Home Berita Jajal Kafe Milik Karang Taruna, DWS : Ayo Kalasan dan Prambanan Harus...

Jajal Kafe Milik Karang Taruna, DWS : Ayo Kalasan dan Prambanan Harus Makin Atraktif

0

Sleman (13/10), benang.id – Sadar masih minim rekam jejak di pemerintahan, Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sleman nomor urut 1 Danang Wicaksana Sulistya – Raden Agus Choliq (DWS-ACH) terus bergerilya mengkomunikasikan ide, visi dan misinya.

Seperti yang dilakukan pada Jumat (9/10), DWS mengunjungi kafe di wilayah Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman yang dikelola oleh karang taruna setempat.

Ketua Karang Taruna Pamunkas Desa Tirtomartani, Riska Dian Suryo dalam kesempatan itu tidak hanya mendengar langsung visi dan misi DWS-ACH, melainkan juga memaparkan konsep pemberdayaan ala pemuda di desanya.

Karang Taruna Pamungkas memiliki anggota aktif sebanyak 59 pemuda. Saat ini, mereka mengembangkan berbagai bisnis untuk pemberdayaan dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Tak hanya kafe, Riska menyebut, pemuda di desanya juga mengolah barang bekas menjadi furnitur, jasa dokumentasi foto dan video berbiaya rendah dan pelayanan internet gratis untuk pelajar.

“Sudah dua tahun ini berjalan, sementara masih menggunakan rumah pribadi saya,” kata Riska kepada DWS.

Kafe yang memanfaatkan tanah pekarangan rumah Riska itu menawarkan berbagai macam minuman dan makanan.

Nyaris seluruh menu dan penyajian dikerjakan oleh anggota karang taruna yang menggandeng paguyuban barista sebagai mentor sekaligus quality control.

Istimewanya, kafe yang terletak di pemukiman itu menyajikan pemandangan desa dan jika beruntung, pengunjung dapat menikmati kopi saat matahari tenggelam di lahan persawahan di pinggiran desa.

Sayangnya, area kafe masih belum dapat dikatakan lengkap karena masih terbentur persoalan klasik, modal.

“Setiap tahun kami mengajukan Rp70 jutaan, turunnya paling Rp7 juta mas,” kata Riska.

Modal yang disuplai dari Dana Desa itupun masih harus dibagi untuk 3 jenis usaha.

Masih menurut Riska, pengajuan demi pengajuan bahkan kerap tidak mendapatkan respon.

“Jadi kami ini konsep siap, tapi modal tidak ada. Sampai saat ini belum bisa mengakses lembaga keuangan untuk mengatasi kendala permodalan ini,” imbuhnya.

Menanggapi hal itu, DWS menyatakan akan mencatat seluruh masukan dan keluhan Karang Taruna Pamungkas.

Calon bupati yang menggandeng maestro BUMDES asal Tridadi, Agus Choliq sebagai calon wakil bupati itu optimistis akan memperoleh solusi.

“Yang mengalami persoalan seperti Karang Taruna Pamungkas ini banyak, jadi sekalian harus kita bikin program penguatan saja,” kata DWS.

Menurut DWS, dirinya bersama Agus Choliq memiliki visi utama memulihkan ekonomi paskapandemi.

Untuk itu, dirinya mengaku terus berupaya menginventarisir potensi dan hambatan yang ditemui pelaku usaha, utamanya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Safari politik ke kantung-kantung UMKM, berdiskusi dengan pelakunya, menemui pemuda dan kelompok perempuan dilakuannya untuk memperoleh gambaran persoalan agar dapat menghasilkan strategi pemulihan yang efektif.

“Concern kami DWS-ACH di pemulihan ekonomi paskapandemi, jadi mata rantai ekonomi seperti UMKM dan kelompok usaha kreatif seperti ini harus diberi stimulus agar dapat berputar. Harapannya, sektor lain yang langsung berhubungan dengan masyarakat juga dapat ikut berputar,” kata DWS.

Sebelum berbicara permodalan, DWS mengaku harus memastikan legal formal untuk prasyarat mengakses permodalan terpenuhi dahulu.

Dia menyebut, jika diberikan amanah menahkodai Sleman, administrasi perizinan, badan hukum dan validitas basis data UMKM akan menjadi prioritas.

Tujuannya, agar segera dapat terhubung dan memenuhi syarat untuk mengajukan pinjaman ke bank.

“Selain itu, saya juga menekankan pentingnya membangun Sleman dari bawah. Aspirasi dari masyarakat harus dikawal sejak dari level paling bawah,” imbuh DWS.

Calon Bupati Sleman yang diusung Koalisi Gerbang Persatuan dari Partai Gerindra, PKB, PPP dan didukung oleh sejumlah partai non parlemen itu meminta Riska dan sejumlah anggota karang taruna yang hadir pada pertemuan informal itu untuk menginput ide dan saran.

Kecamatan Kalasan bersama Kecamatan Prambanan dalam program unggulan DWS-ACH dikonsep sebagai Kawasan Wisata Berbasis Budaya dan Peninggalan Bersejarah.

Konsep itu mengacu pada banyaknya peninggalan bersejarah di dua wilayah kecamatan paling timur itu.

“Candi banyak, tapi itu benda mati. Jadi harapan kami DWS-ACH masyarakat di Kalasan dan Prambanan sumbang saran, ide apakah untuk menggerakkan sektor wisata di sini,” kata DWS.

Ketua Paguyuban Kopi Kalasan Prambanan Ari Nugroho yang turut hadir di pertemuan itu menyatakan setuju dengan pendekatan konsultatif yang dilakukan DWS.

Bagi dia, Kalasan dan Prambanan memang kaya akan warisan cagar budaya.

Namun, pariwisata tidak hanya melulu soal destinasi. Pelancong, masih menurut Ari, tidak sedikit pula yang ingin datang karena adanya atraksi wisata.

“Kami pernah ingin membuat event minum kopi gratis di kawasan candi. Nah, untuk Sleman ini ijinnya tidak keluar, jadi kami harus ke Klaten, Jawa Tengah,” kata Ari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here