DIY-Kyoto Perkuat Persahabatan 41 Tahun, Bidik Pertukaran Pelajar dan Pusat Kebudayaan Jepang

0

YOGYAKARTA, BENANG.ID – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Prefektur Kyoto, Jepang, menjajaki penguatan kerja sama pendidikan dan kebudayaan.

Sejumlah agenda yang dibahas meliputi pertukaran pelajar, pelestarian warisan budaya, hingga pembentukan pusat kebudayaan Jepang di Yogyakarta.

Penjajakan ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan hubungan persahabatan kedua wilayah yang telah terjalin sejak 1985.

Melalui kunjungan ke Jepang pada 4–7 Oktober 2026, delegasi Pemda DIY mendorong agar kerja sama tidak hanya berlangsung antarpemerintah (government-to-government), tetapi juga melibatkan masyarakat, akademisi, pelajar, dan komunitas budaya.

Dalam pertemuan di Ritsumeikan University, Kyoto, Senin (5/10), Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan pentingnya program pertukaran pelajar SMA yang memberikan manfaat nyata, bukan sekadar kunjungan singkat.

“Berikan materi yang membawa manfaat bagi anak-anak selama tinggal satu minggu atau dua minggu. Tidak sekadar pernah ke Kyoto maupun pernah ke Jogja,” tutur Sri Sultan dilansir dari jogjaprov.go.id.

Sri Sultan juga mengusulkan pembentukan lembaga kebudayaan Jepang di Yogyakarta.

Lembaga tersebut diharapkan menjadi pusat informasi mengenai sejarah, kebudayaan, bahasa, serta peluang pendidikan tinggi di Jepang.

Di bidang kebudayaan, DIY dan Kyoto berpeluang bertukar pengetahuan mengenai pelestarian bangunan bersejarah, cagar budaya, dan tradisi masyarakat.

Delegasi DIY mengunjungi Nijo Castle dan Kyoto Museum of Crafts and Design untuk mempelajari pengelolaan warisan budaya yang dapat menjadi referensi bagi pelestarian Sumbu Filosofi Yogyakarta, yang telah diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Direktur Jenderal Urusan Kebudayaan Jepang, Koko Kawamura, menyatakan kesiapan Kementerian Kebudayaan Jepang untuk mendukung kolaborasi tersebut, termasuk pemugaran bangunan bersejarah, pelestarian cagar budaya, dan pengembangan industri kreatif.

“Kementerian Kebudayaan Jepang tentu akan siap mendukung penuh dan bekerja sama. Ada banyak aspek kebudayaan yang bisa kita kerjasamakan,” ujarnya.

Sementara itu, gagasan pembentukan pusat kebudayaan Jepang di Yogyakarta masih memerlukan koordinasi lebih lanjut.

Pengajuan resmi perlu ditempuh melalui Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, dengan Agency for Cultural Affairs Jepang membantu koordinasi dan penyediaan materi yang relevan.

Peluang kerja sama pendidikan juga terbuka melalui Ritsumeikan University.

Wakil Rektor Ritsumeikan University, Prof. Sayaka Ogawa, menjelaskan bahwa satu set gamelan hadiah dari DIY kepada Prefektur Kyoto telah dipercayakan kepada universitas tersebut sejak 2005.

Menurut Ogawa, gamelan bukan sekadar koleksi, melainkan simbol persahabatan dan pertukaran budaya lintas generasi.

“Gamelan ini jauh lebih dari sekadar objek pajangan, melainkan simbol hidup dari pertukaran budaya yang menghubungkan orang-orang, budaya, dan generasi lintas batas,” katanya.

Untuk diketahui, Ritsumeikan University memiliki lebih dari 36.000 mahasiswa, termasuk sekitar 3.300 mahasiswa internasional, serta menjalin kemitraan dengan 471 universitas dan lembaga di 69 negara dan wilayah.

Jejaring tersebut berpotensi mendukung pertukaran mahasiswa dan kolaborasi akademik dengan perguruan tinggi di Yogyakarta.

Pemda DIY selanjutnya akan mengoordinasikan tindak lanjut bersama Prefektur Kyoto dan lembaga terkait.

Fokusnya untuk mematangkan program pendidikan dan kebudayaan agar persahabatan kedua wilayah tidak hanya terjaga, tetapi juga menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan generasi muda. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here