Home Berita Danang Wicaksana Sulistya Dukung Upaya Pelestarian Populasi Berbagai Satwa di Lereng Merapi

Danang Wicaksana Sulistya Dukung Upaya Pelestarian Populasi Berbagai Satwa di Lereng Merapi

0

SLEMAN (13/10), benang.id – Calon Bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya (DWS), mengunjungi Dusun Sorowangsan, Girikerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Senin (12/10/2020).

Dalam kunjungannya tersebut, pria yang karib dengan inisial DWS tersebut berbincang dan membahas terkait persoalan kelestarian lingkungan.

DWS menemui puluhan kelompok masyarakat di dusun tersebut untuk mempelajari berbagai potensi ekonomi dan permasalahan yang dihadapi warga.

Dalam pertemuan tersebut, DWS juga berdiskusi dengan pehobi burung kicauan dan penangkar burung jenis Murai Batu (Copsychus malabaricus) tentang potensi ekonomi dan ancamannya terhadap fungsi ekologi.

Penangkar Murai Batu di dusun Sorowangsan, Lanjar Slamet Riyadi, menyatakan nilai ekonomis yang terus meningkat akibat permintaan burung yang terus naik di satu sisi merupakan berkah bagi peternak.

Namun, dia mengaku khawatir, jika tidak dibarengi dengan upaya penangkaran akan mengganggu populasi burung yang harga perekornya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah itu.

“Potensi ekonominya bagus, kalau tidak ada breeder (penangkar) akan memicu penangkapan Murai Batu di alam, dan itu pasti jadi masalah di kemudian hari,” imbuh Lanjar.

Sejauh ini, Lanjar yang memiliki belasan pasang indukan dalam kandang penangkaran itu mengaku masi kewalahan memenuhi permintaan pasar.

Para kicau mania, sebutan untuk pehobi burung, bahkan mengantre untuk mendapatkan bakalan burung yang biasanya menjadi jagoan di sejumlah lomba itu.

Namun, masih menurut Lanjar, permintaan yang tinggi terhadap jenis burung yang habitatnya tersebar di sejumlah wilayah mulai dari Semenanjung Malaysia, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera itu populasinya terus menurun akibat penangkapan liar.

“Padahal kita semua tahu, bahwa burung adalah salah satu yang menjadi indikator aktifitas vulkanis di Gunung Merapi. Dahulu, burung dijadikan penanda karena mereka akan terbang turun menjauhi lereng Merapi saat menjelang erupsi,” kata Lanjar.

Kekhawatiran Lanjar cukup beralasan, pasalnya, Kecamatan Turi adalah salah satu dari empat wilayah kecamatan di Kabupaten Sleman yang terletak di lereng Gunung Merapi.

Karena itulah, pria yang juga merupakan penggerak pertanian dan budaya di desanya itu memilih teknik pembiakan untuk memenuhi permintaan terhadap burung kicauan, terutama Murai Batu.

Menanggapi hal itu, DWS mengaku mendukung langkah penangkar dan berjanji akan mendukung upaya pelestarian populasi berbagai satwa di lereng Merapi.

Calon Bupati Sleman yang diusung Partai Gerindra, PKB, PPP dan didukung oleh sejumlah partai non parlemen itu memastikan komitmennya terhadap kicau mania, sejauh tidak mengganggu fungsi ekologis dari satwa tersebut.

Menurut DWS, persoalan kelestarian lingkungan di lereng Merapi menjadi salah satu fokus yang tidak dapat dikesampingkan.

Bersama Raden Agus Choliq (ACH) sebagai calon wakil bupati, dia mengaku sedang memetakan dan mengurai persoalan-persoalan demi pemulihan ekonomi pascapandemi.

Di lain pihak, tindakan ekonomi jika tidak dikelola dengan memadai kerap bertabrakan dengan persoalan lain, salah satunya lingkungan.

“Sangat jelas, DWS-ACH berkomitmen membangun wilayah Kecamatan Turi dan sejumlah kecamatan di lereng Merapi dengan memperhatikan fungsi-fungsi ekologis. Saya ngestoaken dawuh Ngarsa Dalem (mematuhi perintah Sultan) yang ingin fungsi daerah tangkapan air di lereng Merapi tidak terganggu,” kata DWS.

Meskipun tetap menjadikan keinginan masyarakat sebagai landasan membangun, namun DWS mengaku harus memastikan persoalan daerah tangkapan air di lereng Merapi.

Dia beralasan, hingga kini wilayah Kecamatan Turi, Pakem, Cangkringan dan sebagian Ngemplak serta Tempel merupakan satu-satunya penopang kebutuhan air di Provinsi DI Yogyakarta.

Untuk meningkatkan kesejahteraan di kecamatan-kecamatan tersebut, DWS-ACH memilih untuk merevitalisasi dan merestorasi kearifan lokal dan kultur setempat.

Masyarakat di wilayah lereng secara turun temurun adalah petani dan peternak, DWS berpendapat bahwa pengembangan wilayah itu dapat dilakukan dengan pembaharuan tata kelola dan penguatan.

“Wilayah Turi ini nantinya akan menjadi salah satu yang dicadangkan untuk food estate, jadi pertanian dan peternakan yang sudah turun temurun itu yang harus dikuatkan. Caranya dengan fasilitasi dan modernisasi. Pokoknya tetap harus memperhatikan fungsi ekologis wilayah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lanjar Slamet Riyadi meminta DWS untuk berkomitmen pada sisi lain masyarakat lereng Merapi.

Dia berharap, nantinya tidak hanya sektor ekonomi saja yang diperhatikan apabila DWS-ACH berhasil memenangkan kontestasi Pilkada Sleman 2020.

“Pendidikan, kesehatan dan fasilitas-fasilitas yang berkaitan dengan potensi kebencanaan juga harus mendapatkan sentuhan,” kata Lanjar.

Selain itu, sebagai kicau mania Lanjar juga berharap nantinya tidak hanya Murai Batu yang ditangkarkan.

Menurut penangkar yang telah bertahun-tahun menggeluti seluk beluk penangkaran, hingga kini masih ada jenis burung endemik dengan permintaan tinggi yang belum berhasil ditangkarkan.

“Target selanjutnya menangkarkan Punglor (Zoothera citrina), karena peminatnya juga banyak dan nyaris seluruhnya merupakan hasil tangkapan dari alam. Ironisnya, Punglor yang terancam itu adalah satwa yang dijadikan maskot Sleman,” kata Lanjar.

Selain perburuan di habitatnya, populasi Punglor Gunung Merapi juga turun drastis akibat erupsi.

Sebelum tahun 2004, populasi Punglor diperkirakan sebanyak 15 ribu ekor.

Jumlah tersebut terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.

Hingga tahun 2019, Pemerintah Kabupaten Sleman, menurut Lanjar bahkan belum memiliki data valid terkait populasi Punglor di habitat alamiahnya.

Menjawab paparan Lanjar, DWS menyatakan kesediaannya untuk kembali berdiskusi memecahkan persoalan di lereng Merapi di waktu yang akan datang.

“Masukan dari warga sini bagu-bagus, tidak hanya soal salak, sapi, kambing saja. Tapi ada persoalan bencana, evakuasi dan potensi ekonomi dari burung kicauan yang ternyata juga dapat mensejahterakan, jadi saya pastikan ke depan harus kita garap,” pungkas DWS. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here