Jakarta, benang.id – Melanjutkan wacana dari pameran tunggal sebelumnya di Museum Nasional Jogja (2023) dan Museum Tumurun (2024), lewat Hypnagogia | Tracing Time yang digelar di ara contemporary, 23 Mei – 27 Juni 2026, Albert Yonathan Setyawan– mengeksplorasi pertanyaan tentang eksistensi dalam ruang dan waktu dengan karya-karya terakota, gambar, dan video yang dibentuk oleh pengulangan, proses material, dan gestur meditatif.
Kualitas meditatif meresap dalam praktik seniman Indonesia berbasis di Tokyo, Jepang ini yang terlihat tidak hanya pada karya fisiknya sendiri, tetapi juga pada proses berulang dan padat karya yang dilaluinya.

Sejak 2018, Albert –yang mewakili Paviliun Indonesia di Venice Biennale pada tahun 2013 — secara eksklusif bekerja dengan terakota, material yang menurutnya terkait erat dengan akar budaya dan geografisnya. Telah lama dikaitkan dengan benda-benda rumah tangga dalam tradisi tembikar Indonesia, terakota membawa resonansi fisik dan historis dalam praktiknya.
Melalui tanah liat, Albert merenungkan pertanyaan filosofis seputar waktu, keberadaan, dan eksistensi. Inti dari pameran ini adalah keterlibatan Albert yang berkelanjutan dengan pengulangan melalui teknik pengecoran slip, sebuah teknik yang secara luas dikaitkan dengan produksi dan replikasi industri.

Namun, dalam praktiknya, pengulangan melampaui efisiensi dan reproduksi yang tepat. Sebaliknya, tindakan berulang secara bertahap mengubah bentuk itu sendiri, menelusuri ketegangan antara keabadian dan perubahan, ketelitian dan erosi, kehadiran dan penghilangan.
Eksplorasi ini diwujudkan dalam Annica, sebuah karya yang terdiri dari 310 keping terakota yang direplikasi melalui teknik pengecoran slip menggunakan satu cetakan. Karena setiap hasil coran secara bertahap kehilangan detail dan definisi melalui penggunaan berulang, karya ini merefleksikan transformasi, dan pada saat yang sama, menampilkan catatan waktu melalui kehadiran material. Annica menjadi pengamatan terhadap segala sesuatu yang berubah di sekitar kita.

“Pada Anicca saya mengecor dengan satu cetakan yang sama dan dilakukan berulang-ulang. Proses cetak mencetak ini membuat cetakannya lapuk karena terus menerus menyerap air. Lama -lama ketika dicetak sampai ttitik di atas 100 identitasnya ilang. Untuk karya yang lain biasanya saya bikin cetakan yang baru tapi khusus ini sepertinya menarik kalau cetakan yang sama saya gunakan terus sampai hancur bentuknya seperti apa. Itu konsepnya,” jelas Albert, seraya menambahkan untuk menyelesaikan Anicca ia perlu waktu 3-4 bulan.
Lewat karya Hypnagogia, Albert lebih jauh mengeksplorasi tema perubahan melalui komposisi modular yang berasal dari ruang arsitektur dan interior. Bentuk geometris yang berulang disusun menjadi susunan spasial yang terfragmentasi, terinspirasi oleh perkembangan pesat lanskap kota dari waktu ke waktu, yang akhirnya kehilangan koherensi.

Pameran ini juga menampilkan Squaring the Circle – Circling the Square, sebuah karya video tiga saluran yang mendokumentasikan upaya berulang Albert untuk mengubah kubus menjadi bola dan sebaliknya, dari bola menjadi kubus. Kegagalan yang berulang tersebut menyoroti runtuhnya sistem ideal ketika mengalami pengulangan, perluasan, dan waktu.
Dengan karya-karya ini, Hypnagogia | Tracing Time pada akhirnya merefleksikan hakikat eksistensi dalam menghadapi ketidakmungkinan untuk lepas dari waktu dan ruang.
Pola Kehidupan Sehari-hari

Tertarik dengan pengulangan—bagaimana kita membentuk pola dalam kehidupan sehari-hari—dan materialitas serta genealogi tanah liat dalam konteks budaya, Albert Yonathan Setyawan, 43, telah membangun praktik artistik dalam seni keramik kontemporer sekaligus menerjemahkan ide-ide konseptualnya ke dalam berbagai media seperti menggambar, instalasi multi-media, pertunjukan, dan dokumentasi video.
Dalam karya keramiknya, objek-objek yang digunakan untuk membentuk satu pola tertentu mungkin terlihat mirip dan identik satu sama lain. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, beberapa variasi dan perbedaan kecil dapat terlihat pada masing-masing karya sebagai hasil dari pembersihan dan pengukiran setiap objek secara individual dengan tangan setelah pengecoran. Albert Yonathan meneliti kualitas ‘meditatif’ yang dapat dicapai melalui pengulangan bentuk atau tindakan.

Albert mewakili Indonesia di Biennale Venesia ke-55 pada tahun 2013. Alumnus Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) 2007 yang menyelesaikan S2-nya di Kyoto Seika University, Jepang ini juga telah berpartisipasi dalam pameran kelompok besar seperti SUNSHOWER: Contemporary Art from Southeast Asia 1980s to Now di Mori Art Museum, Tokyo, Jepang (2017); dan Contemporary Worlds: Indonesia di National Gallery of Australia, ACT Canberra, Australia (2019).
Pameran solo terbarunya meliputi Transitory Nature of Earthly Joy, Tumurun Museum, Solo, Indonesia (2024); Capturing Silence, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia (2024); dan Speaking in Tongues, Mind Set Art Center, Taipei, Taiwan (2022).

Karya-karyanya terdapat dalam koleksi Galeri Nasional Australia; Museum Seni Mori, Jepang; Museum Seni Keramik Modern, Jepang; Museum OHD, Indonesia; Museum Seni Singapura, Singapura; Museum Tumurun, Indonesia, di antara lembaga-lembaga terkemuka lainnya. (*/GK)


