Home Berita Pengusaha Kain Tenun Lurik Curhat ke Danang Wicaksana Sulistya, Ingin Bisa Ekspor...

Pengusaha Kain Tenun Lurik Curhat ke Danang Wicaksana Sulistya, Ingin Bisa Ekspor Produk Asli Sleman

0

Sleman (15/10), benang.id – Calon bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya (DWS), mengunjungi pengusaha kain tenun lurik dan stagen di Dusun Pakelan, Sumberarum, Moyudan, Sleman.

Dalam kunjungannya tersebut, DWS berdiskusi dan mendengarkan keluhan dan kendala yang dihadapi para pengusaha kain tenun lurik dan stagen.

Seorang pengusaha kain tenun lurik dan stagen di Dusun Pakelan, Didik Karyadi, memanfaatkan kesempata tersebut untuk mengutarakan keinginannya, agar dapat mengekspor langsung produknya ke luar negeri.

Kepada DWS, Didik menyatakan alasan keinginannya tersebut adalah agar mendapat keuntungan yang lebih sehingga dapat lebih mampu mensejahterakan perajin.

Dampak yang diharapkan, makin banyak generasi muda mau kembali menekuni pembuatan tenun.

Pasalnya, Didik mengaku dirinya adalah satu dari sedikit perajin yang tersisa.

Sebelumnya, Dusun Pakelan merupakan sentra perajin tenun dan dua dekade lalu telah berhasil menjual produk ke sejumlah negara.

Kini, puluhan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) di desa itu banyak yang menganggur karena kesulitan meregenerasi pekerja ahli tenun.

“Dengan memberi harga yang lebih baik kepada pengrajin, kami berharap bisa menarik minat generasi muda untuk terjun di kerajinan tenun,” kata Didik kepada DWS.

Didik yang memiliki puluhan alat tenun di rumahnya itu sebelumnya adalah pengepul barang kerajinan berbahan tenun.

Sayangnya, usaha tenun sempat terpukul resesi ekonomi pada tahun 1997 dan banyak yang tidak dapat bangkit kembali.

Untuk memasok permintaan pasar yang ada, Didik bekerjasama dengan seratusan perajin di sekitar tempat tinggalnya.

Kendati demikian, kapasitas produksi diakui Didik belum optimal karena perajin yang bermitra yang semakin sedikit dan kebanyakan sudah berusia di atas 40 tahun.

“Anak- anak muda sekarang pada nggak telaten (menenun), Mas Danang. Mereka lebih memilih kerja di toko atau tempat lain,” keluhnya.

Para perajin sendiri mengambil bahan baku berupa benang dari tempat Didik untuk kemudian diserahkan kembali dalam bentuk kain.

“Setelah kain- kain tersebut terkumpul di tempat saya, nanti sudah ada bakul (pedagang) dari berbagai pasar di Jogja yang ngambil (beli), Mas,” tambah Didik.

Selain itu, Didik juga bermitra dengan empat orang penjahit yang membantunya memproduksi beberapa jenis pakaian seperti kemeja dan gamis yang dibuat dari kain tenun miliknya.

Didik berkisah, usaha tenun tersebut dirintis oleh ibunya pada tahun 1952 tersebut awalnya hanya memproduksi stagen.

Baru pada tahun 2012, dirinya mulai memproduksi kain tenun dan lurik.

Sementara, DWS mengaku terkejut melihat sendiri kondisi industri tenun tradisional yang meredup.

Menanggapi permintaan untuk memperjuangkan Moyudan sebagai sentra tenun tradisional, DWS memaparkan konsep pengembangan kecamatan yang merupakan salah lumbung pangan DI Yogyakarta itu, terutama di sektor pariwisata.

“Konsep yang dapat DWS-ACH tawarkan adalah membangun terminal turis. Terminal itu nantinya merupakan pusat informasi pariwisata, yang mana akan berfungsi sebagai hub sebelum pengunjung mengelilingi Sleman,” ujar DWS.

Ide itu menurut DWS didasari pemikiran bahwa Moyodan merupakan wilayah Kabupaten Sleman yang paling dekat dengan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulonprogo.

Moyudan, disebut DWS harus dijadikan gerbang wisata Sleman dan terhubung dalam sebuah aplikasi dan program pengembangan wisata secara terpadu.

“Saya dan Mas Agus Choliq siap berkeringat, siap capek. Tapi itu akan sia-sia kalau masyarakat tidak siap bergerak bersama. Destinasi, atraksi dan konsep kemasannya harus disesuaikan dengan keinginan dan potensi wilayah, supaya pengembangan tidak salah sasaran,” terang DWS.

Dalam konsep program intergrated tourism, pemerintah kabupaten akan mewadahi potensi dan memetakan ancaman dan hambatan.

Bentuknya, aplikasi, fasilitas pendukung dan layanan informasi serta transportasi. Selain itu, upaya promosi dan penguatan sumber daya manusia juga harus dilakukan secara masif.

“Jika diberikan kesempatan dan amanah, kita eksekusi ide-ide pengembangan itu. Intinya, tanpa meninggalkan peran Moyudan sebagai lumbung pangan, masyarakat tempatan dapat ikut menikmati kue dari industri pariwisata,” pungkas DWS. (Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here