Home Berita Masuk KRB III, Peternak Tunggul Arum Butuh Perhatian Khusus Saat Erupsi Merapi

Masuk KRB III, Peternak Tunggul Arum Butuh Perhatian Khusus Saat Erupsi Merapi

0

Sleman- (4/12), benang.id – Puluhan hewan ternak sapi dan kambing milik para peternak yang tergabung dalam kelompok kandang ternak “Ngudi Makmur” Dusun Tunggul Arum, Wonokerto, Turi, Sleman membutuhkan perhatian khusus saat terjadi erupsi Gunung Merapi. Pasalnya, lokasi kandang mereka yang berjarak 8 kilometer dari puncak Gunung Merapi termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III saat terjadi erupsi.

Hal tersebut terungkap saat silaturahmi Calon Bupati Sleman nomor 1, Danang Wicaksana Sulistya (DWS) dengan warga masyarakat Dusun Tunggul Arum, Selasa sore (1/12).

“Kami harap, tidak hanya warga yang diperhatikan saat terjadi erupsi (Gunung Merapi), Mas Danang. Ternak- ternak kami juga tolong diperhatikan nasibnya. Sebab, bagi orang dusun seperti kami, hewan ternak merupakan harta yang berharga. Tabungan keluarga kami ada disitu (hewan ternak),” kata Ketua Kelompok Kandang “Ngudi Makmur”, Sujadi, kepada DWS.

Sujadi berharap, pemerintahan Sleman mendatang lebih memperhatikan keselamatan hewan- hewan ternak di wilayah KRB saat terjadi erupsi Gunung Merapi.

“Kalau kami mengungsi, kan ternaknya pada kami tinggal di kandang, Mas Danang. Kalau besok Danang terpilih menjadi bupati (Sleman), mbok tolong kelompok kami dibantu mbangun pagar tinggi buat ngamanin kandang gitu, Mas,” harap Sujadi.

Merespon harapan tersebut, DWS menyatakan, pihaknya bersama Calon Wakil Bupati R. Agus Choliq (ACH) tengah mengkaji soal pembangunan beberapa shelter pengungsian ternak saat terjadi erupsi Gunung Merapi. Selain itu DWS menambahkan, pihaknya juga sudah berdiskusi dengan beberapa pihak mengenai metode dan cara pengungsian hewan ternak agar hewan- hewan tersebut tidak mengalami stress saat proses evakuasi serta saat tinggal di shelter.

“Hewan- hewan ternak njenengan semua itu makhluk hidup juga, mereka punya perasaan. Jadi evakuasinya juga nggak boleh sembarangan biar nggak stress,” jelas DWS.

Dihadapan puluhan warga dan anggota kelompok ternak yang hadir, DWS bercerita, beberapa waktu yang lalu dirinya bertemu dengan Imam Jatmiko seorang peternak asal Dusun Kemirikebo, Girikerto, Turi. Dari peternak muda yang mengkhususkan diri membudidayakan kambing jenis Saanen untuk diambil susunya tersebut, DWS mengaku dirinya belajar dan mendapat masukan mengenai pengelolaan peternakan secara modern, termasuk soal prosedur evakuasi hewan ternak saat terjadi bencana.

“Dari Mas Imam saya medapat banyak masukan soal tata cara evakuasi ternak. Bagaimana caranya biar nggak pada stress ternaknya. Termasuk soal kebutuhan pakan ternak saat berada di shelter,” ujar DWS.

DWS menambahkan, pihaknya bersama ACH juga sedang mengkaji penggunaan pakan alternatif bagi hewan ternak seperti silase dan sejenisnya saat berada di shelter pengungsian.

“Biar bapak ibu sekalian nggak pusing mikir ngarit (mencari rumput) buat ngasih pakan ternak. Kalau pas ngungsi kan nggak bisa ngarit,” imbuh DWS.

Lain lagi yang dikeluhkan oleh Nurudin, salah satu warga Tunggul Arum yang hadir di pertemuan tersebut. Menurutnya, pembangunan di Dusun Tunggul Arum selama ini kurang diperhatikan oleh pemerintah.

“Niki perasaan kulo, lho (ini perasaan saya, lho), Mas Danang. Apa karena letak dusun saya masuk di KRB III jadi nggak perlu dibangun, gitu?,” keluh Nurudin kepada DWS.

Menanggapi keluhan tersebut, DWS menyatakan pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan beberapa akademisi dan perguruaan tinggi di Sleman untuk dapat melakukan kajian pembangunan serta konsep pemberdayaan yang tepat untuk masyarakat yang tinggal di wilayah KRB.

“Untuk itu pentingnya kami menggandeng kalangan Perguruan Tinggi, Mas(Nurudin). Arep dijak mikir karo taren (mau diajak diskusi dan dimintai saran) bagaimana baiknya pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah KRB. Jangan gara- gara masuk wilayah KRB kok terus tidak dibangun. Apa terus berpikir, buat apa dibangun mahal- mahal, nanti kalau kena erupsi juga rusak lagi. Nggak gitu cara mikirnya. Warga di wilayah KRB itu rakyat Sleman juga. Kalau mau mikirke dan membangun Sleman, ya, harus mencakup semuanya,” tandas alumnus SMA Taruna Nusantara Magelang tersebut.

Sebelum ke Tunggul Arum, DWS juga bersilaturahmi dengan tokoh masyarakat di Dusun Wonosari, Bangunkerto, Turi, Sleman. (Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here