Home Berita Akibat Sengketa Tanah, Anak Gugat Ibu Kandung Di Purwomartani

Akibat Sengketa Tanah, Anak Gugat Ibu Kandung Di Purwomartani

0

Sleman – (14/12), benang.id – Mantan Lurah Purwomartani, Kalasan, Sleman, H. Semiono tidak mengira, perannya sebagai fasilitator mediasi atas sengketa tanah antara ibu dan anak serta beberapa anggota keluarga yang terjadi di wilayahnya bulan Oktober 2019 silam bakal berbuntut panjang.

“Tiba- tiba saya turut jadi tergugat, Mas. Dianggap melawan hukum. Saya beneran kaget,” kata Semiono sembari memperlihatkan tautan dari laman PN Sleman dengan nomer perkara 254/Pdt.G/2020/PNSMN kepada benang.id di rumahnya di Dusun Kadirojo II, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Senin (14/12).

Semiono bercerita, persoalan tersebut bermula saat salah seorang warga yang tinggal di Dusun Bayen meninggal dunia. Orang tersebut, lanjutnya, meninggalkan warisan berupa sebidang tanah.

“Masalahnya, almarhum tidak memiliki keturunan. Kedua orang tuanya pun sudah meninggal. Jadi hak waris tanah tersebut jadi milik saudara kandung almarhum atau keturunannya bagi saudara kandung yang sudah meninggal dunia,” ujar Semiono.

Semiono meneruskan, saat itu, para ahli waris yang terdiri dari saudara kandung serta para keponakan almarhum yang mewakili orang tuanya meminta tolong kepadanya sebagai Lurah Purwomartani untuk menjadi fasilitator mediasi pembagian tanah warisan tersebut.

“Wajar kan, Mas. Kalau di kampung ada kejadian seperti ini terus minta tolong ke RT, Dukuh, atau Lurah buat (menjadi fasilitator) mediasi,” tambahnya.

Singkat cerita, menurut Semiono, mediasi tersebut berjalan lancar dan tiap- tiap ahli waris dapat menerima keputusan pembagian tanah waris dengan lapang dada dengan disertai surat pernyataan yang ditandatangani bersama.

Namun salah satu anak dari ahli waris dari almarhum tidak menerima hasil pembagian waris yang disepakati orang tuanya, padahal orang tuanya anak ahli waris tersebut masih hidup.

“Salah satu keponakan almarhum tersebut turut memasukkan saya dalam gugatan karena tidak terima, soalnya dia tidak diundang saat proses mediasi. Orang tersebut tidak diundang karena ibunya, yang notabene saudara kandung almarhum masih hidup. Ya, ibunya itu yang sah jadi ahli waris. Jadi ini kan sebenarnya murni masalah keluarga, ada anak menggugat ibu kandung serta anggota keluarga lainnya. Jujur, saya prihatin,” tambahnya.

Disinggung soal gugatan yang turut dialamatkan kepada dirinya, Semiono mengaku pihaknya tidak ambil pusing atas isi gugatan tersebut. Pasalnya, dirinya yakin tidak bersalah atas perkara yang sedang bergulir di PN Sleman tersebut. Namun, disisi lain, Semiono merasa prihatin. Gugatan yang melibatkan namanya tersebut mengakibatkan banyak fitnah dari pihak- pihak yang tidak bertanggungjawab diarahkan kepadanya.

“Yang jelas saya dan keluarga malu, Mas. Gara- gara masalah ini saya jadi difitnah macem- macem. Mulai dari ikut makan bagian tanah warisan sampai dituduh memanipulasi status kematian seseorang. Saya waktu itu hanya menjalankan tugas sebagai Lurah, salah satunya menengahi dan memediasi jika terjadi perselisihan diantara warga. Ini sudah keterlaluan, Mas,” kesalnya.

Untuk itu, Semiono mengaku saat ini pihaknya sedang mengkaji langkah hukum yang bakal ditempuh kepada pihak- pihak yang sudah mencemarkan nama baiknya.

“Terus terang, saya nggak ada dendam dengan siapapun, Mas. Tapi kami mengkaji untuk menempuh jalur hukum agar bisa jadi pembelajaran. Kita pengen Purwomartani kedepan itu damai, nggak ada lagi fitnah- fitnahan seperti ini lagi. Cukup saya aja yang kena. Kedepan, jangan ada lagi fitnah- fitnahan antar warga di Purwomartani,” harapnya. (Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here