Home Berita Relawan Sorban Ijo Deklarasi, Gerbong Pendukung DWS-ACH Bertambah

Relawan Sorban Ijo Deklarasi, Gerbong Pendukung DWS-ACH Bertambah

0

Sleman, (18/11) – benang.id – Barisan pendukung Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sleman nomor urut 1 Danang Wicaksana Sulistya-Raden Agus Choliq (DWS-ACH) semakin bertambah. Sejumlah pemuda yang berafiliasi dengan sejumlah kyai berbagai pesantren mendeklarasikan Relawan Sorban Ijo di Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Minggu (15/11).

Koordinator Relawan Sorban Ijo Basuki Riyadi menyatakan, selain berdasarkan ketaatan pada perintah para kyai, dukungan kepada DWS-ACH juga didasari kesamaan visi-misi.

“Selain itu, sebagai pemuda kami juga meyakini DWS-ACH ini adalah pasangan yang mampu menjawab tantangan pembangunan Sleman di masa yang akan datang. Masih muda, enerjik dan masih yang terbaik dari pasangan lainnya,” kata Basuki.

Sebagai kelompok dengan latar belakang masyarakat santri, Relawan Sorban Ijo menganggap DWS-ACH memiliki komitmen kuat untuk membangun Sleman dengan memperhatikan faktor adat istiadat, budaya dan kearifan lokal.

Sleman, masih menurut Basuki, adalah bagian tidak terpisahkan dari keistimewaan yang melekat pada Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Karenanya, pendekatan untuk membangun wilayah tetap harus memperhatikan faktor kultural.

“Apalagi Mas Agus Choliq ini adalah paket lengkap. Entepreneur, santri NU, dan organisatoris, jadi kami yakin adat istiadat yang telah turun temurun akan langgeng dan mendapat porsi perhatian nantinya sejalan dengan inovasi dan pengembangan Sleman,” imbuh Basuki.

Relawan Sorban Ijo saat dideklarasikan telah mengumpulkan 535 kader yang mewakili seluruh wilayah kecamatan di Sleman. Basuki berharap, barisan ini dapat segera bekerja keras menggalang suara dari akar rumput untuk pemenangan DWS-ACH.

Basuki menambahkan, Relawan Sorban Ijo merupakan jaringan pendukung muda yang militan. Untuk menggerakkan penggalangan suara, para relawan membiayai berbagai kegiatan secara mandiri dengan membuat berbagai produk untuk dijual.

“Misalnya kami buat kaos, kami jual dan ternyata laku keras sehingga dananya dapat kami gunakan untuk membantu sosialisasi visi-misi paslon nomor 1 di masyarakat,” katanya.

Gerakan Relawan Sorban Ijo masih menurut Basuki merupakan kelompok pendukung yang terbuka. Meskipun diinisiasi oleh kalangan generasi muda NU, namun tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat umum lainnya untuk bergabung.

“Utamanya kaum muda Sleman, monggo bergabung dengan kami demi mewujudkan Sleman yang lebih baik,” lanjutnya.

Ketua Dewan Penasehat Relawan Sorban Ijo Nurharis Salim menambahkan, terbentuknya relawan tidak hanya untuk mengawal pemenangan pasangan DWS-ACH. Nurharis menyebut, dengan semakin banyak yang bergabung bersama, proses pilkada akan lebih mudah diawasi untuk memastikan agar berlangsung adil dan jujur.

“Kami berharap pemimpin Sleman dihasilkan dengan cara jujur dan terpuji, tidak ada penyalahgunaan wewenang dan anggaran untuk memenangkan salah satu calon,” kata Nurharis.

Pasalnya, dalam masa pandemi pemerintah menyalurkan bantuan. Sudah ada indikasi salah satu paslon menunggangi penyaluran bantuan dari pemerintah tersebut dengan menitipkan pesan politik. Bahkan, masih menurut Nurharis, ada sejumlah penyaluran bantuan pemerintah yang kurang wajar karena dilaksanakan pada masa kampanye.

“Kami mendapati dan mengumpulkan berbagai bukti pelanggaran itu ada,” ujarnya.

Netralitas Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman juga menjadi sorotan barisan relawan Sorban Ijo. Sejumlah kejanggalan terjadi selama proses kontestasi dan hampir semuanya merugikan pasangan DWS-ACH yang bukan bagian dari pemerintahan periode sebelumnya.

Terkini, KPU yang hanya mengunggah visi-misi Kustini-Danang Maharsa di jejaring mikroblogging twitter dianggap terlalu vulgar dan menunjukkan ketidaknetralan penyelenggara pemilihan. Lebih jauh, Nurharis menyebut, Sorban Ijo meminta Ketua dan Komisioner KPU Sleman untuk mundur dan mempertanggung jawabkan tindakannya.

Nurharis mengajak semua masyarakat Sleman, untuk memilih pemimpin dengan melihat kemampuannya, kesiapannya untuk membangun. Masyarakat tidak perlu merasa hutang budi kepada pejabat tertentu dengan adanya realisasi program pemerintah yang tiba-tiba banyak di akhir November ini seperti BKK, PKH, hibah pariwisata, hibah budaya dan lainnya.

“Karena siapapun yang menjadi Bupati dan Wakil Bupati, bantuan/Hibah tersebut masih akan tetap ada,” pungkasnya. (Tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here