TMP jadi Saksi Toleransi dan Gotong Royong Melintasi Batas Iman

0
Foto bersama usai aksi toleransi dan gotong royong lintas iman di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (31/10/2026).

Taman Makam Pahlawan (TMP) Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, tempat peristirahatan terakhir bagi 43 pejuang bangsa, Sabtu pagi, 31 Oktober 2026 itu dilingkupi cuaca sangat cerah, menjadi saksi aksi toleransi dan gotong royong lintas iman.

Diawali apel bersama tepat pukul 06.15 WIB, acara kerja bakti lintas agama di TMP yang diinisiasi Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr bersama Seksi Kematian Gereja Katolik Santo Paulus Kraksaan ini dihadiri seratusan peserta dari berbagai latar belakang agama dan organisasi kemasyarakatan.

Melalui kolaborasi indah bersama Jemaat GKJW Kraksaan, GP Ansor, dan elemen ormas lainnya, tempat suci penghormatan para pahlawan tersebut menjadi arena nyata perwujudan persatuan bangsa.

Apel pembuka dipimpin oleh Zainudin –Kepala SMPK Santo Paulus, dengan inspektur upacara Gunawan Napitu –perwakilan DPP Paroki Santo Paulus Kraksaan.

Dalam amanatnya, Gunawan menekankan betapa krusialnya menjaga kerukunan antarumat beragama sekaligus merawat warisan sejarah serta tempat peristirahatan terakhir para pahlawan. Ia menggarisbawahi pentingnya moderasi beragama sebagai benteng untuk menghindari pemikiran ekstrem dalam kehidupan berbangsa.

Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr (ke-2 dari kiri) foto bersama tokoh/perwakilan lintas iman di depan TMP Kraksaan

Usai apel, apresiasi mendalam disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Siti Mariam SSos MAP, Sekretaris Dinas Sosial yang hadir mewakili Kepala Dinas Sosial Pemkab Probolinggo.

Didampingi Ninuk Fris Handayani SIPem MM –Kabid Pemberdayaan Sosial, Siti Mariam menyampaikan bahwa kolaborasi ini adalah wujud nyata Pancasila. “Baru kali ini ada kegiatan lintas agama yang hebat seperti ini, yang sesuai dengan pengamalan Pancasila sila pertama dan sila ketiga. Semua agama bersatu padu kerja sama untuk Probolinggo Sae,” tuturnya penuh semangat.

Ia menambahkan, selain pas untuk menyongsong peringatan Hari Pahlawan di TMP Kraksaan, 10 November 2026, suasana makam yang bersih tentunya juga akan sangat mendukung pelaksanaan acara apel bersama tersebut.

Setelah rangkaian apel selesai, keceriaan dan keakraban langsung membuncah di seluruh sudut area makam. Para peserta berhamburan membawa perlengkapan kerja bakti yang telah disiapkan dari rumah, mulai dari sapu lidi, sabit, pengki, kain lap, cangkul, hingga kuas cat dan tempat cat.

Suasana gotong royong terasa semakin berwarna dengan keterlibatan aktif para siswa SD Santo Pius dan SMP Santo Paulus Kraksaan. Dengan penuh semangat dan sukacita, anak-anak sekolah memunguti sampah, membantu kegiatan pembersihan, dan membersihkan makam para pejuang.

Kepedulian sosial dan penghormatan jasa pahlawan

Salah satu aksi bersih-bersih makam

Bagi mereka, momen ini bukan sekadar aksi fisik, melainkan sarana pembelajaran lapangan dan nilai praktik agama langsung tentang kepedulian sosial serta penghormatan pada jasa pahlawan. Sesekali terdengar pekik kecil dari peserta kerja bakti karena digigit semut rangrang yang hidup di sekitaran makam, namun alih-alih mengeluh, para peserta malah menjadikan hal itu sebagai bahan cerita dan canda yang meramaikan suasana.

Semangat kebersamaan semakin erat manakala aksi fisik menyatu dengan sentuhan kreativitas. Selain menyapu dan membersihkan rumput liar, peserta juga saling bahu-membahu merapikan makam serta mengecat tembok dan batu paving di sekitar TMP agar kembali asri.

Bapak-bapak dari GKJW Jemaat Kraksaan, Aris Prasetyo dan Misiyani, mengungkapkan rasa bahagia dan bangganya dapat berpartisipasi dalam momen bersejarah ini.

“Ini pengalaman yang sangat menggembirakan dan membanggakan. Pokoknya selesai dari sini semua bersih dan kinclong. Dengan rukun, kita bisa menciptakan damai dan sejahtera untuk masyarakat,” ungkap mereka seraya tersenyum sumringah.

Keakraban lintas iman ini tidak hanya tercermin dari peluh yang menetes bersama, tetapi juga dari kehangatan saat istirahat. Sesuai dengan imbauan panitia, seluruh peserta saling berbagi makanan ringan dan kudapan yang mereka bawa. Canda tawa dan obrolan hangat mencairkan sekat perbedaan agama maupun suku.

Hal kecil dengan cinta yang besar

Aksi membersihkan makam

Pendeta Josephine Christiana Sutrisno Ssi -Teol. dari GKJW Jemaat Kraksaan menyebut momen kebersamaan ini sebagai “hal kecil dengan cinta yang besar”. Menurutnya, mempererat persatuan tidak selalu harus dimulai dari gerakan besar, melainkan dari langkah-langkah nyata di tingkat lokal seperti yang ditunjukkan warga Kraksaan pagi itu.

Ibu Gembala GKJW ini juga memberi ucapan selamat atas peringatan 100 Tahun Keuskupan Malang sekaligus menyampaikan harapan semoga Keuskupan Malang terus menjadi inspirasi dalam merawat persatuan, menumbuhkan toleransi, serta merayakan persekutuan yang indah demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama.

Aksi membersihkan makam

Dukungan dan apresiasi serupa turut mengalir dari elemen ormas pemuda. Abdurrahman dari Pimpinan Cabang GP Ansor menegaskan bahwa aksi bersih-bersih ini membawa pesan simbolis sekaligus praktis yang sangat kuat.

“Ini adalah bentuk dan simbol toleransi kerukunan umat beragama kita dalam satu naungan besar NKRI, sekaligus aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan. Harapan ke depan, ini bisa menjadi rutinitas yang dilakukan semua kalangan tanpa memandang suku, ras, maupun agama,” tegasnya di sela-sela kegiatan.

Semangat ini menunjukkan bahwa isu lingkungan dan rasa hormat pada leluhur merupakan jembatan pemersatu yang sangat efektif.

Teladan konkret

Tabur bunga di makam para pahlawaan

Rangkaian acara yang penuh makna ini diakhiri dengan prosesi tabur bunga di atas pusara para pahlawan. Dengan khidmat dan penuh rasa hormat, para siswa sekolah, orang tua, tokoh agama, serta seluruh peserta yang hadir berjalan mengelilingi makam untuk menaburkan bunga segar.

Prosesi tabur bunga tersebut sekaligus memperingati jasa-jasa pejuang yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa. Senyum kepuasan memancar dari wajah para peserta saat melihat kompleks TMP Kraksaan tampak bersih, rapi, dan megah kembali.

Melalui kerja bakti lintas agama ini, masyarakat Kraksaan telah memberikan teladan konkret bahwa keanekaragaman keyakinan bukanlah penghalang untuk bersatu. Semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan toleransi tinggi yang diperlihatkan oleh segenap warga, tokoh agama, pemerintah, hingga generasi muda sekolah menjadi fondasi utama dalam merawat keutuhan serta keharmonisan hidup berbangsa dan bernegara di Kabupaten Probolinggo. (*)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here