
Roma, benang.id — Cukup lama berkiprah bersama di dalam perjuangan yang sama untuk perdamaian lintas agama, membuat dua tokoh ini memiliki relasi persahabatan yang mendalam dan bermakna. Mereka adalah Menteri Agama RI yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal Profesor Dr KH Nasaruddin Umar MA dan Romo Markus Solo Kewuta SVD, Staf Kementerian/Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci.
Meski secara fisik berjauhan, satu di Jakarta, Indonesia, dan satunya lagi di Roma, Italia, secara batin hubungan Prof Nasaruddin dan Romo Markus sangat dekat.
Tidak mengherankan jika setiap kali berkunjung ke Vatikan, Prof Nasaruddin tak pernah lupa untuk menemui Romo Markus, sahabatnya. Bahkan bagi Prof Nasaruddin perjumpaan dengan Romo Markus menjadi penyempurna kunjungannya ke Vatikan.
Hal itu diungkapkannya secara spontan kepada Romo Markus, saat bertemu pada jamuan makan siang bersama Dubes RI untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono beserta Ibu, di sebuah restoran Arab di Kota Roma, Rabu siang, 28 Oktober 2026.

Dalam acara tersebut hadir pula Pejabat Fungsi Pensosbud / Konselor Haryadi Satya, dan segenap staf KBRI serta beberapa Romo asal Indonesia. Sedangkan Menag didampingi oleh Sekretaris bidang urusan Katolik, AM Adiyarto Sumardjono (Totok).
“Rasanya belum sempurna kalau belum bertemu Romo Markus,” tutur Prof Nasaruddin, begitu bertemu Romo Markus di meja makan siang itu. Tanggapan Romo Markus? “Saya kaget mendengar kata-kata pertama dari Menag,” ujar Romo Markus. “Saya memahami ini sebagai ungkapan tulus dari sebuah relasi persahabatan yang sudah lama, mendalam dan bermakna.”
Menurut Romo Markus, ungkapan itu bukan sekadar basa-basi, atau bukan juga bahasa rindu dari orang-orang bersaudara atas hubungan darah. “Melainkan oleh karena bersama-sama berkiprah di dalam perjuangan yang sama untuk perdamaian lintas agama,” jelasnya.
Berawal dari kunjungan Paus Fransiskus

Romo Markus yang juga akrab disapa Padre Marco ini kemudian menceritakan awal persahabatannya dengan Prof Nasaruddin dimulai saat kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024.
“Saya mengalami kedekatan dengan beliau, terutama ketika menjadi penerjemah Paus Fransiskus di mana saya boleh menjadi saksi pemberkatan ‘Terowongan Persahabatan’ di area Masjid Istiqlal, dan duduk semeja dengan mereka berdua sebagai saksi penadantanganan Deklarasi Istiqlal 2024,” kenang Padre Marco.
Pertemuan mereka kemudian terulang kembali pada Oktober 2025, ketika Vatikan merayakan 60 tahun Dokumen Nostra Aetate. Padre Marco menjemput Menag di pintu masuk Vatikan dan mengantarkan sahabatnya ke tempat perayaan.
“Pengalaman-pengalaman ini membekas dalam benak dan hati kami berdua,” ujar Padre Marco.
Duduk berdampingan

Mengetahui relasi istimewa mereka, pada makan siang itu, Dubes Trias Kuncahyono memberikan Romo Markus tempat duduk tepat di samping kiri Menag Nasaruddin dan membuka banyak kesempatan bagi kedua sahabat itu untuk berbincang tentang banyak hal.
Menurut Padre Marco, kehadiran Menag Nasaruddin di kancah internasional seperti di Assisi menarik perhatian publik, bukan saja karena viral dengan foto kecupannya bersama Paus Fransiskus tahun 2024 lalu, tetapi karena ia mewakili Muslim Indonesia yang berjumlah sangat besar, urutan pertama di dunia.
“Di Assisi, banyak orang ingin bertemu dan berbicara. Banyak tawaran untuk bertemu satu saat untuk membahas dialog lintas agama dan kerja sama,” ujar Menag Nasaruddin kepada Padre Marco.
Padre Marco menambahkan bahwa Dikasterium untuk Dialog antarumat Bergama di Takhta Suci Vatikan juga berencana untuk bertemu pada April 2027 di Jakarta. “Adapun tujuannya adalah membaharui tekad kerja sama untuk perdamaian dan membahas banyak hal lain terkait Deklarasi Istiqlal 2024. Dan, Pak Menag menyambut ini dengan senang hati,” katanya.
Berharap Romo Markus tetap di Vatikan

Dalam pembicaraan empat mata di meja makan, Padre Marco menyatakan mendukung semua kehendak baik dan kerja keras Prof Nasaruddin Umar selama ini dan ke depannya untuk menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
“Beliau mengaku banyak melakukan kunjungan ke berbagai wilayah Indonesia untuk tujuan yang sama, bahkan ada program kurikulum toleransi dan perdamaian,” ucap Padre Marco.
Menutup makan siang, sebelum bergegas menuju bandara untuk kembali ke Indonesia, Menag Nasaruddin sempat berpesan kepada Padre Marco dengan nada setengah berbisik. “Romo kan satu-satunya putra Indonesia di Vatikan. Tetap di Vatikan saja. Kami semua senang dan mendukung. Kalau tidak ada Romo di sini, nanti kami tidak punya wakil, dan jalan masuk kami juga akan lebih sulit”, tutur Menag, seperti dikutip Padre Marco.
Padre Marco mengatakan, selama menjadi Menteri Agama, Prof Nasaruddin sering menghadiri acara internasional, terutama di Roma, Assisi, dan Vatikan. “Dengan ini beliau membawa Indonesia ke mata dunia sehingga dunia semakin mengenal kehidupan lintas agama di Indonesia dengan segala tantangan dan kelebihannya,” pungkasnya. (*/GK)

