
Jakarta, benang.id — Tokoh lintas agama dijadwalkan menghadiri peluncuran dan bedah buku karangan Pastor Katolik. Mereka adalah pemuka agama Islam yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Marsudi Syuhud MM, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt Darwin Darmawan, dan Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Pdt Dr Victor Tinambunan MST.
Terkonfirmasi juga Menteri Kehutanan Jumhur Hidayat, Menteri Negara Lingkungan Hidup tahun 2004–2009 Alexander Sonny Keraf, pemuka agama Hindu, Ketua Yayasan JPIC Pastor Moses Situmorang OFMCap, serta tamu undangan lainnya.
Acara peluncuran dan bedah buku berjudul “Perjuangan Sang Musafir” dilaksanakan oleh Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara (IKKSU) bersama KPKC Kapusin Medan di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, Sabtu (17/10/2026) pukul 08.00–13.00 WIB. Buku ini ditulis dua Pastor dari ordo OFM Kapusin, yaitu Pastor Walden Sitanggang OFMCap dan Pastor Supriyadi Pardosi OFMCap.
Buku “Perjuangan Sang Musafir” menghimpun refleksi, pemikiran, dan kritik para pemerhati lingkungan, serta sejumlah pastor dan bruder Katolik yang tergabung dalam JPIC Kapusin Medan. Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) atau Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC) Ordo Saudara Dina Kapusin Provinsi Medan adalah lembaga pelayanan advokasi milik Ordo Kapusin Provinsi Medan yang fokus pada isu-isu sosial, hak asasi manusia (HAM), dan kelestarian lingkungan. Buku ini mengajak pembaca meninjau kembali hubungan manusia dengan alam di tengah meningkatnya bencana ekologis di berbagai wilayah Indonesia.
Bedah buku yang akan dipandu oleh moderator sekaligus presenter berpengalaman Prisca Niken ini juga menghadirkan Romo Agustinus Heri Wibowo, Maria Ratnaningsih, dan Romo Simon Petrus Lili Tjahyadi. Acara ini akan diikuti oleh jaringan kerja perjuangan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) atau disebut Gusdurian, kalangan cendekiawan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI), akademisi dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta, Pengurus Pusat Muhammadiyah, serta aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WaLHI).
Kepedulian terhadap krisis ekologis dan masa depan bumi menjadi pesan utama dalam peluncuran dan bedah buku Perjuangan Sang Musafir: Refleksi, Kepedulian, dan Gerakan Merawat Rumah Bersama yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Katolik Sumatera Utara (IKKSU) Jabodetabek bersama jaringan Kapusin Medan dan Yayasan Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (JPIC).
Buku ini mengangkat refleksi tentang hubungan manusia dengan alam melalui inspirasi spiritualitas ekologis Santo Fransiskus dari Assisi. Pesan utamanya adalah bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Kegiatan ini menjadi momen perjumpaan bagi tokoh agama, akademisi, aktivis lingkungan, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan masyarakat umum untuk membahas krisis ekologis sekaligus mendorong lahirnya komitmen nyata dalam pelestarian lingkungan.
Wakil Ketua Umum MUI KH Marsudi Syuhud mengatakan sangat penting adanya tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan. “Merawat lingkungan bukan hanya persoalan menjaga alam, tetapi juga tanggung jawab moral dan kemanusiaan,” ujar Marsudi Syuhud.
Kerusakan lingkungan, kata Marsudi Syuhud, berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, sehingga diperlukan kesadaran dan kerja sama seluruh elemen bangsa. “Perbedaan agama dan latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bersama-sama menjaga bumi dan memastikan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” katanya.
Ketua Umum IKKSU Jabodetabek Lodewiyck Sihite menyebut peluncuran buku ini bukan semata kegiatan literasi, melainkan menjadi awal dari gerakan bersama yang berkelanjutan.
“Melalui buku Perjuangan Sang Musafir, kami ingin mengajak masyarakat melihat kembali hubungan manusia dengan alam dan menyadari bahwa merawat bumi merupakan tanggung jawab bersama. Buku ini menjadi ruang refleksi sekaligus ajakan untuk bertindak. Kepedulian harus diwujudkan melalui langkah nyata, kolaborasi, dan komitmen yang terus dijaga, bukan berhenti pada wacana,” ujar Lodewiyck yang juga merupakan penggagas acara peluncuran dan bedah buku.
Lodewiyck menjelaskan, meningkatnya frekuensi bencana ekologis—seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, krisis air, dan kerusakan lingkungan—menunjukkan pentingnya perubahan cara pandang serta perilaku manusia terhadap alam.
Sebagai pengingat, bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 25 November 2025 mengakibatkan dampak luar biasa besar. Berdasarkan pemutakhiran data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 12 Januari 2026, total korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tercatat sebanyak 1.189 jiwa. Korban hilang 141 orang, dan warga mengungsi 195.542 jiwa. Kerusakan bangunan pun sangat masif.
Karena itu, Lodewiyck Sihite berharap, diskusi dari penulis, penanggap, dan peserta dalam bedah buku ini diarahkan untuk mempertemukan gagasan, pengalaman, dan perspektif berbagai pihak dalam membangun kesadaran ekologis.
Buku “Perjuangan Sang Musafir” mengambil inspirasi dari Santo Fransiskus dari Assisi, yang dikenal memiliki kedekatan spiritual dengan seluruh ciptaan. Spiritualitas tersebut mengajak manusia membangun relasi yang lebih bersahabat, bertanggung jawab, dan penuh penghormatan terhadap alam. Komitmen pelestarian lingkungan juga diarahkan pada tindakan konkret, termasuk rencana kegiatan reforestasi di Dolok Parmanongan dan Sihaporas. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga hutan, sumber air, tanah, dan ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.
Melalui peluncuran dan bedah buku ini, penyelenggara berharap terbentuk jejaring kolaborasi lintas agama, komunitas, akademisi, aktivis, dan dunia usaha untuk memperkuat gerakan kepedulian lingkungan. Pesan yang ingin ditegaskan sederhana: merawat bumi bukan tanggung jawab satu kelompok saja, melainkan tanggung jawab bersama. Sebagaimana semangat yang diusung dalam buku tersebut, merawat rumah bersama berarti menjaga bumi sebagai tempat kehidupan berlangsung sekaligus warisan bagi generasi mendatang. (*/GK)

