Malang, benang.id – Kota Malang kehilangan sosok pengusaha sekaligus tokoh yang mampu menyatukan banyak perbedaan dan menjadi penghubung berbagai lapisan masyarakat. Di tengah suasana zaman penuh perdebatan dan kepentingan kelompok, Indra Setiadi yang selalu hadir dengan cara sederhana: merangkul, mendengarkan, dan menjaga persaudaraan itu, telah berpulang pada Senin, 18 Mei 2026.
Agustinus Tedja Bawana, Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT) mengungkapkan rasa duka yang sangat mendalam atas meninggalnya pemilik Restauran Kertanegara tersebut yang dekat dengan berbagai elemen masyarakat. “Saya sangat berduka, beliau orang yang luar biasa rendah hati,” ujarnya kepada benang.id melalui pesan WA-nya, Kamis (21/5/2026) malam.

Tedja Bawana mengenal Indra Setiadi sebagai orang yang tidak pernah membatasi diri dalam bergaul. Dari kalangan pemuda, relawan kemanusiaan, tokoh masyarakat, hingga aparat dan komunitas sosial, semua merasa nyaman berada di dekatnya. Sosoknya hangat, mudah tersenyum, dan mampu mencairkan suasana dalam keadaan apa pun.
Kata Tedja, dalam beberapa dokumentasi kegiatan, terlihat bagaimana Indra selalu hadir di tengah masyarakat tanpa menjaga jarak. “Ada foto ketika beliau duduk santai di kendaraan lapangan bersama relawan dan masyarakat kecil. Momen itu menggambarkan bahwa Pak Indra bukan tipe pemimpin yang hanya hadir di belakang meja. Ia memilih turun langsung, menyatu dengan orang-orang yang bekerja di lapangan, mendengarkan cerita mereka, dan memberi semangat tanpa perlu banyak kata,” kenang Tedja.

Pada dokumentasi lain, lanjut Tedja, Indra tampak bersama relawan, aparat, dan tim kemanusiaan dalam kegiatan sosial serta kebencanaan. Kehadirannya dalam berbagai kegiatan Monitoring Disaster Impact (MDI) menjadi bukti bahwa kepeduliannya bukan sekadar ucapan. Ia mendukung banyak gerakan kemanusiaan, membantu menghubungkan banyak pihak, dan sering menjadi sosok yang menguatkan solidaritas di tengah situasi sulit.
“Yang paling melekat dari diri Pak Indra adalah kemampuannya menjaga hubungan baik di tengah perbedaan pendapat. Ketika muncul gesekan antarkelompok atau kesalahpahaman, beliau sering menjadi penengah. Dengan pembawaan tenang dan cara bicara yang halus, beliau mampu membuat suasana kembali adem. Banyak orang mengatakan bahwa Pak Indra selalu berusaha menjaga tali silaturahmi agar tidak putus hanya karena ego sesaat,” beber Tedja..

Sikap rendah hati Indra Setiadi, menurut Tedja, juga terlihat dalam kesehariannya. Meski memiliki peran besar dalam banyak kegiatan sosial dan organisasi, Indra tidak suka tampil berlebihan. Ia lebih nyaman bekerja di belakang layar. Baginya, keberhasilan sebuah gerakan bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi tentang manfaat yang bisa dirasakan masyarakat.
Lebih jauh Tedja mengungkapkan bahwa dalam pergaulan sehari-hari, Indra Setiadi dikenal dermawan dan suka membantu tanpa pamrih. Banyak bantuan diberikan diam-diam tanpa perlu diketahui orang lain. Ia memahami bahwa tidak semua kebaikan harus dipublikasikan. Yang penting, ada orang yang terbantu dan ada masalah yang bisa diringankan.

Tedja menyebutkan bahwa foto-foto kebersamaan Indra Setiadi juga memperlihatkan satu hal penting: Indra selalu membawa suasana hangat. Duduk sederhana bersama sahabat, berbincang santai dengan relawan, atau hadir di tengah masyarakat tanpa protokoler berlebihan menjadi gambaran nyata tentang siapa dirinya. Sosok yang memilih dekat dengan rakyat, bukan menjaga jarak. Tak terkecuali dengan karyawannya.
“Karyawan saya adalah keluarga, warga sekitar adalah saudara, dan mereka yang sedang sakit atau sulit adalah tanggung jawab kita bersama. Pandemi mengajarkan satu hal: harta bisa habis, nama bisa luntur, tapi jejak kebaikan dan rasa persaudaraan akan abadi dikenang selamanya,” tutur Indra Setiadi pada suatu kesempatan.

Tak ada gading tak retak. Indra memang bukan manusia sempurna. Ia juga memiliki kekurangan sebagaimana manusia lainnya. Namun dari perjalanan hidup dan pengabdiannya, banyak orang belajar tentang arti ketulusan, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Ia tidak sibuk mencari penghormatan, tetapi justru dihormati karena ketulusannya.
“Bagi banyak orang, almarhum Indra Setiadi adalah simbol persaudaraan di tengah perbedaan. Sosok yang tidak pernah lelah menebar kebaikan, menjaga hubungan antar sesama, dan terus berusaha menjadi manfaat bagi lingkungan sekitarnya,” tandas Tedja.
Itulah alasan mengapa Indra Setiadi selalu dikenang dengan rasa hormat oleh banyak orang yang pernah berjalan bersama dalam perjalanan kemanusiaan dan kehidupan sosial di Kota Malang.
Tepis radikalisme dan intoleransi

Pada bagian lain, Tedja mengungkapkan bahwa di balik sosoknya yang dikenal sebagai pemersatu berbagai golongan, Indra Setiadi juga telah berjalan dalam sunyi perjuangan yang tidak banyak diketahui publik. “Bersama kami di MDI, beliau ikut berdiri di garis depan dalam upaya menepis radikalisme dan intoleransi yang perlahan mencoba merusak persaudaraan di tengah masyarakat,” tegas Tedja.
Perjuangan itu, sambungnya, bukan sekadar rapat, wacana, atau pidato. Itu adalah kerja hati. Kerja panjang yang menguras tenaga, pikiran, bahkan keberanian. Tedja kemudian menyebutkan salah satu momen Indra Setiadi melawan intoleransi dalam Gerakan 1000 Sajen & Dupa, sebagai tanggapan atas aksi seorang pria membuang dan menendang sesajen di lokasi erupsi Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur, yang videonya diunggah 11 Januari 2022, dan kemudian viral.

“Bersama Kyai Haji Musrifin, dan Gus Hisa, kami saling bahu membahu membangun ruang persaudaraan lintas keyakinan dan budaya. Di tengah suasana yang saat itu penuh ketegangan sosial, kami percaya bahwa perlawanan terhadap intoleransi tidak cukup dilakukan dengan kemarahan. Ia harus dijawab dengan persatuan, budaya, doa, dan simbol kedamaian. Lahirlah gerakan yang kemudian dikenal sebagai “1000 Sajen & Dupa”,” papar Tedja.
Tedja mengenang bagaimana gerakan kecil itu tak disangka-sangka berkembang menjadi lautan cahaya dan aroma persaudaraan. Malam itu, hingga 30.000 dupa menyala bersama. Asapnya membumbung memenuhi kawasan Balaikota Malang hingga menuju Stasiun Kota Baru. Jalanan seperti diselimuti kabut putih harum dupa — bukan kabut ketakutan, melainkan kabut doa, toleransi, dan harapan. Orang-orang berdiri terdiam. Sebagian menitikkan air mata. Sebagian lagi baru menyadari, bahwa menjaga Indonesia tetap damai ternyata membutuhkan keberanian yang sangat besar.

“Karena melawan intoleransi bukan perkara mudah. Ada tekanan, cibiran, bahkan ancaman. Ada pihak-pihak yang ingin memecah persaudaraan. Namun Indra Setiadi tidak pernah mundur. Dengan sikapnya yang tenang dan merangkul semua pihak, beliau mampu menjadi jembatan ketika banyak orang memilih tembok. Beliau percaya bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci. Dan bahwa kemanusiaan harus selalu ditempatkan di atas ego golongan. Di situlah kekuatan beliau yang sesungguhnya. Bukan hanya sebagai tokoh organisasi. Bukan hanya sebagai pengusaha. Tetapi sebagai penjaga persaudaraan,” pungkasnya. (*/GK)


