Malang, benang.id – Perilaku anak sekolah dapat berubah akibat paparan digtal yang negatif. Hal ini perlu dicegah secara efektif dengan komunikasi yang empatik, kapasitas pendampingan yang kuat, dan keterlibatan lintas stakeholder.
Demikian disampaikan Ketua Umum Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur Agustinus Tedja GK Bawana, dalam presentasinya pada Seminar: “Sinergi Leadership dan Public Speaking dalam Pendampingan Remaja Era Digital”, di SMPK Kolese Santo Yusup 2 Malang, Jawa Timur, Senin (8/6/2026).
“Tindakan sederhana yang memanusiakan dan latihan berulang dapat mengurangi insiden serta memperbaiki kesejahteraan komunitas sekolah,” ujarTedja Bawana yang menyampaikan materi Pendampingan Remaja di hadapan sekitar 30-an Guru dan Tenaga Kependidikan.

Seminar yang juga menghadirkan Pakar Komunikasi dan Penulis Santi Djiwandono ini membahas strategi pencegahan dan penanganan risiko perilaku anak di lingkungan pendidikan yang dipicu oleh paparan digital, lemahnya kapasitas guru/Bimbingan Konseling (BK), dan kebutuhan kolaborasi lintas-stakeholder. Fokus pada peningkatan keterampilan komunikasi, kebijakan praktis sekolah, dan intervensi terpadu untuk menciptakan ruang aman bagi siswa.
Dalam paparannya, Tedja mengungkapkan data kasus dan tren lokal. Ia meyebutkan bahwa terjadi peningkatan kasus selama pandemi dengan contoh angka sekitar 1.200 kasus/tahun pada periode awal kepemimpinan dan catatan 218 kasus hingga pertengahan Januari dalam satu periode.
“Insiden dilaporkan di berbagai jenis lembaga meliputi negeri/swasta, pesantren, asrama, gereja, dengan jenis masalah mulai dari perilaku seksual bermasalah, penyebaran konten seksual, cyberbullying, krisis identitas remaja, penurunan fungsi motorik, kecanduan perangkat digital,” paparnya.
“Banyak kasus tidak tertangani penuh sehingga diperlukan peningkatan kapasitas respons dan pemetaan kasus,” imbuhnya.
Akar masalah utama

Lebih jauh, Tedja mengungkapkan sejumlah akar permasalahan utama terjadinya perubahan perilaku anak sekolah akibat paparan digital. Pertama, akses ke konten seksual dan penggunaan gadget tanpa pengawasan yang mempercepat risiko perilaku bermasalah.
Kedua, dampak pembelajaran jarak jauh yang membuka akses perangkat di rumah sehingga pengawasan sekolah berkurang.
Ketiga, menyangkut kapasitas manusia. Kelemahan pada guru dan layanan BK dalam membahas isu seksual dan mendampingi pembentukan karakter.
“Untuk itu, diperlukan intervensi preventif dan peningkatan pelatihan agar masalah ditangani lebih awal dan non-punitif. Sebab respons yang membangun kepercayaan seringkali lebih efektif daripada hukuman publik,” ujarnya.
Tedja menambahkan bahwa peran dan sikap guru sangat penting untuk mencegah anak didik terpapar hal negatif konten digital.

Peran yang diharapkan dari seorang guru menurutnya adalah pendamping karakter yang memberi komunikasi empatik, keteladanan, dan batas profesional (mis. aturan no-HP saat interaksi).
“Hindari menghakimi, gunakan sikap tegas namun merangkul; baca tanda perubahan perilaku dan telusuri akar masalah seperti keluarga, tekanan sosial, dan trauma,” jelasnya.
Sementara terkait batasan profesional, Tedja mengatakan bahwa sentuhan fisik dilakukan hanya jika sesuai konteks profesional dan niat baik.
Pengajaran seksualitas dan pendidikan sesuai usia

Dalam kesempatan itu, Tedja juga menyoroti perlunya pengajaran tentang seksualitas. Menurutnya, pengetahuan akan perbedaan jenis kelamin dan organ reproduksi harus diajarkan secara terbuka dan sesuai perkembangan usia.
“Yang penting hindari bahasa tabu, sediakan jalur komunikasi aman, dan tingkatkan keberanian BK untuk membahas topik ini secara bertanggung jawab,” katanya.
Selanjutnya dari sisi keluarga, Tedja menandaskan bahwa komunikasi dengan orang tua dan komunitas perlu digalakkan. Pertemuan parenting dan komunikasi berkala harus dilakukan secara rutin tanpa mengungkap identitas siswa secara menghakimi.
“Sekolah juga perlu melakukan pemetaan orang tua. Identifikasi kapasitas dan kebutuhan orang tua untuk menentukan intervensi yang tepat,” ucapnya.
Di sini, lanjut Tedja, sekolah menghadapi tantangan sikap defensif orang tua. “Hadapi dengan pendekatan kolaboratif, penggunaan bahasa inklusif, dan contoh konkret,” imbuhnya.

Secara umum, Tedja dalam presentasinya mencoba meluruskan pola pikir pendekatan terhadap siswa yang banyak harus diubah. Ia merasa senang, karena akhirnya para guru berani bercerita apa yang menjadi ketidakpahaman mereka.
“Saya mengarahkan pola komunikasi keterbukaan yang relevan di era sekarang dengan keterbukaan komunikasi yang tidak perlu ragu dan berbohong seolah semua baik-baik saja,” ujarnya.
Melengkapi paparan Tedja, Santi Djiwandono yang menyampaikan materi Leadership & Public Speaking, memberikan pemahaman bagaimana guru harus mampu menguasai communication intelegent.
“Persoalan terkait perubahan perilaku anak yang jauh dari atitude dan minim penghargaan atas diri harus dilihat tingkat urgency-nya adalah skala prioritas utama. Bukan sisi cognitive-nya saja,” jelasnya. (*/GK)



