Home Polhukam Pilkada 2020, Saatnya Kesampingkan Politik Identitas

Pilkada 2020, Saatnya Kesampingkan Politik Identitas

0
Ilustrasi Pilkada. (Foto: Thinkstock)

YOGYAKARTA, Benang.id – Pelaksanaan Pilkada serentak September mendatang diharapkan menjadi momentum untuk mengesampingkan politik identitas. Bagi masyarakat untuk memilih calon yang mampu menjaga nilai-nilai kebangsaan, bukan lagi calon yang mengedepankan politik identitas.

Kompartemen Ideologi DPP PA GMNI Arief Surahman mengatakan politik identitas mulai mencuat ketika Pilkada DKI beberapa tahun lalu. Dua pasangan calon Gubernur yaitu Anies Baswedan dan Basuki Tjahya Purnama (Ahok) seakan menjadi manifestasi politik identitas. Situasi tersebut bahkan juga terbawa dalam hajatan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 kemarin.

Tahun ini masyarakat Indonesia akan melaksanakan 270 Pilkada pada September mendatang. Pesta demokrasi tersebut diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia untuk kembali meneguhkan identitas dan nilai-nilai kebangsaan dengan mengesampingkan politik identitas.

“Ini bisa dilakukan mana maka kandidat yang diusung partai politik peserta Pilkada tidak mengangkat politik identitas tetapi lebih pada program yang ditawarkan. Dan ini seharusnya juga dimulai dari Partai Politik,” kata Arief.

Menurut pria yang mencalon diri sebagai kandidat Bupati Sleman pada Pilkada 2020 ini, agar tidak terjadi, maka Parpol harus memilih kandidat yang minim resistensi terhadap politik identitas. Oleh karenanya, kata Arief, Parpol harus pinter-pinter memilih kandidat. Jika tidak maka akan sulit untuk mengobati masyarakat yang sudah terjebak dengan politik identitas. 

Ia mencontohkan apa yang terjadi dalam Pilkada di DKI Jakarta yang sangat kental dengan politik identitas. Sehingga terjadi kerusakan yang mendalam dan susah untuk mengobatinya. Bahkan situsasi tersebut terbawa sampai Pilpres 2019 kemarin, dan sampai saat ini itu belum selesai.

“Tak hanya di DKI, ternyata juga menjalar ke daerah lain. Rakyat di daerah lainpun turut serta memberikan komentar bahkan saling menghujat,”tambahnya.

Sementara itu, Rektor UNY Prof Sutrisna Wibawa mengatakan, sudah seharusnya Pancasila tetap menjadi alat perekat keberagaman Indonesia. Sebab di dalamnya terdapat nilai-nilai yang memang bisa menyatukan keberagaman sebuah bangsa. Di mana nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus ditanamkan melalui pendidikan karakter.

Meskipun di sekolah formal juga diajarkan pendidikan karakter, kata Sutrisna, namun yang paling tepat pendidikan karakter ditanamkan mulai dari keluarga hingga masyarakat. Tujuannya agar nasionalisme benar-benar tertanam dalam sebuah bangsa. Sehingga nanti persatuan dan kesatuan bangsa ini tetap terjaga dengan baik.

Ketua Panitia Talkshow Kebangsaan Andika Irfan mengatakan di kalangan generasi muda berbicara masalah nasionalisme seperti ada dan tiada. Terlebih menurut paparan beberapa pihak ada beberapa kampus yang kini sudah terpapar dengan paham radikalisme. Sehingga Pancasila harus kembali digelorakan untuk generasi muda terutama kaum milenial.

“Generasi muda diharapkan bisa menjadi garda terdepan untuk mengingatkan nasionalisme di masyarakat,”ujarnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here