YOGYAKARTA, BENANG.ID – Menikmati suasana Kota Yogyakarta tidak harus selalu dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan bermotor.
Wisatawan bisa mencoba pengalaman berbeda dengan menaiki andong, transportasi tradisional yang masih mudah dijumpai di kawasan Malioboro.
Selain menawarkan sensasi berkeliling kota dengan cara klasik, naik andong juga memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menikmati suasana Yogyakarta secara lebih santai.
Namun, sebelum memutuskan naik andong, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama terkait tarif dan pilihan rute perjalanan.
Yatijo (60), kusir andong asal Wirokerten, Banguntapan, Kabupaten Bantul, mengatakan terdapat tiga pilihan rute perjalanan yang biasa ditawarkan kepada wisatawan, yakni rute dekat, sedang, dan jauh.
Tarifnya berkisar Rp150.000 untuk rute dekat, Rp200.000 untuk rute sedang, dan Rp250.000 untuk rute jauh.
Menurut Yatijo, tarif tersebut bisa mengalami kenaikan saat musim liburan.
Kondisi lalu lintas yang semakin padat membuat waktu perjalanan menjadi lebih lama.
“Untuk kenaikannya sekitar Rp50 ribu per rutenya,” pungkasnya.
Bahkan, untuk rute terdekat, perjalanan bisa memakan waktu hingga tiga jam ketika Malioboro dan kawasan sekitarnya mengalami kemacetan.
“Kalau macet, rute yang paling dekat bisa tiga jam. Saya pernah mengalami itu,” ujar Yatijo yang sudah 38 tahun menjadi sopir andong, Sabtu (31/10/2026)
Tips Sebelum Naik Andong di Malioboro
Yatijo mengingatkan wisatawan agar tidak terburu-buru naik andong sebelum mengetahui tarif perjalanan.
Hal ini penting untuk menghindari kesalahpahaman atau kemungkinan dikenai tarif yang tidak sesuai kesepakatan.
Ia menyarankan wisatawan untuk menanyakan harga terlebih dahulu kepada kusir, termasuk memastikan rute yang akan ditempuh.
Setelah mengetahui tarif dan menyepakatinya bersama kusir, wisatawan baru bisa memulai perjalanan.
“Kalau mau naik, tanya dulu harganya. Setelah tahu dan sepakat dengan tarifnya, baru naik,” pesannya.
Selain tarif, wisatawan juga perlu memperhatikan kapasitas penumpang.
Dalam satu perjalanan, andong yang dikemudikan Yatijo bisa mengangkut sekitar lima orang dewasa dan tambahan tiga anak-anak, dengan tetap memperhatikan kapasitas serta keamanan kendaraan.
Penghasilan Kusir Bergantung Jumlah Wisatawan
Di balik pengalaman wisata yang ditawarkan, keberadaan andong juga menjadi sumber penghidupan bagi para kusir yang setiap hari menunggu penumpang di kawasan Malioboro.
Yatijo mengaku dalam sehari biasanya mendapatkan satu hingga dua kali perjalanan. Jumlah tersebut sangat bergantung pada ramainya kunjungan wisatawan.
“Ya bejo-bejan, kadang pas ramai bisa dapat banyak. Kalau pas sepi, sehari paling cuma satu kali. Seperti hari ini, saya dari pukul 08.00 sampai pukul 14.00 baru dapat satu,” tuturnya.
Meski penghasilannya tidak selalu menentu, Yatijo mengaku tetap bersyukur.
Ia berharap Yogyakarta semakin nyaman dan aman bagi wisatawan sehingga semakin banyak orang yang datang berlibur.
Dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, ia berharap para pelaku usaha wisata tradisional, termasuk kusir andong, juga bisa merasakan manfaatnya.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Malioboro, naik andong bisa menjadi cara menikmati Yogyakarta sekaligus ikut menjaga keberadaan transportasi tradisional yang menjadi bagian dari identitas kota ini. (*)


