Home Berita Peringati HUT Kemerdekaan RI ke 75, Kokam DIY Bersihkan Makam Pahlawan Pertempuran...

Peringati HUT Kemerdekaan RI ke 75, Kokam DIY Bersihkan Makam Pahlawan Pertempuran Kotabaru

0
Peringati HUT Kemerdekaan RI ke 75, Kokam DIY membersihkan makam pahlawan dari Muhammadiyah, dan yang gugur dalam pertempuran Kotabaru.
Peringati HUT Kemerdekaan RI ke 75, Kokam DIY membersihkan makam pahlawan dari Muhammadiyah, dan yang gugur dalam pertempuran Kotabaru.

Yogyakarta, Benang.id – Organisasi Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) DIY, organisasi yang berinduk dalam organisasi Muhammadiyah, mengajak seluruh elemen bangsa dapat mencintai NKRI dengan cara bijaksana dan bermartabat dalam momentum kemerdekaan RI ke 75 tahun ini.

“Cinta NKRI itu jangan disikapi dengan luweh-luweh (tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar),” ujar Komandan Kokam DIY Muhammad Ridhwan Selasa (18/8/2020)

Ridhwan menuturkan, belakangan ini semangat cinta NKRI itu memang masih perlu didorong. Tidak sekedar dengan jargon dan slogan seperti ‘Saya Pancasila’ atau sejenisnya saja namun juga perlu disertai dengan teladan.

Kokam juga terus bersinergi dengan aparatur seperti TNI dan Polri dalam membantu berbagai bidang sosial kemasyarakatan. Namun tetap bersikap kritis pada apa yang terjadi.

“Misalnya dalam menangkal berita hoax, kami latih anggota melakukan assesment untuk kritis pada suatu informasi yang terindikasi hoax, lalu membuat informasi yang valid untuk masyarakat,” ujarnya.

Sikap kritis Kokam sebagai organisasi yang menginduk pada Muhammadiyah, ujar Ridwan, sebenarnya wujud kecintaan pada NKRI. Seperti Muhammadiyah yang sudah berjuang sejak 1912 sebelum Indonesia merdeka.

Salah satu sikap kritis itu misalnya ketika menyikapi Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang kini sudah ditarik pemerintah. Sebagai gantinya, pemerintah kini mengusulkan Rancangan Undang-undang Badan Ideologi Pembinaan Pancasila (RUU BPIP).

Ridhwan menuturkan, Kokam sebagai organisasi yang menginduk pada Muhammadiyah, tentu sikapnya akan sama dengan pimpinan pusat.

Namun, ia menegaskan, sikap kepatuhan itu juga harus disesuaikan dan dibarengi dengan kearifan-kearifan lokal yang ada.

“Kontrol kepada pemerintah penting, tapi juga harus disampaikan dengan cara-cara yang santun dan benar, seperti demo dijalan tapi tidak menganggu pengguna jalan lainnya,” ujarnya.

Menurut Ridhwan, sah-sah saja adanya perbedaan pendapat menyikapi sesuatu. Asalkan semua disampaikan sesuai koridor yang benar.

“Karena kalau kita diam saja itu justru salah. Tapi kalau Kokam dan Muhammadiyah bersikap mendukung atau menolak itulah bukti cinta NKRI. Tapi semua aspirasi harus disampaikan dengan cara cara bijaksana, harus ada alasannya” ujarnya.

Sebab di lapangan, masih banyak ditemui generasi muda yang blank sejarah. Terutama jejak kepahlawanan di masa saat perjuangan kemerdekaan.

Ia mencontohkan, momentum kemerdekaan ini Kokam DIY memanfaatkannya untuk membersihkan sebuah makam tua di belakang kompleks Masjid Gede Kauman Yogyakarta. Di komplek makam itu terdapat sejumlah makam pahlawan dari Muhammadiyah yang gugur di era perang kemerdekaan namun belum banyak diketahui generasi muda.

Seperti makam Abubakar Ali, satu dari 21 pemuda yang gugur dalam pertempuran Kotabaru pada Oktober 1945. Ada juga makam Mochammad Wardani.

“Ia gugur dan menjadi pahlawan saat usianya masih duduk di bangku SMP, jadi tak harus menunggu tua menjadi pahlawan,” ujarnya.

Ridhwan menuturkan mencintai NKRI selain memahami sejarah, juga bisa dilakukan dengan peduli situasi dan kondisi sekitar.

Misalnya selama masa pandemi Covid-19, sejak awal Kokam sudah bergerak melakukan bakti sosial sampai sekarang. Seperti pembagian masker, hand sanitizer, sampai sembako yang semua dilakukan mandiri tanpa sponsor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here