Home Ekbis Mei 2020, Inflasi DIY Kembali Meningkat

Mei 2020, Inflasi DIY Kembali Meningkat

0
Ilustrasi Inflasi. (Foto: Shutterstock)

YOGYAKARTA, Benang.id – Pada Mei 2020, DIY mencatatkan inflasi yakni 0,22% (mtm). Dengan realisasi tersebut, laju inflasi DIY secara akumulatif sampai dengan Mei 2020 tercatat 0,72% (ytd) atau secara tahunan yakni 2,09% (yoy). Inflasi bulanan DIY merupakan yang tertinggi di Jawa. Walaupun demikian capaian inflasi tahunan DIY sedikit lebih rendah dibanding inflasi Nasional, yaitu 2,19% (yoy), namun masih berada pada batas bawah sasaran yang ditetapkan.

Tekanan inflasi DIY maupun nasional pada Mei 2020 disebabkan oleh inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah. Adapun inflasi inti relatif stabil, sementara kelompok harga pangan bergejolak masih mengalami deflasi.

Inflasi administered prices mengalami peningkatan seiring aktivitas ekonomi yang mulai berjalan. Tarif angkutan udara pada Mei 2020 mengalami inflasi 15,6% (mtm), setelah dalam 4 bulan terakhir telah turun 19,9% (ytd). Dibukanya kembali aktivitas bandara pada Mei 2020 diiringi dengan pembatasan jumlah kursi penerbangan sebesar 50%.

“Hal ini menyebabkan maskapai mulai meningkatkan tarif angkutan udara, untuk mengkompensasi kerugian akibat penurunan jumlah kursi,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Hilman Tisnawan.

Sementara itu inflasi inti cenderung stabil. Sentimen inflasi kelompok inti berasal dari tarif sewa rumah, yang meningkat 0,35% (mtm). Peningkatan tersebut bersifat siklikal, yang umumnya terjadi pada pertengahan dan awal tahun. Sementara itu deflasi kelompok inti utamanya disumbang oleh komoditas gula pasir, yang turun 3,30% (mtm).

Berdasarkan PIHPS, harga gula pasir sudah mulai bergerak menurun walaupun tercatat masih tinggi di level Rp15.500/kg di akhir Mei 2020. Realisasi impor gula pasir telah masuk ke Indonesia sejak April 2020, sehingga TPID mampu melakukan operasi pasar maupun memasuk stok untuk stabilitas harga. Diperkirakan pada Juni 2020 telah memasuki musim giling tebu, sehingga harga gula pasir akan cenderung menurun pada beberapa bulan kedepan.

Pasokan yang melimpah pada beberapa komoditas pangan utama menyebabkan deflasi kelompok volatile food. Pada komoditas bawang putih, kebijakan relaksasi impor sejalan dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44 Tahun 2019, tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura menyebabkan lonjakan realisasi impor bawang putih. Berdasarkan pencatatan PIHPS, harga bawang putih di DIY pada akhir Mei 2020 mencapai Rp26.250/kg mengalami penurunan 19,2% (mtm) dibanding bulan sebelumnya. Adapun pada aneka cabai, panen raya yang terjadi menyebabkan harga cabai rawit turun 18,2% (mtm) ke rata-rata harga bulanan Rp18.550/kg dan cabai merah turun 17,1% (mtm) ke rata-rata harga bulanan Rp16.500/kg. Deflasi cabai tersebut telah menekan harga di petani mendekati break event point (BEP), sehingga intervensi pemerintah diperlukan untuk menjaga harga tidak turun terlalu dalam.

Dalam kondisi ini, perlu diwaspadai dampak COVID-19 yang telah menyebabkan penurunan penyerapan komoditas pokok di DIY. Deflasi pangan telah terjadi 3 bulan berturut-turut. Bahkandeflasi pangan juga terjadi pada momentum lebaran 2020, dimana pada umumnya terjadi inflasi. Hal ini menyebabkan kerentanan bagi produsen dalam menjaga daya jualnya. Untuk itu upaya pemerintah untuk menggerakkan ekonomi saat ini perlu didukung, dengan tetap memastikan protokol kesehatan menjadi prioritas utama.

Bank Indonesia memperkirakan inflasi DIY 2020 akan berada batas bawah titik tengah sasaran. Untuk memastikan tercapainya sasaran tersebut, Bank Indonesia bersama TPID DIY berkomitmen untuk terus memantau perkembangan harga dan kecukupan stok pangan serta pelaksanaan distribusinya. Selain itu, juga akan terus meningkatkan sinergi dan koordinasi antar lembaga agar stabilitas harga di DIY dapat terus terjaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here