Satu Suara, Pedagang di Lereng Merapi Rela Tak Berpenghasilan untuk Putus Rantai Corona

0
Taman Nasional Gunung Merapi yang menjadi salah satu destinasi wisata di Kaliurang. (Foto: ANTARA)

SLEMAN, Benang.id – Adanya imbauan untuk WFH (Work From Home) mungkin kurang tepat bagi mereka yang pekerjaannya tidak bisa dibawa pulang. Bahkan beberapa di antaranya justru tidak mendapatkan penghasilan jika mereka harus berdiam diri di rumah saja. Namun, apa boleh buat. Hal tak kasat mata menghantui mereka jika mereka tak berdiam diri di rumah. Hal tak kasat mata itu adalah virus corona.

Pedagang di kawasan wisata Kaliurang di lereng Merapi harus menutup lapak mereka di tengah gempuran wabah virus corona ini. Penghasilan nol rupiah harus mereka terima dari pada bertaruh nyawa dengan virus corona.

Utik Setiani, penjual jadah tempe di Kawasan Wisata Telogo Putri, Kaliurang, harus menutup lapaknya selama kurang lebih 2 minggu. Ditutupnya kawasan wisata Kaliurang oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman membuat lapaknya sepi pembeli. Ia bercerita, sebelum wabah virus corona ramai di Yogyakarta, lapaknya telah sepi pembeli duluan.

“Pendapatannya turun sekali, hampir separuh. Biasanya kalau hari minggu bisa Rp 1,6 juta, belakangan cuma dapet Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu,” ujarnya sedih, Rabu (1/4/2020) malam.

Tak sendirian, hal ini juga dialami oleh pedagang lainnya. Utik bercerita sejak Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman memutuskan untuk menutup kawasan wisata Kaliurang, tak sedikit para pedagang yang memutuskan untuk tutup pula.

Ratusan keluarga di sekitar tempat wisata Telogo Putri harus rela tinggal di rumah. Mungkin ada yang berpikir bahwa warga masih akan keluar untuk beraktivitas. Hal tersebut pun disanggah oleh Utik. Keluarganya tak berani keluar jika bukan karena hal yang mendesak.

“Takut (dengan virus corona), pokokmen (pokoknya) takut. Nggak berani keluar rumah kalau nggak penting, (kami) tahu penularannya cepat. Mikir juga untuk keluar,” katanya.

Dengan kebesaran hatinya, Utik rela menutup lapaknya demi memutus rantai penyebaran virus corona. Ia pun bersyukur warga di sekitar rumahnya ikut menyadari betapa berbahayanya virus corona.

“Alhamdulilah warga sini manut semua, dengan adanya itu tutup ya udah tutup,” katanya lega.

Untuk biaya sehari-hari, Utik mengatakan ia dan keluarga mengandalkan tabungan yang dimiliki. Ia juga berharap kebijakan yang diterbitkan Presiden Joko Widodo untuk menggratiskan listrik selama 3 bulan dan penundaan angsuran benar-benar bisa terealisasi.

Ia mengatakan kejadian ini berbeda dengan erupsi Merapi. Menurutnya, Merapi lebih bisa dipahami oleh manusia. Berbeda dengan wabah yang bisa dibilang baru ini.

“Kalau Merapi kan keliatan, kalau (tandanya) gitu udah mau selesai kita bisa pulang, kalau ini kan nggak tau,” ujarnya.

Keputusan untuk menutup usaha ini juga dialami oleh Supardi, pemilik warung di kawasan wisata Kaliurang. Berbeda dengan Utik yang tidak ada pembeli akibat wabah corona, Supardi masih memiliki pembeli karena dagangannya berupa aneka minuman, roti bakar, dan makanan ringan lain.

Ia pun sempat ragu untuk menutup warungnya lantaran belum ada perintah yang jelas dari pemerintah soal penutupan warung di kawasan wisata Kaliurang. Warga sekitar pun tidak bisa memberikan jawaban yang jelas ketika ditanya siapa yang meminta untuk warung ditutup.

“(Wabah) corona kan global, mau nggak mau saya harus ambil keputusan. Untuk sementara (warung) saya tutup dulu,” cerita Supardi sedih.

Ia pun memiliki 5 orang karyawan yang menjaga warungnya. Ketika memutuskan untuk tutup, ada karyawannya yang kurang setuju. Namun, hatinya telah mengatakan untuk menutup warung kecilnya tersebut. Keputusan untuk menutup warung akhirnya bisa diterima.

Supardi pun tetap memberikan gaji bagi kelima karyawannya. Namun, besaran gajinya tidak sama dengan gaji bulanan biasanya. Supardi menggaji karyawannya tersebut separuh dari gaji biasanya.

“Ya kabeh kudu ngerti, bapak le entuk hasil seko kene. Ning nek seko kene mung diperan-pereni, terus ditakoni ra jelas, lha bapak lebih baik kan ditutup. (Ya semua harus paham, bapak dapat pendapatan dari sini –warung-. Tetapi kalau dari warung ini hanya didatangi, lalu ditanya-tanya tidak jelas, lha bapak lebih baik tutup warung),” ujarnya pelan.

Supardi meminta agar pemerintah bisa memberikan kebijakan yang jelas pada para pedagang terkait keputusan untuk menutup usahanya. Karena selama ini, para pemilik warung hanya bisa berkata ‘katanya warga’ ketika ditanya soal siapa yang meminta untuk menutup warung.

“Harapannya mudah-mudahan cobaan yang kayak gini segera selesai,” ujarnya.

Supardi memang memutuskan untuk meliburkan warungnya selama 1 bulan. Saat ditanya apakah bulan depan akan kembali membuka warungnya, ia terdiam sesaat. Ia tahu bahwa virus corona bukan masalah yang sederhana. Namun di sisi lain, ia juga perlu penghasilan dari warung kecilnya itu.

“Kalau memang condong penyakit marak (berbahaya) ya nggak berani (buka),” katanya.

Tak hanya pedagang saja, hotel, penginapan, dan pondok wisata di kawasan wisata Kaliurang juga harus menghentikan tugasnya untuk menerima tamu. Ketika Dispar Sleman menutup kawasan wisata, saat itu juga usaha penginapan mandeg.

“Kita sebagai Asosiasi Perhotelan Kaliurang ikut membantu memutus rantai penularan COVID-19 dengan dasar dari surat penutupan kawasan wisata kaliurang. Kami kepada semua anggota untuk sementara menghentikan kegiatannya,” ujar Heribertus Indiantara, Ketua Asosiasi Perhotelan Kaliurang (Aspek), saat dihubungi melalui nomor pribadinya.

330 anggota ASPEK merasakan dampak dari wabah virus corona ini. Walaupun demikian, pihaknya percaya bahwa langkah Dispar Sleman untuk menutup kawasan wisata ini merupakan langkah untuk melindungi warga.

Ia mengatakan bahwa menutup kawasan wisata menjadi salah satu upaya untuk mencegah pendatang berkunjung ke Kaliurang. Pasalnya, selama ini kasus COVID-19 di Yogyakarta mayoritas adalah dari pendatang maupun ditularkan dari pendatang (imported case).

“Ini perintah dari Kadispar, jadi ketika kawasan ini ditutup, imbauannya ya penginapan juga ditutup, tujuannya adalah untuk memutus rantai COVID-10, dan cara paling efektif ya itu to (dengan menutup kawasan wisata),” ujarnya.

Tak hanya penginapan saja, pelaku wisata jip juga terdampak karenanya. Namun apa boleh buat, virus corona menghantui jika mereka tetap nekat buka dan mendatangkan pendatang dari luar.

“Ada masyarakat biasa yang dalam hidupnya ingin terlindungi, bahwa yang dilawan itu tidak kelihatan, virus tidak kelihatan, kita bersama-sama dukung usaha pemerintah untuk putus rantai penyebaran,” tegasnya.

“Berat sih (untuk menutup penginapan), karena kita juga perlu hidup perlu makan. Tapi ya sak donya (sedunia) merasakan (dampak virus corona). Seluruh dunia lumpuh,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here