
Jakarta, benang.id – Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik, Stefanus Gusma menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila dengan butir-butir pedoman, penghayatan, dan pengamalannya harus menjadi navigasi AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan untuk menyebarkan nilai kehidupan saat ini dan masa depan,
Penegasan itu disampaikan Gusma saat memberikan sambutan pengantar dalam acara diskusi publik bertema “Navigasi Masa Depan: Bernegara Era AI dengan kompas Pancasila dan prinsip Magnifica Humanitas” di Jakarta, Jumat (5/6/2026) malam.
Hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional Sabrang Mowo Damar Panuluh, Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin, Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Kom HAK KWI) RD Aloysius Budi Purnomo, Aktifis Lingkungan Hidup, Ketua EcoCamp, RD Ferry Sutrisna Wijaya, dan Ketua Indonesia Artificial Intellegence Society (IAIS) Dr Lukas.
Simak diskusi lengkapnya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=BqSxn1TO6yM

Gusma menjelaskan bahwa Magnifica Humanitas merupakan ensiklik pertama yang diterbitkan oleh Paus Leo XIV, yang kurang lebih membahas “melestarikan martabat manusia saat ini”
Menurutnya, AI adalah sarana yang memudahkan kehidupan manusia, namun AI sebagai teknologi yang diciptakan manusia tidak boleh mengalahkan rasa kemanusiaan, tetapi harus tetap memanusiakan manusia.

“Nah, di sinilah Pancasila merupakan navigasi yang ideal untuk dijadikan panduan etik dalam pemanfaatan AI di berbagai lini kehidupan masyarakat,” ujar Gusma.
Gusma menegaskan kemajuan teknologi tidak boleh mengurangi semangat kemanusiaan, itu sebabnya perkembangan AI harus tetap diarahkan untuk agar mampu memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dan gotong royong.

Mengawali diskusi, Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional Sabrang Mowo Damar Panuluh mengatakan bahwa AI merupakan teknologi yang memiliki karakter berbeda jika dibandingkan dengan teknologi-teknologi sebelumnya.
“AI adalah teknologi yang nature-nya sama sekali berbeda dengan teknologi sebelumnya. Simbol kecerdasan AI membuat kita perlu berpikir ulang tentang apa itu entitas,” ujar Sabrang.
Sabrang mengingatkan teknologi AI akan menjadi sangat berbahaya jika ia berkembang tanpa kontrol. “Ketika AI menjadi sangat powerful untuk membuat keputusan, siapa yang mengontrol AI? Yang dikhawatirkan adalah ketika AI dikontrol oleh kapital. Kita tidak bisa membuat kapitalisme lebih besar dari Pancasila,” tandasnya.
“Negara harus prepare ini, bayangkan sebuah kekuatan yang arahnya bukan untuk kemanusiaan, bisa masuk kamar anak-anak kita dengan kepentingan untuk memperkaya yang punya atau lebih powerful dari pada yang lain, bukan untuk kemaslahatan bersama. Itulah yang bahaya,” jelas Sabrang.

Sebagai pembicara kedua, Anggota Komisi I DPR RI Nurul Arifin menyampaikan apresiasinya terhadap ensiklik Paus Leo XIV yang mengangkat isu kemanusiaan dalam perkembangan AI.
“Saya mengapresiasi Paus karena tidak banyak organisasi tingkat internasional yang merespons kekhawatiran manusia tentang AI yang semakin mendrive hidup kita. Kalau saya tidak mau dikontrol oleh AI,” ujarnya.
Nurul menekankan bahwa manusia tidak boleh dikontrol oleh AI. Karena manusia yang menciptakan AI, maka dialah yang harus menjadi operator dan melakukan kontrol. Bukan justru di-drive oleh AI.
Ia menegaskan bahwa kemajuan AI tidak boleh mengurangi semangat membangun kemanusiaan dan semangat gotong royong. “Kalau tidak dijaga betul-betul, ini bisa mendorong konflik sosial bahkan perang saudara,” jelasnya.

Selanjutnya Sekretaris Kom HAK KWI RD Aloysius Budi Purnomo mengatakan bahwa ada titik temu yang kuat antara Ensiklik Magnifica Humanitas dan Pancasila, yakni keduanya sama-sama berangkat dari nilai ketuhanan sebagai dasar kehidupan manusia.
“Kalau AI sudah men-drive kita, di sini bagaiman AI dikontrol oleh roh dan bukan oleh sembarang roh, tetapi roh Tuhan, roh kasih, roh damai sejahtera, roh persatuan, yang kemudian menghasilkan kemanusiaan yang agung yang dihargai,” jelas Romo Budi.
“Karena itu ensiklik ini Pancasila banget. Apalagi sumbernya adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Jadi titik temu antara ensiklik perdana Paus Leo dan Pancasila untuk negeri ini adalah semuanya berangkat dari nilai ketuhanan,” katanya.

Selanjutnya Aktivis Lingkungan Hidup, Ketua EcoCamp, RD Ferry Sutrisna Wijaya, mengatakan bahwa menurut Paus Leo dunia sedang menghadapi krisis akibat kepemimpinan yang tidak bertanggung jawab dan ketidaktahuan yang disengaja.
Romo Ferry mengingatkan bahwa Magnifia Humanitas bukanlah ensiklik tentang AI, tetapi soal martabat manusia di tengah-tengah era AI. “Apakah martabat manusia ini sungguh-sungguh kita jaga atau tidak, apapun agama kita,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua IAIS Dr Lukas berbicara soal AI dari sisi teknologi. Ia mengatakan bahwa AI tidak selalu bisa dipuja-puji, sebagai seuatu yang luhur dan luar biasa.
“Saya setuju dengan Paus Leo bahwa manusia punya dignity. Manusia lebih tinggi daripada AI. Jadi perlu kita renungkan apakah AI yang semakin besar nanti menjadi monster yang mengerikan dan kita tidak bisa apa-apa, saya kira tidak seperti itu,” ujarnya.
Dr Lukas kemudian mengajak kita untuk menjadikan AI sebagai asisten kita yang pintar, sebagai tools. “Kalau kita mampu melakukan itu berarti kita memilih untuk mengontrol AI, bukan AI yang membuat keputusan, tapi keputusan kita dibantu oleh AI. Mengerikan kalau kita memberi kewenangan pada AI untuk mengambil keputuusan,” jelasnya. (*/GK)


