Home Berita Ngaglik Diproyeksikan Jadi Kawasan Budaya dan Minapolitan

Ngaglik Diproyeksikan Jadi Kawasan Budaya dan Minapolitan

0

Sleman, (5/11) – benang.id – Calon Bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya (DWS) bertemu dengan puluhan perwakilan pelaku Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) serta pegiat kesenian rakyat di Kelurahan Minomartani di Dusun Bulurejo, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Rabu (4/11).

Pada kesempatan itu, DWS memaparkan visi dan misi yang diusungnya bersama pasangan Calon Wakil Bupati R. Agus Choliq (ACH). DWS menyatakan dirinya bersama ACH akan menjadikan Kecamatan Ngaglik sebagai kawasan budaya dan minapolitan (menyandingkan budidaya dengan pengolahan hasil perikanan).

Selain pemaparan visi dan misi, DWS melakukan sambung rasa dengan perwakilan masyarakat yang hadir.

Seperti yang disampaikan Suhardi, tokoh masyarakat Minomartani, berharap antara ulama dan umaro bisa bersinergi dalam membangun Sleman kedepan.

Selain itu, ada juga Sumarno, perwakilan sentra UMKM Bakpia di Jl. Tengiri dan Jl. Mujair Desa Minomartani yang mengeluhkan kesulitan modal dan pemasaran bakpia yang terganggu akibat Pandemi Covid-19.

“Pemasaran bakpia selama corona (Pandemi Covid-19) hanya mengandalkan (salah satu fitur aplikasi) ojol, Mas Danang. Kan hasilnya sedikit sekali,” keluh Sumarno.

Sumarno bercerita, sentra bakpia di perumahan tempat ringgalnya dirintis oleh Suharti, yang merupakan warga pindahan dari Kampung Pathuk, Kota Yogyakarta pada tahun 1997.

Selain itu, Sumarno menyebut akses jalan di perumahan Minomartani yang tidak bisa dilewati bus besar menyebabkan usaha bakpia miliknya dan tetangganya sulit untuk berkembang.

Merespon keluhan tersebut, DWS menyatakan akan menjadikan kawasan Kecamatab Maguwoharjo yang letaknya dekat dengan Minomartani akan sebagai kawasan wisata minat khusus.

“Nanti dibangunkan etalase untuk memajang dan menjual produk UMKM sekitar sana termasuk Bakpia Minomartani,” jelas DWS.

Selain itu, DWS memastikan dirinya bersama ACH akan membuat aplikasi untuk membantu mempromosikan potensi serta produk UMKM di Sleman. DWS menambahkan, aplikasi tersebut
juga berfungsi sebagai sarana mendata para pelaku UMKM yang ada di Kabupaten Sleman.

“Jadi kalau ada bantuan untuk UMKM, baik dari pemda maupun dari pusat, paling tidak data UMKM sudah kita pegang. Mudah- mudahan dengan cara tersebut, tidak ada lagi bantuan yang salah sasaran maupun tidak merata penerimanya,” tambah DWS.

Sedangkan Uun, perwakilan kelompok hadroh Az Zukhruf, Dusun Plosokuning 4, menyatakan pihaknya merasa pelaku kesenian tradisional seperti kelompoknya tidak diperhatikan oleh Pemda.

“Tiap kita bikin proposal tidak pernah diperhatikan, Mas Danang,” keluh Uun kepada DWS.

Merespon keluhan tersebut, DWS menyatkan kedepan dirinya memastikan hal tersebut tidak akan terjadi lagi.

“Paling tidak setiap proposal yang masuk harus dipelajari dan kita evaluasi. Kalau ada yang kurang, kita dampingi agar tidak hanya proposalnya, tapi juga program pemberdayaannya benar- benar bisa berjalan,” jawab DWS.

DWS juga kembali mengungkapkan mimpinya untuk membangun gedung pertunjukan yang representatif di Sleman untuk memberi ruang bagi seniman maupun kelompok seni tradisional berekspresi.

“Keinginan kami memiliki gedung pertunjukan bukan hanya untuk gagah- gagahan. Tapi untuk memfasilitasi seluruh potensi seni yang ada di Sleman, termasuk seni tradisional seperti hadroh. Selain itu, kami juga akan membuat banyak festival kesenian agar kesenian tradisional di Sleman bisa berkembang,” tandas DWS. (Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here