Home Umum Silaturahmi DWS : Belajar BUMP Pada Kyai Nuriman Mlangi

Silaturahmi DWS : Belajar BUMP Pada Kyai Nuriman Mlangi

0

Sleman, Benang.id – Calon Bupati Sleman Danang Wicaksana Sulistya (DWS) bersilaturahmi kepada KH Nuriman Mukim, pengasuh PP Hidayatul Mubtadi’in, Mlangi, Nogotirto, Gamping Sleman, Senin (14/9).

Dalam kunjungan yang didampingi Khatib Syuriah PCNU Sleman KH Fahmi Basya itu, DWS memohon restu dan menimba masukan dari para kyai kharismatik di komplek pesantren Desa Mlangi.

Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in adalah salah satu lembaga pendidikan yang mengkhususkan pada penghafal Al Quran dengan tambahan kajian kitab klasik.

Kendati demikian, KH Nuriman menerapkan sistem keuangan pesantren moderen yang tidak menggunakan uang tunai dan tanpa kertas dalam pencatatan administrasi.

Pesantren tersebut memiliki aturan ketat tentang penggunaan uang digital. Selain itu, pondok juga mengelola Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP) sebagai induk dari usaha laundry, minimarket, katering dan barbershop.

“Semua dikelola pondok, bukan dikelola kyai. Jadi akses keuangan hanya dimiliki oleh manajemen BUMP”, tutur Nuriman.

Ditemani menantunya Zaranudin, Nuriman menyampaikan berberapa pandangan tentang modernisasi sistem pesantren kepada DWS.

“Pesantren cashless dan paperless bisa sangat transparan. Jadi kita bisa mengawasi pola belajar dan pola penggunaan uang santri,” jelas Nuriman.

Di pesantren tersebut, setiap santri berbelanja menggunakan kartu. Nomor induk santri sekaligus digunakan sebagai nomor rekening dan berbagai nomor layanan lain.

Para santri di pondok tersebut mendapatkan pembatasan penggunaan uang belanja. Pengasuh menetapkan batas atas jumlah uang yang dapat diberikan orang tua kepada santri sebagai saku.

“Pembelanjaan sehari ada batasnya, jadi tidak bisa jatah hari berikutnya dipakai hari ini, misalnya,” kata Zaranudin.

Dengan strategi itu, hampir tidak pernah ada kehilangan uang di pondok. Selain itu, penerapan satu nomor tunggal juga dapat membuat proses belajar lebih efisien karena absensi santri maupun guru serba digital.

Di sisi lain, BUMP Hidayatul Mubtadi’in juga mampu menyumbang hingga Rp100 juta perbulan untuk operasional pendidikan.

Zaranudin menambahkan, unit-unit usaha juga merupakan ajang bagi santri mengasah keterampilan kewirausahaan.

“Kami sedang menghitung, ke depan ingin mengembangkan peternakan. Selain untuk operasional pendidikan, ini juga dalam upaya menuju kemandirian pesantren,” katanya.

DWS menyatakan apreseasi yang tinggi atas sistem yang diterapkan di pondok tersebut.

“Sejauh ini banyak potensi yang bagus dan dapat didorong untuk menjadi percontohan. Ini modal besar untuk penataan pesantren di Sleman ke depannya,” kata DWS.

Selain mengunjungi pesantren, kesempatan DWS berkunjung ke Mlangi juga digunakan untuk melihat dari dekat potensi UMKM setempat.

“Macam-macam, ada konveksi, kuliner, kerajinan, seni dekorasi, dan tekstil,” ungkapnya.

Jika diberikan kesempatan memimpin Sleman, DWS berkomitmen untuk menjadi fasilitator penataan Mlangi sebagai ikon kawasan budaya pesantren yang unggul dan moderen.

“Ini perlu keterlibatan semua elemen. Saya tunggu bagaimana konsep yang diinginkan masyarakat Mlangi, kita bareng-bareng mewujudkan,” tandasnya.(JOS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here