Ketum BPP Hipmi Ade Jona Apresiasi Capaian Ekonomi dan Investasi Nasional

0
Ade Jona di DPR

Jakarta, benang.id –Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) menyampaikan apresiasi terhadap berbagai capaian pembangunan ekonomi selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Ketua Umum BPP Hipmi Ade Jona Prasetyo menilai sejumlah indikator ekonomi, khususnya pertumbuhan investasi, penguatan hilirisasi, pemerataan pembangunan, dan perluasan kesempatan kerja, menunjukkan perkembangan positif yang perlu terus dijaga dan ditingkatkan.

Menurutnya, dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi perekonomian nasional sekaligus mendorong Indonesia menjadi negara yang semakin mandiri, produktif, dan berdaya saing.

“Kami melihat berbagai perkembangan positif dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran, terutama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, mendorong investasi, serta memperkuat agenda hilirisasi nasional. Bagi dunia usaha, ini menjadi modal penting untuk terus membangun optimisme dan memperluas kegiatan ekonomi,” ujar Ade Jona, dalam keterangannya, Selasa, 20 Oktober 2026.

Salah satu capaian yang mendapat perhatian BPP Hipmi adalah realisasi investasi nasional selama periode Oktober 2024 hingga September 2026 yang mencapai Rp3.923,2 triliun.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi tersebut disertai penyerapan tenaga kerja sebanyak 5.485.944 orang. Dari sisi persebaran wilayah, investasi di luar Jawa mencapai Rp2.031 triliun atau 51,8 persen dari total investasi nasional.

Ade Jona menilai capaian tersebut menunjukkan pentingnya keberlanjutan kebijakan yang mampu menjaga minat investor sekaligus memperluas pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

“Investasi yang terus masuk merupakan salah satu indikator penting kepercayaan dunia usaha terhadap prospek Indonesia. Yang juga patut kita apresiasi adalah semakin besarnya porsi investasi di luar Jawa. Artinya, peluang pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat bisnis yang sudah berkembang, tetapi juga semakin terbuka di berbagai daerah,” katanya.

Selain investasi, Ade Jona turut menyoroti kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat sebesar 5,11 persen sepanjang 2025. Sementara pada triwulan II 2026, perekonomian nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan, dengan pertumbuhan semester pertama 2026 mencapai 5,45 persen.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi landasan bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk terus memperkuat konsumsi domestik, produktivitas industri, perdagangan, dan investasi produktif.

Ade Jona juga mengapresiasi konsistensi pemerintah dalam mendorong hilirisasi sumber daya alam agar Indonesia tidak hanya mengandalkan ekspor komoditas mentah, tetapi mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Sepanjang Januari hingga September 2026, realisasi investasi hilirisasi tercatat mencapai sekitar Rp480 triliun. Perkembangan tersebut menunjukkan besarnya peran pengolahan sumber daya alam dalam menarik investasi dan memperkuat struktur industri nasional.

“Kami mendukung arah kebijakan pemerintah yang menempatkan hilirisasi sebagai salah satu prioritas pembangunan ekonomi. Indonesia harus semakin mampu mengolah sumber daya yang dimiliki menjadi produk bernilai tambah. Dengan begitu, manfaat ekonomi yang tercipta dapat semakin luas, baik bagi industri, pengusaha nasional, maupun tenaga kerja Indonesia,” jelasnya.

Ketum Hipmi Ade Jona Prasetyo menghadiri jamuan santap siang kenegaraan yang diselenggarakan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Di sisi kesejahteraan masyarakat, Ade Jona juga mencermati perkembangan tingkat kemiskinan yang turun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026, dengan jumlah penduduk miskin sekitar 22,93 juta orang.

Menurutnya, upaya pemerintah memperkuat perlindungan sosial, ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat perlu terus disinergikan dengan pengembangan kewirausahaan agar peningkatan kesejahteraan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Ade Jona menilai berbagai program pemerintah yang menyentuh masyarakat, termasuk penguatan ekonomi desa, koperasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), memiliki potensi besar untuk memperluas aktivitas ekonomi produktif.

“Pembangunan ekonomi harus memberikan kesempatan kepada semakin banyak masyarakat untuk tumbuh dan mandiri. Karena itu, kami memandang penguatan ekonomi desa, UMKM, dan kewirausahaan sebagai bagian penting dari agenda pembangunan nasional. Semakin banyak masyarakat yang mampu berusaha dan menciptakan pekerjaan, semakin kuat pula fondasi ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Meski mengapresiasi berbagai capaian tersebut, Ade Jona menegaskan bahwa masih terdapat ruang perbaikan yang perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam memastikan investasi besar memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengusaha nasional.

BPP Hipmi berharap pemerintah terus mempercepat penyederhanaan perizinan, menjaga kepastian regulasi, memperluas akses pembiayaan produktif, serta meningkatkan keterlibatan pengusaha lokal dalam rantai pasok industri dan proyek-proyek investasi.

Menurut Ade Jona, penguatan investasi juga perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas tenaga kerja, efisiensi biaya logistik, serta dukungan terhadap industri padat karya agar pertumbuhan ekonomi semakin banyak membuka kesempatan kerja.

“Tentu masih ada hal-hal yang perlu terus kita benahi bersama. Kami berharap ke depan kemudahan berusaha semakin dirasakan, akses pembiayaan bagi pengusaha muda dan UMKM semakin luas, serta investasi besar dapat melibatkan lebih banyak pelaku usaha nasional. Ini bukan hanya soal berapa besar investasi yang masuk, tetapi seberapa luas manfaatnya bagi masyarakat,” tegas Ade Jona.

Ia menambahkan bahwa dunia usaha membutuhkan kebijakan yang konsisten dan komunikasi yang terbuka agar para pengusaha memiliki kepastian dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang.

BPP Hipmi, lanjutnya, siap terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sektor riil, mendorong investasi, meningkatkan daya saing industri, dan memperluas kesempatan berusaha bagi generasi muda.

Ade Jona optimistis, dengan sinergi yang semakin kuat antara pemerintah dan dunia usaha, Indonesia memiliki peluang untuk menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.

“Dua tahun ini menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun Indonesia yang lebih kuat. Kami mengapresiasi berbagai capaian yang sudah diraih pemerintah, dan tentu masih banyak pekerjaan yang harus kita tuntaskan bersama. Hipmi siap terus mendukung langkah pemerintah, menghadirkan investasi produktif, melahirkan pengusaha-pengusaha baru, serta membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Karena pada akhirnya, kemajuan ekonomi harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Ade Jona Prasetyo. (*/GK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here