Ketum Hipmi: Kreativitas Anak Muda Harus Jadi Kekuatan Ekonomi dan Pencipta Lapangan Kerja

0
Ade Jona Prasetyo

Jakarta, benang.id – Momentum Hari Ekonomi Kreatif Nasional yang diperingati setiap 24 Oktober harus menjadi penggerak lahirnya lebih banyak pengusaha muda, peningkatan daya saing produk lokal, serta penciptaan lapangan kerja baru.

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi), Ade Jona Prasetyo, mengatakan, ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia karena bertumpu pada kreativitas, inovasi, teknologi, dan kekayaan budaya bangsa.

Menurutnya, generasi muda Indonesia memiliki kemampuan dan talenta yang sangat besar dalam berbagai bidang, mulai dari kuliner, fesyen, kriya, musik, film, animasi, gim, desain, hingga pengembangan konten digital.

“Selamat Hari Ekonomi Kreatif Nasional. Kami melihat kreativitas anak muda Indonesia merupakan salah satu kekuatan besar ekonomi masa depan. Banyak anak muda kita memiliki ide, karya, dan inovasi yang luar biasa. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kreativitas tersebut dapat berkembang menjadi usaha yang produktif, memiliki pasar yang luas, dan mampu menciptakan lapangan kerja,” ujar Ade Jona, dalam keterangannya, Senin (26/10/2026).

Ia mengapresiasi komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menempatkan ekonomi kreatif sebagai bagian penting dari strategi pembangunan ekonomi nasional.

Ade Jona juga menyambut positif penyelenggaraan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta pada 22–23 Oktober sebagai momentum memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan ekonomi kreatif dunia.

Menurutnya, forum internasional tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri kreatif, sekaligus membuka peluang kolaborasi antara pelaku usaha nasional dengan mitra internasional.

“Hipmi mengapresiasi perhatian pemerintah dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif. Penyelenggaraan forum ekonomi kreatif dunia di Jakarta juga menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kemampuan dan potensi pelaku kreatif Indonesia kepada pasar global. Kita ingin karya anak bangsa semakin dikenal, semakin bernilai secara ekonomi, dan mampu bersaing di tingkat internasional,” katanya.

Ade Jona menyoroti besarnya kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap perekonomian nasional. Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian Ekonomi Kreatif dalam WCCE 2026, sektor ini berkontribusi sekitar 7,38 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia dan menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja.

Menurutnya, angka tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi kreatif bukan sekadar kegiatan berbasis hobi atau ekspresi budaya, tetapi telah menjadi sektor ekonomi yang memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan dan kesempatan kerja masyarakat.

“Ekonomi kreatif memiliki kekuatan yang sangat khas. Modal utamanya adalah gagasan, keterampilan, kreativitas, dan inovasi. Karena itu, sektor ini membuka kesempatan yang luas bagi generasi muda untuk menjadi pengusaha, termasuk mereka yang memulai usaha dengan sumber daya terbatas,” jelasnya.

Meski demikian, Ade Jona mengingatkan bahwa pelaku ekonomi kreatif masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama akses pembiayaan, perlindungan kekayaan intelektual, peningkatan kapasitas usaha, dan perluasan akses pasar.

Ia menilai dukungan terhadap pelaku kreatif perlu diarahkan agar karya yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk dan layanan yang memiliki nilai komersial berkelanjutan.

BPP Hipmi mendorong penguatan pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik industri kreatif, termasuk pengembangan skema yang mempertimbangkan nilai kekayaan intelektual dan potensi bisnis suatu karya.

“Banyak pengusaha kreatif memiliki karya yang bagus dan peluang pasar yang menjanjikan, tetapi belum memiliki aset fisik yang cukup untuk mengakses pembiayaan. Kita perlu terus mendorong ekosistem keuangan yang semakin memahami karakter usaha kreatif, sehingga anak-anak muda yang memiliki ide dan inovasi mendapatkan kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.

Selain pembiayaan, Ade Jona menekankan pentingnya perlindungan hak kekayaan intelektual agar para kreator memperoleh manfaat ekonomi yang adil dari hasil karya mereka.

Ia juga mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, organisasi pengusaha, lembaga pendidikan, industri, dan platform digital untuk memperluas akses pasar serta meningkatkan kemampuan bisnis pelaku kreatif.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan juga perlu dimanfaatkan sebagai sarana meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, dan membuka peluang bisnis baru, dengan tetap memperhatikan perlindungan hak para pencipta karya.

Ade Jona berharap pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya terpusat di kota-kota besar. Setiap daerah memiliki kekayaan budaya, produk khas, serta talenta yang dapat dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah memperkuat ruang kreatif, penyelenggaraan kegiatan ekonomi, inkubasi bisnis, serta kemitraan dengan sektor swasta agar semakin banyak pengusaha kreatif tumbuh di berbagai wilayah Indonesia.

“Indonesia memiliki kekayaan budaya dan kreativitas yang luar biasa dari Sabang sampai Merauke. Potensi ini harus kita dorong menjadi kekuatan ekonomi daerah. Ketika produk kreatif lokal berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kreator, tetapi juga oleh UMKM, sektor pariwisata, perdagangan, dan masyarakat di sekitarnya,” katanya.

Sebagai organisasi yang menaungi pengusaha muda, Ade Jona menegaskan BPP Hipmi siap terus mendukung pengembangan kewirausahaan kreatif melalui kolaborasi, penguatan jejaring bisnis, dan pembukaan peluang kemitraan bagi pelaku usaha.

Ia optimistis bahwa dengan dukungan kebijakan yang tepat dan keterlibatan dunia usaha, ekonomi kreatif Indonesia dapat semakin berkembang menjadi industri yang kompetitif serta mampu memperkuat posisi Indonesia dalam perekonomian global.

“Momentum Hari Ekonomi Kreatif Nasional harus menjadi pengingat bahwa masa depan ekonomi Indonesia juga ada di tangan generasi muda yang berani berkarya, berinovasi, dan berwirausaha. Hipmi ingin semakin banyak kreator tumbuh menjadi pengusaha, semakin banyak karya lokal menembus pasar dunia, dan semakin banyak lapangan kerja lahir dari kreativitas anak bangsa. Kita harus menjadikan Indonesia bukan hanya pasar bagi produk kreatif, tetapi juga produsen karya dan inovasi yang diperhitungkan dunia,” tutup Ade Jona Prasetyo. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here