Keterbatasan Bukan Penghalang (5-habis)

0
Pater Markus Solo Kewuta SVD dan Pater Moses Watan Boro membawa dua relikui Santo Petrus menuju Gereja Santo Petrus Lewouran, Flores Timur, Rabu (5/8/2026). Foto: Stanislaus Jumar Sudiyana/PWKI

Lewouran, benang.id — Sukacita atas kedatangan para peziarah juga dirasakan Ketua Dewan Stasi Gereja Santo Petrus Rasul Lewouran, Kalis Muda. Ia menyebut kunjungan sekitar 1.000 anggota Legio Maria sebagai pengalaman istimewa dan bersejarah bagi umat setempat.

“Kehadiran para peziarah bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah peristiwa iman yang membawa sukacita dan kebanggaan tersendiri bagi seluruh umat,” kata Kalis.

Namun, menyambut rombongan sebesar itu bukan perkara mudah. Gedung gereja tidak mampu menampung seluruh peziarah sehingga umat harus mengatur tempat dan pelayanan dengan fasilitas yang terbatas.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Lewouran yang juga hidup di wilayah terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Meski demikian, keterbatasan tidak menyurutkan semangat mereka untuk menerima para tamu.

Dengan mengandalkan gotong royong, kebersamaan, dan ketulusan, umat berusaha memberikan pelayanan terbaik. Mereka terlibat dalam persiapan tempat dan berbagai kebutuhan kegiatan agar para peziarah dapat menjalani ziarah dengan baik.

Bagi Kalis, pengalaman itu menunjukkan bahwa kemampuan melayani tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi juga oleh kesediaan untuk berbagi dan bekerja bersama.

Ia berharap kunjungan tersebut turut membuka perhatian berbagai pihak terhadap kebutuhan umat Lewouran, terutama pengembangan sarana dan prasarana gereja agar dapat melayani peziarah dengan lebih baik pada masa mendatang.

Pater Markus Solo Kewuta SVD membawa relikui Santo Petrus Rasul

ebih dari itu, ia berharap ziarah tersebut menjadi awal bagi semakin bertumbuhnya kehidupan menggereja, semangat doa, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.

Bagi umat Lewouran, relikui Santo Petrus bukan sekadar benda yang mengundang orang untuk datang. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa komunitas kecil yang berada jauh dari pusat Gereja Katolik tetap menjadi bagian dari Gereja universal.

Sementara bagi para anggota Legio Maria, perjalanan dari Gua Maria Rosa Mistika menuju Gereja Stasi Santo Petrus Rasul mempertemukan dua devosi dalam satu pengalaman iman. Dari Bunda Maria, mereka melanjutkan perjalanan menuju Santo Petrus, dengan harapan membawa pulang kekuatan spiritual yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di Lewouran, ziarah tidak berhenti ketika para peziarah meninggalkan gereja dan kembali ke rumah masing-masing. Maknanya justru diuji setelah mereka pulang: apakah doa melahirkan kepedulian, apakah iman menguatkan persaudaraan, dan apakah pengalaman rohani mendorong mereka hadir bagi orang-orang yang membutuhkan.

Di kampung kecil Flores Timur itu, harapan tumbuh dari kesederhanaan. Sebab, iman tidak hanya dirayakan dalam doa, tetapi juga dihidupi melalui pelayanan, solidaritas, dan tindakan kasih terhadap sesama. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here