersedia berbagi risiko bersama mereka,” ujar Umar Munshi, General Partner HASAN.VC.
“Melalui I-HIVE, kami berharap dapat menyalurkan lebih banyak modal kepada startup Indonesia sekaligus membuka akses ke investor dan dukungan yang mereka butuhkan untuk berkembang.”
Dalam sesi peluncuran, Munshi juga mengajak investor Indonesia untuk turut berpartisipasi. Menurutnya, keterlibatan investor domestik dapat meningkatkan kepercayaan investor luar negeri untuk berkomitmen menanamkan modal. Dengan kontribusi modal ventura domestik yang baru mencapai sekitar 10% dari total modal ventura dalam ekonomi digital Indonesia, masih terdapat ruang besar untuk memperkuat basis investasi lokal.
Hubungkan Modal dari Arab Saudi dan Indonesia
Moria Ventures, mitra kolaborator I-HIVE lainnya, merupakan perusahaan investasi berbasis prinsip Islam yang berkantor pusat di Jakarta dan menjadi mitra KNEKS. Moria Ventures menghubungkan investor dari Arab Saudi dan kawasan Teluk yang lebih luas dengan perusahaan-perusahaan Indonesia.
Setelah menyelesaikan sejumlah transaksi pembiayaan proyek di Indonesia, Moria Ventures mulai berinvestasi di sektor modal ventura enam bulan lalu dan telah merealisasikan dua investasi. HASAN.VC juga berinvestasi di Moria Fund, bisnis teknologi finansial (fintech) milik Moria Ventures. Hal ini menjadi salah satu contoh awal bagaimana para mitra I-HIVE telah mulai membangun kolaborasi investasi secara nyata.
“Arab Saudi memiliki sumber daya dan mandat melalui Vision 2030 untuk mengerahkan sumber daya tersebut. Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia dan ekonomi yang semakin terdigitalisasi,” ujar Husni M. Bajamal, Managing Partner Moria Ventures.
“I-HIVE menyediakan struktur yang didukung oleh berbagai pemangku kepentingan untuk memperlancar aliran modal, teknologi, dan talenta ke kedua arah.”
Dalam sesi peluncuran, pendiri Moria Ventures, Musab Bin Nosair, juga menyampaikan bahwa pemahaman budaya yang lebih baik dan keselarasan antara kawasan Teluk dan Indonesia akan membuat kolaborasi bisnis lintas negara berjalan lebih lancar dan menghasilkan dampak yang lebih besar.
Dari Eropa, mitra I-HIVE, PUM Netherlands, turut membuka akses ke jaringan bisnis Eropa bagi para pendiri startup dalam ekosistem I-HIVE. Didirikan pada 1978 oleh Kementerian Luar Negeri Belanda dan federasi pengusaha VNO-NCW, PUM memiliki 1.200 tenaga ahli sukarelawan yang memberikan pendampingan kepada usaha kecil dan menengah di lebih dari 30 negara.
ISEF 2026, festival ekonomi syariah tahunan Bank Indonesia, berlangsung pada 14–18 Oktober di Jakarta International Convention Center. Acara ini melibatkan lebih dari 1.000 peserta industri halal dan menghadirkan lebih dari 100 kegiatan. (*/GK)

