Transaksi melalui QRIS, standar kode QR nasional Bank Indonesia, tumbuh 142% di platform Xendit antara Januari 2025 dan April 2026, lebih tinggi dibandingkan dengan transaksi kartu kredit yang tumbuh 83%
Jakarta, benang.id – Xendit, perusahaan penyedia infrastruktur pembayaran, hari ini meluncurkan Xendit Ecommerce Payments Momentum Report 2026 bersama Cube, perusahaan penyedia intelijen pasar ecommerce. Laporan ini menggabungkan data transaksi Xendit dengan hasil survei terhadap 6.000 konsumen di enam negara, termasuk 1.000 responden di Indonesia.
Sebanyak 51% responden di Indonesia mengaku membatalkan pembelian online dalam tiga bulan terakhir karena metode pembayaran pilihan mereka tidak tersedia. Persentase ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara. Sementara itu, penggunaan metode pembayaran real-time terus meningkat, dengan transaksi melalui QRIS, standar kode QR nasional Bank Indonesia, tumbuh sebesar 142% di platform Xendit antara Januari 2025 dan April 2026.
“Konsumen Indonesia kini semakin meninggalkan pembayaran tunai. Pertanyaannya, apakah pelaku usaha mampu mengimbangi perubahan ini dengan menyediakan pilihan pembayaran yang sesuai? Laporan kami menunjukkan bahwa alasan utama konsumen membatalkan pembelian adalah tidak tersedianya metode pembayaran yang mereka inginkan,” ujar Nazim Ali, Presiden Xendit.
“Kuncinya bukan sekadar menyediakan berbagai metode pembayaran, tetapi juga memahami tren penggunaan dan pertumbuhan metode pembayaran, serta peluang bisnis yang mengiringinya,” imbuhnya.
Pembayaran real-time semakin populer
QRIS menjadi metode pembayaran dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Transaksi QRIS di platform Xendit meningkat 142% antara Januari 2025 dan April 2026, dibandingkan dengan transaksi kartu kredit yang tumbuh 83%. Sementara itu, transfer bank, yang juga merupakan salah satu metode pembayaran real-time utama, diperkirakan digunakan dalam 52% dari total pembelian yang dilakukan oleh responden survei.
Xendit merupakan penyedia layanan akuisisi QRIS berlisensi, sehingga pelaku usaha dapat menerima pembayaran QRIS melalui Xendit tanpa perlu menunjuk bank lain sebagai penyedia layanan akuisisi. Laporan ini menemukan bahwa semakin banyak pelaku usaha menginginkan sistem pembayaran yang terhubung langsung ke jaringan pemrosesan transaksi (direct-to-rail).
Sistem ini dapat memberikan visibilitas data transaksi yang lebih jelas, menyederhanakan rekonsiliasi dan pengembalian dana, serta mempermudah pengelolaan pembayaran sehari-hari sekaligus membantu memitigasi risiko penipuan. QRIS juga mendukung pembayaran lintas negara melalui integrasi dengan PromptPay di Thailand dan DuitNow di Malaysia. Laporan ini memperkirakan bahwa sistem pembayaran real-time di Asia Tenggara akan semakin mengarah pada model jaringan regional pada 2027.
Konsumen membatalkan pembelian ketika metode pembayaran pilihan tidak tersedia
Tidak tersedianya metode pembayaran pilihan menjadi kendala utama yang dihadapi konsumen Indonesia saat menyelesaikan transaksi online, dengan persentase lebih tinggi dibandingkan Malaysia (31%). Dompet digital masih menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan, digunakan dalam sekitar 60% pembelian responden.
Bahkan, 70% responden menggunakannya untuk setidaknya separuh pembelian mereka, tertinggi di antara enam negara yang disurvei. GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay menjadi pemain utama di pasar ini, tanpa ada satu merek yang mendominasi.
Preferensi metode pembayaran juga berbeda antarwilayah di Indonesia. Megatix, platform penjualan tiket yang menjadi mitra Xendit, menyebutkan bahwa konsumen di Jakarta lebih banyak menggunakan virtual account, sedangkan transaksi di Bali didominasi oleh kartu pembayaran internasional.
Penggunaan COD di Indonesia menurun lebih cepat dibandingkan di sebagian besar negara Asia Tenggara
Sebanyak empat dari 10 responden di Indonesia (40%) mengaku kini jauh lebih jarang menggunakan metode pembayaran tunai saat barang diterima (cash on delivery/COD) dibandingkan setahun lalu. Angka ini merupakan yang tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Thailand (45%). Meski demikian, COD masih digunakan dalam sekitar 40% dari total pembelian responden, meskipun kontribusinya terhadap total nilai transaksi ecommerce relatif lebih rendah.
Di enam negara yang disurvei, termasuk Indonesia, diskon atau cashback menjadi alasan utama konsumen untuk beralih ke metode pembayaran lain, lebih berpengaruh dibandingkan proses pengembalian dana yang cepat atau keamanan pembayaran.
Penjualan di platform ecommerce kembali meningkat
Penjualan di Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, tiga platform ecommerce terbesar di Asia Tenggara, naik sekitar 33% pada kuartal pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, setelah pertumbuhan melambat pada 2024. Seiring meningkatnya transaksi online, pelaku usaha berisiko kehilangan penjualan jika tidak menyediakan metode pembayaran yang diinginkan konsumen.
Perilaku konsumen dalam mencari dan memilih produk juga mulai berubah. Di Asia Tenggara, sebanyak 53% konsumen menggunakan kecerdasan buatan generatif (AI generatif) untuk menemukan produk, sementara 78% memanfaatkannya untuk mencari informasi dan membandingkan produk sebelum membeli. Angka ini melampaui penggunaan mesin pencari (74%) dan situs ulasan produk (72%).
Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia beralih dari pembayaran tunai ke pembayaran digital lebih cepat dibandingkan dengan sebagian besar negara lain di Asia Tenggara. Metode yang semakin banyak digunakan meliputi QRIS, dompet digital, dan transfer bank. Namun, pilihan pembayaran setiap konsumen berbeda-beda. Karena itu, pelaku usaha perlu menyediakan beragam metode pembayaran agar pelanggan dapat bertransaksi dengan mudah. (*/GK)


