
Lewouran, benang.id — Bagi Padre Marco, kehadiran relikui Santo Petrus dan fragmen batu dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus juga memiliki makna penting dalam membangun hubungan antara Gereja universal dan komunitas umat di wilayah terpencil.
Dalam bukunya, Relikui Santo Petrus dan Batu Kudus dari Tahta Suci Vatikan di Lewouran, ia mengangkat semangat sinodalitas yang diwariskan Paus Fransiskus. Semangat tersebut menekankan perjalanan bersama, persatuan, dan keterlibatan umat dalam kehidupan Gereja.
Menurut Padre Marco, kehadiran relikui di Lewouran menjadi semacam jembatan spiritual yang menghubungkan Vatikan dengan umat di wilayah pinggiran.
Namun, ia mengingatkan agar kehadiran relikui tidak berhenti pada kekaguman atau sensasi. Pengalaman ziarah semestinya memperkuat iman sekaligus mendorong umat melakukan tindakan nyata bagi sesama.
Ia mengutip kalimat doa yang tertulis di Pintu Doa atau Porta della Preghiera di Basilika Santo Petrus, Vatikan: “Oh Tuhan, buatlah agar imanku berbuat baik.”
“Iman tidak boleh hanya berhenti pada taraf hati dan pikiran, kata-kata, atau perasaan batin, tetapi diterjemahkan secara konkret ke dalam perbuatan amal, kasih sayang, dan pelayanan terhadap sesama,” ujar Padre Marco.
Ia mencontohkan berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat, mulai dari gagal panen, anak yatim piatu, keluarga tidak mampu, orang sakit, lanjut usia, hingga korban perdagangan manusia. Menurut dia, Legio Maria dapat mengambil peran melalui kegiatan kerasulan dan pelayanan kepada kelompok-kelompok rentan tersebut.

Semangat itu pula yang ingin terus dihidupi Sisi bersama para anggota Legio Maria. Ia menyadari bahwa sebagian besar anggota merupakan lansia, pensiunan, petani, dan ibu rumah tangga dengan kemampuan ekonomi sederhana.
Meski demikian, keterbatasan tidak menghalangi mereka untuk melayani. “Kami akan tetap menjaga dan menghidupi serta mengembangkan semangat spiritualitas Maria. Kami akan merasul dalam doa dan karya-karya sederhana, tergantung dari apa yang bisa kami lakukan,” ujar Sisi.
Ia menjelaskan, karya sosial Legio Maria diwujudkan melalui kunjungan dan doa bersama bagi orang-orang yang mengalami musibah, penyandang disabilitas, orang sakit, lansia, serta mereka yang menghadapi persoalan keluarga dan kehidupan sosial.
Dalam sistem Legio Maria, katanya, anggota tidak selalu memberikan bantuan materi. Namun, mereka berusaha berbagi sesuai kemampuan, termasuk melalui kehadiran, doa, perhatian, dan pendampingan.
“Dalam sistem Legio Maria kami tidak memberi apa-apa, tetapi secara sosial kami memberi sesuatu yang ada pada kami sesuai kemampuan kami dan sangat sederhana,” katanya.
Bagi Sisi, kesederhanaan itu tidak mengurangi makna pelayanan. Kehadiran seseorang yang bersedia mendengarkan, menemani, dan mendoakan orang lain juga merupakan wujud nyata kasih. (*/GK, bersambung)
Baca selanjutnya: https://benang.id/keterbatasan-bukan-penghalang-5-habis/

