Imagine Jakarta: Kampung Kota dan Kekuatan yang Sering Tidak Terlihat (3)

0
Diskusi Imagine Jakarta: Membayangkan Kota Masa Depan yang digelar Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara (IKAD) bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta bertema "Menagih Jakarta yang Ramah sebagai Hak Warga atas Ruang Publik", Jumat (9/10/2026). Foto: IKAD

Jakarta, benang.id — Jika pembicaraan tentang ruang publik terlalu berpusat pada taman baru, bangunan monumental, atau proyek infrastruktur, ada satu hal yang berisiko terabaikan: warga sebenarnya telah menciptakan ruang bersama melalui kehidupan sehari-hari.
Pendiri Kolektif Ruang Rupa Gudskul Ekosistem Ade Darmawan mengajak peserta diskusi melihat Jakarta melalui pengalaman kampung. Menurutnya, imajinasi tentang kehidupan kota tidak bisa dilepaskan dari pengalaman masyarakat yang datang dari berbagai daerah dan membawa cara hidup, kebiasaan, serta hubungan sosial mereka masing-masing.

Jakarta tumbuh melalui percampuran beragam pengalaman tersebut. Karena itu, kota ini tidak harus selalu dibayangkan mengikuti model kota lain yang mempunyai sejarah dan karakter berbeda. Ade mencontohkan ruang tamu di rumah keluarganya yang tidak hanya digunakan oleh anggota keluarga inti. Kerabat yang datang ke Jakarta untuk sekolah atau mencari pekerjaan juga dapat tinggal dan berkumpul di sana.

Ruang yang secara fisik bersifat privat itu, dalam pengalaman tersebut, menjalankan fungsi yang lebih luas. Ia menjadi tempat peralihan, pertemuan, dan dukungan sosial bagi orang-orang yang sedang membangun kehidupan di kota.

Hal serupa dapat terjadi di lapangan olahraga lingkungan yang digunakan untuk beragam kegiatan. Pagi hari, lapangan dapat menjadi tempat warga beraktivitas. Pada waktu lain, tempat yang sama bisa dipakai untuk pertemuan atau acara keluarga. Contoh-contoh itu menunjukkan bahwa ruang bersama tidak selalu harus hadir dalam bentuk bangunan khusus. Ruang dapat tumbuh dari kebutuhan, kebiasaan, dan kemampuan warga mengelola tempat yang sudah tersedia.

Ade menekankan pentingnya daya kelola masyarakat. Menurutnya, yang perlu diperhatikan bukan hanya akses terhadap fasilitas atau keberadaan infrastruktur, melainkan kemampuan warga untuk mengelola ruang bersama secara berkelanjutan.

Pandangan tersebut mengubah pertanyaan tentang pembangunan kota. Pemerintah tidak cukup hanya menyediakan tempat lalu menganggap persoalan selesai. Perlu ada perhatian terhadap siapa yang mengelola, kegiatan apa yang berlangsung, bagaimana warga dapat ikut menentukan penggunaan ruang, dan bagaimana kehidupan sosial di dalamnya dapat bertahan.

Ade juga mengkritik penggunaan istilah seperti creative hub dan placemaking apabila hanya menjadi bahasa promosi tanpa dukungan kegiatan, empati, solidaritas, serta orang-orang yang mampu menghidupkan tempat tersebut.

Bangunan dan fasilitas merupakan unsur penting, tetapi bukan keseluruhan jawabannya. Tanpa program, jejaring sosial, dan pengelolaan yang konsisten, sebuah ruang berisiko menjadi fasilitas yang tersedia secara fisik tetapi tidak berkembang menjadi pusat kehidupan bersama.

Dalam pandangan Ade, warga perlu dipandang sebagai pelaku yang mempunyai kemampuan menciptakan perubahan, bukan semata-mata penerima fasilitas yang disediakan pemerintah atau pasar.

Ini bukan berarti tanggung jawab pemerintah dapat dialihkan begitu saja kepada masyarakat. Justru, pemerintah perlu mengenali dan mendukung inisiatif warga yang sudah ada, sembari memastikan bahwa ruang publik tetap tersedia dan dapat diakses oleh kelompok yang berbeda.

Tidak Semua Ruang Harus Sempurna untuk Menjadi Hidup

Diskusi Imagine Jakarta: Membayangkan Kota Masa Depan yang digelar Ikatan Keluarga Alumni Driyarkara (IKAD) bekerjasama dengan Pemprov DKI Jakarta bertema “Menagih Jakarta yang Ramah sebagai Hak Warga atas Ruang Publik”, Jumat (9/10/2026). Foto: IKAD

Kepala Bidang Pemanfaatan Ruang Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan Pemprov Jakarta Ferdinand Ginting, mengingatkan bahwa perencanaan ruang publik perlu memperhatikan kebutuhan nyata penggunanya. Ruang yang tertata rapi belum tentu menjawab seluruh kebutuhan masyarakat.

Ia menyoroti pentingnya koordinasi antarlembaga dalam perencanaan dan pengelolaan ruang. Ketika tanggung jawab terbagi-bagi tanpa koordinasi yang memadai, unsur-unsur yang diperlukan agar ruang publik berfungsi dapat berjalan sendiri-sendiri.
Taman, misalnya, bukan hanya soal desain fisik. Ruang tersebut juga berkaitan dengan akses, keamanan, pemeliharaan, dan kebutuhan orang-orang yang menggunakannya.

Ferdinand juga menekankan bahwa ruang publik tidak harus selalu dirancang dengan bentuk yang seragam. Kebutuhan masyarakat di satu lingkungan dapat berbeda dari lingkungan lain. Karena itu, perencanaan perlu memberi tempat bagi pengetahuan warga dan kondisi setempat.
Gagasan ini sejalan dengan pandangan Ade mengenai daya kelola komunitas. Ruang publik yang hidup membutuhkan kombinasi antara dukungan infrastruktur, perencanaan yang sesuai kebutuhan, dan keterlibatan warga dalam menentukan bagaimana tempat tersebut digunakan.

Cania Citta menambahkan dimensi lain: ruang publik sebaiknya tidak terlalu kaku sehingga warga hanya datang sebagai pengunjung. Masyarakat perlu memiliki kesempatan untuk ikut membentuk, menggunakan, dan memberi makna pada ruang tersebut.

Baginya, ruang yang sepenuhnya ditentukan oleh aturan desain dapat kehilangan keluwesan yang dibutuhkan untuk kegiatan kreatif dan perjumpaan spontan. Ruang yang bersih dan terawat tetap penting, tetapi keteraturan fisik tidak semestinya menghapus kemungkinan warga berekspresi.

Perspektif ini mengingatkan bahwa ruang publik bukan produk jadi yang cukup diresmikan. Ia merupakan proses sosial yang terus berlangsung.

Warga perlu mempunyai kesempatan untuk mencoba, mengusulkan kegiatan, membangun kebiasaan, dan mengubah penggunaan ruang sesuai kebutuhan bersama, selama tetap memperhatikan keselamatan dan hak orang lain. Dengan cara itu, ruang publik dapat berkembang sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar fasilitas yang dinikmati sesekali. (bersambung */GK)

Baca juga: https://benang.id/imagine-jakarta-menyediakan-ruang-sekaligus-buka-akses-jadi-tantangan-4/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here