Probolinggo, benang.id – Dalam rangka promosi panggilan, dua suster Pertapa Karmelites dari Biara Rubiah Karmel, Batu, yakni Sr Maria Gerarda Suwarti OCarm dan Sr M Rosa Sukatmi Rahayu OCarm memperkenalkan Biara Karmelites ke Gereja St Paulus Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (30/5/2026).
“Kami memperkenalkan biara Karmelites yang sudah 64 tahun eksis di Keuskupan Malang namun belum banyak yang mengerti tentang kehidupan biara kami sebagai pertapa,” ujar Sr Maria Gerarda Suwarti OCarm, yang sudah hidup membiara 32 tahun.

Dalam kesempatan itu, Sr Maria Gerarda menceritakan keberadaan Biara Rubiah Karmel dari awal hingga saat ini dengan segala perjuangan hidup para biarawati sebagai seorang pendoa/pertapa.
Dikutip dari floscarmelibatu.org, Ordo Karmel mulai masuk di Indonesia pada Juli 1923, dan berkarya di wilayah Jawa Timur. Sejak itu Ordo Karmel terus berkembang. Untuk membantu memohonkan rahmat dalam tugas para romo, muncullah keinginan untuk mendirikan Ordo II Karmel (khusus untuk para biarawati kontemplatif) di Indonesia. Maka Rm Martinus Sarko Dipojudo OCarm, selaku Komisaris Jendral mengajukan permohonan kepada Msgr AEJ Albers OCarm untuk mendirikan Biara Rubiah Karmel.
“Jadi motivasi awalnya biara kami memang untuk mendoakan para imam gereja dan dunia, dan rasa keprihatinan atas sangat sedikitnya yang rela mengikuti panggilan sebagai pendoa,” tutur Sr Maria Gerarda.

Sr Maria Gerarda merasa bersyukur bahwa cinta Tuhan sungguh besar terhadap dirinya. “Dan, saya membalas cinta Tuhan dengan penyerahan hidup yang total,” imbuhnya.
Tidak jauh berbeda disampaikan oleh Sr M Rosa Sukatmi Rahayu OCarm. Ia juga mengutarakan keberadaan Biara Rubah Karmel dari awal sampai saat ini, termasuk aktivitas sehari-hari dan perjuangan hidup para biarawati.

“Saya juga menyampaikan motivasi awal masuk biara untuk bekerja di ladang Tuhan sebagai pendoa, dan berkembang sampai penyerahan diri dalam mensyukuri kasih Allah serta mencintai Allah dengan sepenuh jiwa dan raga,” tutur Sr M Rosa yang sudah hidup membiara selama 33 tahun ini.
Mengenai penerimaan umat St Paulus Kraksaan, kedua suster ini merasakan kesan yang sangat baik. Sr Maria Gerarda mengungkapkan bahwa umat sangat rukun- guyub, sikap persaudaraan dalam hidup menggereja sangat terasa. “Penerimaan umat terhadap saya sangat saya rasakan dan mereka pun tampak bahagia akan kedatangan saya,” jelasnya.

Senada Sr M Rosa mengatakan bahwa umat Kraksaan luar biasa. “Di sana ada Allah yang tampak melalui kasih persaudaraan yang nyata dengan menerima saya sebagai saudara. Mulai balita sampai yang dewasa,” ujarnya.
Atas kesempatan yang tak mungkin dilupakannya itu, Sr M Rosa mengucapkan terima kasih kepada Pastor Kepala Gereja St Paulus Kraksaan, Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr.
Mengalirkan denyut rahmat-rahmat Tuhan

Nah, selain sharing pengalaman, berdiskusi dan tanya jawab, kedua suster tersebut juga memutarkan video sekilas mengenai Biara Rubiah Karmel. Secara umum, video tersebut mengungkapkan bahwa pada dasarnya tugas dan hidup biarawati di Rubiah Karmel sehari-hari adalah berdoa.
Sr M Ignatia OCarm mengatakan bahwa para suster berada di Rubiah Karmel karena Tuhan. Karena itu para biarawati dipanggil untuk hidup dalam doa.
Meski berdoa adalah tugas utama pelayanan para suster Biara Rubiah Karmel, mereka juga melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti umumnya sebuah keluarga: menyapu, mengepel, memasak, menyeterika, merawat tanaman, hingga keterampilan wanita seperti menjahit.

“Kami juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sangat-sangat sederhana supaya kami seimbang antara doa dan bekerja,” jelas Sr M Rosa OCarm.

Sr M Theresia OCarm menambahkan bahwa melalui pekerjaan-pekerjaan sederhana yang dilakukan setiap hari tersebut para suster mewujudkan cinta kepada kehidupan dan juga sesama. “Bagi kami keheningan merupakan jalan untuk mencintai kehidupan dan sesama,” imbuhnya.

Tinggal dalam biara dan menjalani rutinitas hidup bersama orang yang itu-itu saja mungkin sulit bagi sebagian besar orang. Menanggapi hal itu, Sr M Angelina OCarm mengatakan, “Hidup bersama dengan para saudara yang sama terus menerus tidak terlalu mudah. Bila kami yang rapuh, lemah, banyak kekurangan ini masih mungkin hidup bersama dan mencintai ini semua karena Tuham”.

Sr M Brigitta OCarm menambahkan bahwa para biarawati sungguh-sungguh merasa bahwa dalam keterbatasan, baik pribadi maupun sarana yang ada, ”Tapi kami mampu memberikan diri, dan inilah kebahagiaan yang kami rasakan,” tandasnya.
“Bagaikan jantung bagi tubuh Kristus, kami ini tinggal tersembunyi untuk mengalirkan denyut rahmat-rahmat Tuhan bagi dunia,” ujar Sr M Ignatia OCarm, menutup tayangan video.
Silaturahmi ke Pondok Pesantren Nurul Jadid

Selain melakukan promosi panggilan kepada umat St Paulus Kraksaan, kedua suster tersebut didampingi Rm Fadjar juga melakukan silaturahmi ke Pondok Pesantren (PP) Nurul Jadid. Di Pesantren Nurul Jadid mereka disambut hangat oleh Pengasuh Ra Faiz.
Sr Maria Gerarda dan Sr M Rosa merasa sangat bersyukur dapat mengunjungi PP Nurul Jadid. “Sebuah pertemuan persaudaraan sebagai umat yang sangat menyenangkan. Loyalitas tinggi dan kerendahan hati terpancar dalam sikap hidup para anak didik, mereka memiliki etiket sangat tinggi yang diwujudkan dalam sikap menghormati,” ujar Sr Maria Gerarda.

“Saya bangga mempunyai saudara sebagai sesama warga Indonesia yang rukun, saling menerima dan saling menghormati. Sayang pertemuan kami berdua di sini sebentar saja. Sekali lagi terima kasih untuk Romo Fadjar atas kesempatan semua ini. Tuhan memberkati,” tutup Sr M Rosa. (*/GK)



